
"Lepaskan dia!"
Teriakan David membuat semuanya terkejut, terutama Lea. Dia tersenyum melihat David datang untuk menyelamatkannya. David mendekat dan menarik tangan Lea dan mendorong kedua bodyguard juragan Epul.
"Om, syukurlah om David datang. Aku takut mereka membawaku ke rumah juragan Epul itu." kata Lea sedikit terisak.
David memeluk Lea, matanya menatap tajam pada laki-laki yang berkumis dan berkepala botak separuh itu. Bu Marni melihat Lea begitu dekat dengan majikannya.
Sedangkan Jani dan istrinya terkejut, siapa laki-laki yang memeluk Lea itu. Menatap tajam pada dua bodyguard dan juragan Epul.
"Siapa kamu?!" tanya Jani pada David.
"Siapa saya tidak perlu kamu tahu, kamu siapa?" tanya David balik tanya.
Jani geram, dia maju mendekat pada David. ingin memukul David karena marah telah menyelamatkan Lea. Istri Jani yang bahenol itu justru senyum-senyum pada David, seperti menggoda David dengan senyumannya itu.
"Kamu tidak berhak atas anak gadisku itu. Lepaskan dia!" teriak Jani pada David.
"Ooh, jadi kamu ayah tiri tidak tahu diri ya?!" ucap David.
"Jani, biar anak buahku saja yang meladeni dia. Dia harus di beri pelajaran rupanya. Hei, bodyguard! Hajar dia!" kata juragan Epul pada dua bidyguardnya.
"Baik juragan!"
Dua bodyguard itu maju hendak menghajar David, Lea menarik David agar tidak meladeni dua bodyguard yang berbadan besar itu.
"Jangan ladeni om, mereka badannya besar banget. Nanti wajah ganteng om bonyok lagi di pukul mereka." kata Lea, membuat David tersenyum.
"Jangan khawatir, aku bisa menghadapi mereka. Kamu sama bu Marni saja, dan menjauh. Bu, bawa Lea menjauh." kata David mengusap kepala Lea.
"Baik pak David."
Bu Marni menarik tangan Lea untuk menjauh, David sendiri menggulung lengan bajunya. Bersiap menghadapi dua bodyguard yang terlihat besar tapi tubuhnya lembek. Itu artinya dua bodyguard itu tidak pernah olah raga.
"Hajar dia, jangan sampai wajahnya yang mulus itu tetap mulus!" kata juragan Epul.
"Baik juragan."
"Eh, jangan. Nanti lecet lagi, kan sayang wajahnya ganteng jadi babak belur." itu kata istrinya Jani.
"Mesi, apa-apaan sih bela dia?!" kata Jani membentak istrinya bernama Mesi.
"Ish, dari pada kamu dekil kumel. Mending dia ganteng, kaya lagi kelihatannya." kata Mesi lagi.
__ADS_1
"Siapa yang mau sama kamu?!" kata Lea dari jauh.
"Eh, anak ingusan. Diam kamu!"
"Om David hati-hati!" teriak Lea.
"Haish! Kenapa jadi ada drama begini, hei Joni, Juni! Cepat hajar dia! Jangan dengarkan ucapan si Mesi itu!" teriak juragan Epul.
Kedua bodyguard itu pun langsung maju pada David, bersiap menyerang David yang sejak tadi sudah siap untuk berkelahi dengaj bodyguard itu.
"Hiaaat!" serangan dua bodyguard langsung.
David menghindar kesamping, lalu dia memukupl punggung bodyguard satunya, lalu menendang satunya lagi. Kedua bodyguard itu pun tersungkur mencium tanah. Membuat juragan Epul kaget, kenapa dua bodyguardnya malah kalah sama David yang menolong Lea.
"Hei! Bangun kalian! Kenapa kalian jadi kalah sih?!" kata juragan Epul.
"Maaf juragan, tadi pagi kami tidak olah raga." jawab satu bodyguard.
"Alasan saja kalian! Cepat hajar dia lagi, kalau tidak kalian yang saya hajar di rumah!"
"Baik Juragan."
Keduanya pun bangkit, mereka kini siap dengan jurus yang dia punya. Menyerang David dengan cepat, namun David kembali bisa menghindar. Beberapa kali mereka menyerang, tapi hasilnya nihil. Mereka langsung kalah dan jatuh karena kelelahan.
