
Kania masih diam, setelah Nathalie masuk ke dalam rumahnya, Yudha merasa bersalah pada Kania. Tapi dia bersyukur Kania bisa bebas dari Nathalie, meski dia yang harus membayar kerugian sesuai apa yang di katakan Nathalie tadi.
Memang dia yang menginginkannya meski mengucapkannya karena kesal atas perlakuan Nathalie pada Kania.
"Maafkan aku Kania, ini semua karena aku yang meminta sama kamu untuk datang ke rumah Nathalie." kata Yudha.
"Sudahlah pak Yudha, memang nona Nathalie tidak suka padaku. Dia hanya tidak mau rugi saja." kata Kania.
"Lalu, kamu mau pulang atau kemana?" tanya Yudha.
"Pulang ke rumah, pak Yudha."
"Aku antar kamu pulang."
"Tidak usah pak Yudha, saya banyak merepotkan anda saja." kata Kania lagi.
"Hei, kita sudah jadi teman sekarang. Jadi, aku mau menolongmu." kata Yudha.
"Terima kasih." kata Kania tersenyum.
Kania masuk ke dalam rumah, dia akan membereskan barang serta baju-bajunya. Sedangkan Nathalie keluar lagi dan menemui Yudha. Menatap dingin pada laki-laki itu, Yudha pun menoleh.
"Kenapa kamu masih di sini? Apa gadis itu tidak mau pulang?" tanya Nathalie.
"Kania sedang bersiap, dia mengambil baju-bajunya. Saya akan mencari tahu tentang kecelakaan itu, dan menyelidikinya. Jika ada kesalahan dan hanya ulah anda ingin mendapatkan keuntungan dari orang susah, maka saya akan menuntut anda nona Nathalie." kata Yudha mengancam Nathalie.
Nathalie diam tak bergeming, sikapnya dingin tidak bisa di tebak apakah dia takut atau biasa saja. Namun dia pun tersenyum miring, meledek Yudha dengan ucapannya.
"Silakan saja, itu kejadian sudah berlalu. Sudah dua tahun lebih, dari mana anda mendapatkan informasinya. Bahkan kejadian itu luput dari media." kata Nathalie.
"Jangan remehkan kekuatan cyber nona, aku bahkan punya tim IT yang akan melacak semuanya. Tunggu saja!" kata Yudha lagi.
Dia tidak akan tinggal diam, harus membongkar semua apa yang selama ini di tutupi Nathalie. Termasuk yang katanya penggemar Nathalie yang meneror dirinya. Yudha belum bertanya pada Kania hasil penyelidikannya pada ponsel Nathalie.
Kania membawa kopernya, dia berhenti di depan Nathalie dan Yudha yang sedang diam. Nathalie menoleh pada Kania lalu tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kamu sudah siap jadi gundiknya ternyata, baiklah. Aku tidak usah membayar apa pun, bahkan kamu harus membayar kerugianku akibat ayahmu." kata Nathalie pada Kania.
"Berikan nomor rekeningmu, aku transfer sekarang. Berapa kerugian total yang sudah terpotong dua tahun Kania bekerja?" tanya Yudha dengan tegas.
Nathalie menatap Yudha dengan kesal, ternyata ada juga yang mau membantu Kania. Dia mendengus kesal.
"Tulis di sini, nanti aku tranfer sekarang juga. Berapa harus aku bayar?" kata Yudha lagi
"Tiga ratus juta, apa kamu mau membayar dia tiga ratus juta dalam semalam?" tanya Nathalie mengejek.
"Dalam membantu, berapapun nominalnya tidak perlu balas budi. Meski nanti dia tidak mau, setidaknya Kania tidak bekerja lagi pada anda nona Nathalie yang terhormat." kata Yudha.
"Baiklah, terserah anda. Mau dia jadikan pelacurmu setiap malam pun itu terserah anda pengacara Yudha. Kebiasaan pengacara punya banyak gundik, jadi tidak heran jika anda mau membayar mahal gadis kampung itu." kata Nathalie lagi.
"Aku tidak akan menjadikannya pelacur, mungkin saja suatu saat nanti anda yang akan jadi pelacur nona Nathalie. Ingat ya, anda sekarang berurusan denganku." kata Yudh mengancam dengan tegas.
Yudha menyodorkan ponselnya yang terhubung pada M-bangking. Nathalie mengambil ponsel Yudha dengan kasar, dia menuliskan nomor rekeningnya. Setelah selesai dia kembalikan pada Yudha, bersedakap menatap Kania dengan sinis.
