Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
61. Mengantar Pulang


__ADS_3

Seiring dengan pekerjaannya sebagai pengacara, Yudha terus bekerja dengan profesional. Dia menghubungi Kania yang akan meminta Nathalie menemuinya. Namun, Kania bilang belum bisa. Dan pada akhirnya Kania yang datang ke kantor Yudha.


Mau tidak mau, kini Yudha yang sering bicara dan berdiskusi dengan kasus Nathalie. Kasus itu adalah kasus pemerasan dari penggemarnya yang selalu saja membuntuti Nathalie ketika dia sedang fashion show atau sedang bersantai di rumahnya.


Penggemar itu memeras Nathalie dengan mengancam akan menyebarkan foto-fotonya ketika bersama dengan kekasihnya di mana pun berada. Sedangkan Nathalie tidak mau kekasihnya di ekspos oleh media lain.


"Jadi, peneror itu adalah penggemar nona Nathalie sendiri?" tanya Yudha pada Kania.


"Iya pak Yudha, dia bahkan mempunyai video ketika nona Nathalie sedang ada di hotel dengan kekasihnya. Sampai dia tahu nomor kamar hotel dan juga tahu semua yang terjadi di dalam hotel itu." kata Kania lagi.


"Emm, jadi dia adalah penggemar yang kecewa ketika nona Nathalie punya seorang kekasih." kata Yudha lagi.


"Mungkin juga." kata Kania.


Yudha tampak berpikir, seharusnya bukan lari kepadanya. Tapi ke polisi, kenapa Kania membawanya ke kantor pengacara. Yudha bahkan bingung untuk menangani kasus itu, apa yang mau di jerat dengan hukum? Sedangkan kasus itu hanya bukti pengancaman saja pada Nathalie belum ada tindakan yang berarti.


"Emm, nona Kania. Ini sebenarnya bisa di laporkan pada kepolisian. Kalau nona Nathalie di ancam oleh penggemarnya sendiri, bukan ke kantor pengacara." kata Yudha.


"Ya, tapi nona Nathalie memintanya ke kantor anda pak Yudha." kata Kania lagi.


"Begitu ya. Tapi baiklah, saya akan tangani ini. Bisa nona Kania membuat jadwal pertemuan saya dengan nona Nathalie?" tanya Yudha.


"Kebetulan nona Nathalie besok libur, mungkin besok bisa atur jadwal pertemuan dengannya pak Yudha." kata Kania.


"Ya, bisa besok atur jadwal di jam makan siang. Nanti saya kirim alamatnya ke nomor nona Kania." kata Yudha.


"Ya, bisa. Karena besok nona Nathalie libur seharian. Saya akan kasih tahu dia, kalau pak Yudha minta bertemu." ucap Kania lagi.


"Ya, baiklah. Apakah ada yang di tanyakan lagi?" tanya Yudha.


"Tidak pak Yudha, kurasa cukup. Tinggal nanti saya tunggu pesan anda besok."


"Ya."


"Baiklah, saya permisi dulu pak Yudha. Ini sudah sore, jadi saya harus segera pulang." kata Kania.


"Pulang? Apa nona Nathalie tidak memanggil anda juga? Emm, maksudnya jam kerja nona Kania selesai di sore hari." kata Yudha merasa heran.


"Hahah! Bukan pulang ke rumah saya sebenarnya, tapi ke rumah nona Nathalie. Ya, sekarang nona Nathalie sedang bersama dengan kekasihnya. Jadi waktu saya senggang dan bisa datang ke kantor anda." kata Kania.


Mereka pun melangkah kekuar ruang kantor Yudha, dia mengantar Kania sampai di depan lift. Senyum Yudha mengembang ketika Kania tersenyum padanya. Dia senang juga bisa berbicara dengan Kania, karena selain orangnya bisa bercanda dalam bicaranya.


Yudha kembali masuk ke dalam ruang kantornya, dia melihat pesan singkat dari sahabatnya Jho. Katanya malam ini akan berkumpul seperti biasanya, Yudha tersenyum. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya lalu segera keluar dari kantornya.

__ADS_1


_


Yudha sudah bersiap untuk pergi ke kafe di mana sahabat-sahabatnya itu berkumpul di sana. Dia melajukan mobilnya dengan santai, tidak terburu-buru karena hanya baru David dan Jho yang datang. Jadi dia telat juga tidak masalah, dan Nathan sudah pasti pulang dulu ke rumahnya. Mungkin meminta jatah lebih dulu pada istrinya.


Mata Yudha melihat sisi kanan kiri jalan, dia melihat ada mobil terparkir di pinggir jalan dan seorang perempuan sedang menelepon seseorang. Dari bajunya yang perempuan itu pakai, Yudha mengenalnya. Karena baru tadi sore dia bertemu.


"Itu Kania?" gumam Yudha.