Juragan Epul pun marah, dia menatap David tajam. Wajahnya kesal, dia ingin membalas David. Tapi tidak bisa silat. Akhirnya dia menghampiri kedua bodyguardnya dan memarahinya.
Plak! Plak!
"Kalian bodoh! Menghajar laki-laki itu tidak bisa!" kata juragan Epul menampar kedua pipinya.
"Dia pintar silat juragan, jadi kita kewalahan." kata bodyguardnya.
"Badan kalian saja yang besar! Tapi otak sama otot tidak berguna!" kata juragan Epul.
"Maaf juragan lain kali kami akan banyak latihan." katanya lagi.
"Sudahlah, kita pergi dari sini. Surat rumah sudah ada di tanganku, jika gadis itu mau mengambilnya sudah pasti dia akan pergi ke rumahku. Hahah!" ucapnya.
Juragan Epul pun pergi, di susul dua bodyguardnya. Jani dan istrinya pun ikut pergi, tapi dia menatap tajam pada David. Sedangkan Mesi menatap David penuh menggoda.
"Mas ganteng, boleh mampir kerumah saya ya." ucap Mesi pada David.
"Mesi!" teriak Jani pada istrinya dengan geram, lalu menarik tangan Mesi dan pergi meninggalkan David yang masih berdiri.
__ADS_1
"Awas kamu Lea!" umpat Jani pada Lea yang mendekat pada David.
"Kamu yang awas! Jangan ganggu Lea lagi, kalau tidak kamu berurusan denganku!" ucap David pada Jani balik mengancam.
Keduanya pun pergi, Jani dan Mesi bertengkar di jalan. Dan sesekali Mesi menoleh ke belakang, memandang David dari jauh.
Sedangkan David mengibas tangannya yang kotor akibat berkelahi dengan dua bodyguard juragan Epul.
"Om tidak apa-apa?" tanya Lea.
"Aku tidak apa-apa. Kamu sendiri bagaimana? Apa yang mereka minta? Dan kenapa kamu mau di bawa oleh orang itu?" tanya David.
"Tadi ayah tiriku om, dan juragan Epul. Dia tadi memegang surat rumah Lea, peninggalan ibu. Mau di ambil alih, tapi aku tidak mau om. Eh, dia mau bawa aku." kata Lea.
"Sudah kamu jangan khawatir, nanti om yang urus. Sekarang kamu pulang ke rumahku." kata David.
Bu Marni yang melihat interaksi Lea dan David seperti seorang kakak sama adiknya. Namun David tidak menganggap Lea adik, seperti seorang perempuan yang dia sayangi. Bu Marni mendekat, dia tersenyum pada Lea dan David.
"Pak David, jaga Lea ya. Kasihan dia hidup sendiri, ayah tirinya itu bajingan. Sewaktu-waktu mungkin dia akan mencari Lea dan mengganggu Lea lagi. Makanya lebih baik Lea jangan kemari lagi." kata bu Marni.
"Kok tidak boleh sih bu Marni? Kan aku juga pengen melihat rumah dan makan ibu juga bu Marni. Siapa yang mengurus makam ibu jika tidak di kunjungi. Aku juga kadang kangen sama ibu." kata Lea lagi.
"Tapi untuk saat ini, jangan datang dulu. Biar nanti makam ibu kamu, ibu yang akan mengurusnya. Tiga hari sekali ibu membersihkan makam ibu kamu. Jangan khawatir, Lea. Yang penting kamu tidak di ganggu lagi sama Jani dan juragan Epul itu." kata bu Marni.
"Benar Lea, apa kata bu Marni. Sebaiknya nanti jangan datang kemari, om akan urus semuanya." kata David.
"Tapi, itu akan merepotkan om David aja. Aku ngga enak merepotkan om terus, di ajak kerja di rumah om David dan menginap di sana rasanya sudah banyak merepotkan." kata Lea.
"Sudahlah Lea, jangan pikirkan itu. Bi Kokom dan yang lainnya juga menginap di rumahku, kamu juga sama kan." ucap David.
Lea diam, dia menatap David. Lalu pada bu Marni, bu Marni pun mengangguk dengan senyuman meyakinkan.
"Sekarang ayo kita pulang." kata David.
"Kemana?"
"Kerumahku, bila perlu ke rumah kita." ucap David sambil membawa tas Lea.
Bu Marni hanya tersenyum saja melihat kepolosan Lea. Lea pun akhirnya mengikuti David masuk ke dalam mobilnya, melambaikan tangan pada bu Marni untuk pamitan.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