"Terima kasih nona Nathalie, saya tidak akan melupakan kebaikan anda." kata Kania.
"Benar-benar kasar sekali anda itu, saya tidak menyangka. Wanita cantik seperti anda dan seorang model terkenal begitu buruk kelakuannya pada orang lain. Tapi tenang saja, semua akan tersimpam rapi perlakuan anda saat ini. Jadi tunggu saja balasan dari saya." kata Yudha dengan kesal.
Dia menarik tangan Kania dan membawa kopernya, entah kenapa dia sangat marah pada Nathalie yang begitu seenaknya saja pada Kania. Kania sendiri merasa tidak enak, sekarang justru Yudha yang berseteru dengan Nathalie.
Yudha memasukkan koper Kania dalam bagasi, Kania berdiri di depan mobil sambil menunduk. Yudha menghampiri Kania, dia tahu Kania merasa bersalah.
"Jangan di pikirkan, orang seperti dia harus di beri pelajaran. Kamu jangan merasa bersalah, jika tidak begini kamu tidak akan bisa lepas dari dia." kata Yudha menenangkan Kania.
"Tetap saja pak Yudha, saya merasa tidak enak. Bagaimana nanti kalau nona Nathalie akan melaporkan ayah ke kepolisan dengan kasus tabrakan itu." kata Kania.
"Aku akan menyelidikinya, dan membantumu. Aku juga membayar kerugian yang dia sebutkan itu. Jadi dia tidak akan menuntut, tapi jika dia masih menuntut saja maka akan aku buat dia malu di depan para penggemarnya nanti. Aku pastikan itu." kata Yudha dengan kesal sekali.
Kania menatap Yudha, baru kali ini ada orang yang mau membantu sampai seperti itu. Lawan Yudha bukan orang sembarangan, meski Nathalie seorang model. Tapi dia juga pintar, bisa melakukan flying fictim untuk memutar balikkan fakta.
Yudha tahu soal itu, dia sempat mencari jejak siapa Nathalie itu. Orang-orang terdekatnya itu kalangan pengacara juga dan ada yang dari kepolisian. Dia model terkenal dan bisa menutupi skandalnya dengan para beberapa pria yang dia sewa.
__ADS_1
"Pak Yudha pasti tahu kan, nona Nathalie itu bukan model biasa. Dia juga punya beberapa orang dekat dari pengacara. Tapi saya heran, kenapa dia menyuruhku mencari pengacara untuk membantu kasus penggemar yang selalu menerornya ya. Bahkan dia menyuruh saya menghubungi anda. Apa ada yang salah di sini?" tanya Kania merasa curiga pada sesuatu.
Yudha jadi berpikir dengan ucapan Kania itu? Atau memang ada yang dendam padanya melalui Nathalie, dan umpannya itu Kania? Mesterius.
"Kania, coba apa yang kamu dapatkan sewaktu menyelidiki ponsel Nathalie." kata Yudha.
"Ah ya, saya lupa pak Yudha. Sebentar, saya ambil ponselnya." kata Kania.
Dia mengambil ponselnya di tas, lalu menyalakan ponsel yang sejak tadi mati. Tapi beberapa kali di buka tetap tidak mau menyala.
"Waah, baterainya habis pak Yudha. Harus di cas dulu." kata Kania.
"Hemm, memang tadi sewaktu ngobrol lupa di cas?" tanya Yudha.
"Iya, heheh. Maaf, belum sempat ngecas ponselnya." kata Kania.
"Ya sudah, nanti saja. Oh ya, kamu sekarang mau pulang kemana?" tanya Yudha.
"Pulang ke rumahku saja, rumah ayahku maksudnya. Agak jauh sih." kata Kania.
"Tidak apa-apa. Tapi kamu lapar ngga?" tanya Yudha.
"Ya, lumayan. Tadi belum makan, jadi lapar. Heheh." kata Kania lagi.
"Baiklah, ayo kita makan malam dulu. Kita ke warung makan bebek goreng ya, aku suka bebek goreng." kata Yudha.
"Terserah pak Yudha aja." ucap Kania.
Mereka pun kini mencari warung makan bebek goreng yang masih buka. Karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih, meski makan malam yang terlambat. Tapi tidak mengapa, dari pada perut keroncongan. Mending makan.
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1