Dia pun menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Kania. Yudha turun, dia mendekat dan berdiri di belakang Kania yang sedang menelepon dengan khawtir. Sempat terdengar percakapan Kania dengan seseorang di sana.


"Maaf nona, mobilnya mogok. Jadi saya pulang agak malam, mungkin agak malam karena di bawa ke bengkel dulu." kata Kania merasa cemas.


"Bagaimana bisa mogok?! Kamu tidak merawatnya, hah?!"


"Tidak nona, saya selalu merawatnya. Tapi memang mobilnya harus di servis, sudah tiga bulan belum di servis." kata Kania.


"Halah! Cepat kamu hubungi bengkel, dan jangan pulang jika belum selesai!"


"Baik nona."


Klik!


Kania menghela nafas panjang, dia menatap kosong ke depan. Bagaimana bisa mobilnya di bawa ke bengkel, sedangkan dia belum dapat gajian hari ini. Kania terdiam, Yudha mendengar percakapan Kania dengan seseorang sepertinya Nathalie. Sang model itu.


"Eh, pak Yudha ada di sini?" tanya Kania terkejut.


"Ya, apa anda perlu bantuan?" tanya Yudha dengan sopan.


"Emm, mobilnya mogok. Mau saya bawa ke bengkel tapi tidak tahu harus bagaimana." kata Kania tersenyum kaku.


"Saya panggilkan tukang bengkel kemari ya, dan nona Kania bisa saya antar pulang." kata Yudha menawarkan bantuan.


"Oh, tapi bisa jadi kapan mobilnya?" tanya Kania.


"Mungkin besok, nanti saya kasih alamatnya saja rumah yang mau di kirim mobilnya." kata Yudha.


Kania terdiam, dia bingung karena di telepon tadi dia tidak boleh pulang sebelum mobil selesai di servis. Bagaimana dia memberi alasan padanya?


"Nona Kania? Bagaimana?"


"Oh ya, boleh pak Yudha. Maaf saya merepotkan anda." kata Kania.


"Tidak masalah, kita bisa saling bantu kan sesama manusia. Heheh."

__ADS_1


"Oh ya, pak Yudha benar. Heheh."


Yudha lalu menelepon pihak bengkel resmi langganannya itu untuk mengambil mobil yang mogok di jalan. Setelah selesai, dia mengajak Kania masuk ke dalam mobil dan mengantarkannya pulang.


"Saya antar nona kemana?" tanya Yudha.


"Ke rumah nona Nathalie, pak Yudha." jawab Kania.


"Anda tinggal di rumah nona model itu?" tanya Yudha.


Karena tadi secara tidak sengaja dia mendengarkan Kania seperti cemas dan ketakutan.


"Ya pak Yudha, nanti saya di tanyakan kemana saya pergi jika tidak pulang. Nona Nathalie memang sangat khawatir dengan saya." kata Kania dengan senyumnya, Yudha menatap Kania.


"Baiklah. Di mana rumahnya?"


"Di kawasan komplek permai." jawab Kania.


"Waah, kawasan elit ya."


"Ya, nona Nathalie kan model. Dia juga sangat memperhatikan apa yang jadi miliknya, tidak mau sebarangan. Karena kawasan itu sangat aman, jadi memilih tinggal di sana." jawab Kania.


Mobil Yudha berbelok menuju kompleks perumahan elit Permai. Yang memang di jaga ketat keamanannya, penjaganya saja selalu keliling di setiap gang kompleks. Jadi wajar jika tempat itu tempat mewah dan keadaan lingkungannya aman dan damai.


Setelah melapor pada satpam penjaga, mobil Yudha bisa masuk ke kawasan kompleks. Karena satpam itu kenal Kania, jadi mobil Yudha bisa masuk tanpa banyak interogasi.


"Nomor berapa rumahnya?" tanya Yudha.


"Lima, itu sebentar lagi sampai."


Yudha memelankan mobilnya, Kania meminta menghentikan mobilnya agak jauh. Dia tidak mau mobil Yudha berhenti di depan pintu pagar rumah Nathalie.


"Di sini saja pak Yudha, terima kasih telah mengantar saya." kata Kania.


"Ya nona Kania. Oh ya, jangan lupa besok jadwap nona Nathalie bertemu dengan saya di restoran seperti dulu ya." pesan Yudha.


"Ya pak Yudha, saya akan beritahu nona Nathalie."


Kania turun dari mobip Yudha, dia segera masuk ke dalam rumah berpagar hanya sebatas leher. Mobil Yudha melewati rumah Nathalie itu, dia sempat melihat Kania sedang berdiri di depan perempuan yang sedang berkacak pinggang dan seperti di marahi olehnya. Yudha menggeleng, dia pun melajukan mobilnya untuk segera menemui sahabat-sahabatnya di kafe seperti biasanya.


_


_

__ADS_1


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2