Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
34. Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Seruni dan Jho kini sedang makan malam di kafe pantai Kuta. Keduanya saling bercerita tentang dirinya masing-masing, Seruni senang bisa mengenal Jho lebih dalam. Sebaliknya juga Jho, mereka kini saling memuji satu sama lain.


"Apa tuan Jho sering berkumpul dengan sahabat-sahabatmu?" tanya Seruni.


"Seruni, kamu tahu siapa aku?"


"Ya."


"Aku ini siapa?"


"Tuan Jho."


"Haish, aku ini kekasihmu. Bukan majikanmu, kenapa masih memanggilku tuan Jho terus." ucap Jho agak kesal, membuat Seruni tersenyum malu.


"Iya, nanti aku pikirkan panggilan nama yang bagus." ucap Seruni.


"Jangan yang bagus lagi, yang lebih mesra. Mas Jho misalnya, aku suka panggilan itu." kata Jho dengan senyumnya.


Seruni menunduk malu, dia lalu tertawa dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Membuat Jho semakin gemas melihat Seruni seperti itu, dia pun mengusap puncak kepala kekasih yang baru beberapa jam itu.


"Kamu manis banget kalau begitu." ucap Jho dengan tulus.


"Jangan menggombal mas Jho, aku nanti bisa terbang. Heheh!"


"Hmm, jangan terbang. Nanti aku susah menggapainya, apa lagi terbang meninggalkanku." kata Jho.


"Ish, hahah! Perumpamaan apa itu."


Keduanya pun semakin mesra, mereka menikmati malam Minggu dengan jalan-jalan dan makan di pantai Kuta. Setelah cukup lama, dan angin pantai mulai besar. Jho pun mengajak Seruni jalan-jalan ke tempat lain. Dia ingin menikmati kebahagiaan dengan Seruni, kekasih barunya.


Meski Seruni anak orang biasa, namun Jho tidak memandang siapa Seruni dan bagaimana kehidupannya. Yang dia rasakan dan kedepankan adalah perasaannya pada gadis itu. Kemudian merencanakan pernikahan setelah dia mengenal kedua orang tua Seruni yang berada di Jawa Timur, tepatnya di kota Surabaya.


"Kenapa kamu merantau sangat jauh, dari Surabaya ke Bali." tanya Jho ketika mereka masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk jalan-jalan ke tempat hiburan malam.


"Emm, tadinya aku mau ke Jakarta. Terlalu jauh kata ibuku, ya sudah ke Bali aja. Kebetulan ada teman yang memberikan informasi di kafe sedang membutuhkan pelayan. Dan aku melamar satu tahun yang lalu." ucap Seruni.


"Dan pastinya jika kamu merantau di Jakarta, belum tentu bertemu denganku kan?" kata Jho.


"Entah, karena takdir Tuhan itu tidak ada yang bisa menebak. Jika kamu memang takdirku, di mana pun dan kapan pun pasti bertemu, di Jakarta atau di Bali." ucap Seruni seperti orang bijak, membuat Jho semakin kagum karena kedewasaannya mengucapkan takdir Tuhan.


"Kamu begitu dewasa berkata seperti itu. Apa kamu seorang cenanyang?"


"Hahah! Mana ada cenayang berpenampilan seperti ini." kata Seruni.


Jho menatap Seruni lagi, dia tidak bosan menatap wajah ayu dan manis Seruni. Bibirnya mengembang, mobil melaju dengan santai. Di liriknya jam di tangan, masih pukul sembilan malam. Jam sebelas dia akan mengantar Seruni pulang, begitu pikiran Jho.


_


"Besok siang aku akan berangkat ke Jakarta lagi, apa kamu tidak mau mengantarku?" tanya Jho ketika mobil sudah berada di depan kontrakan Seruni.


"Jam berapa berangkatnya?"

__ADS_1


"Jam dua siang sih."


"Aku tidak bisa, hari Minggu selalu banyak pelanggan yang datang." ucap Seruni kecewa sendiri.


"Ya sudah tidak apa-apa, nanti aku telepon kamu saja." ucap Jho.


"Ya."


Keduanya diam, Seruni enggan berpisah dengan Jho. Dia tidak segera turun, masih merasa sedih malam ini yang terakhir dia bertemu dengan Jho. Jho melirik Seruni yang masih diam saja menatap jalanan di depan yang sudah sepi.


"Kamu mau di mobil saja denganku?" tanya Jho.


"Oh, ya. Aku turun, terima kasih kamu ajak jalan-jalan malam ini." kata Seruni gugup.


"Ya, kamu tidur yang nyenyak ya." kata Jho tersenyum.


"Iya." ucap Seruni dengan senyum malu-malunya.


Lalu dia membuka pintu mobil dan melambaikan tangan pada Jho. Tapi Jho menarik tangannya dan langsung mencium bibir Seruni dan tersenyum. Mengelap bibirnya dengan tangannya, membuat Seruni terpaku dadanya berdetak kencang. Setelah sadar, Seruni pun mengalihkan pandangannya.


"Satu bulan sekali aku akan ke Bali mengunjungimu." kata Jho masih dengan senyumnya.


"Iya."


"Ya sudah, masuk sana ke komtrakan. Nanti semua geger kamu tidak segera masuk." kata Jho.


"Aku udah biasa pulang malam, jadi mereka biasa aja sih."


"Emm, gitu ya. Bagaimana kalau kamu ke hotelku?"


Brak!


Pintu mobil di banting Seruni, wajahnya merona karena malu Jho terus saja menggodanya. Dia langsung menyeberang jalan dan segera masul ke dalam rumah kontrakan yang berpagar.


"Hahah! Lucu banget sih dia, semakin ingin cepat menikahinya." ucap Jho dengan tawa senangnya.


"Tunggulah beberapa bulan lagi, aku akan datang ke orang tuamu Seruni. Aku tidak akan melepaskanmu dan ingin segera menikahimu." ucap Jho.


Dia lalu memutar mobilnya dan segera dia pulang ke hotel di mana dia menginap. Hatinya sangat senang dan bahagia, cintanya tersambut oleh Seruni.


"Seruni memang manis, kuharap dia yang terakhir bagiku." ucap Jho di sela-sela menyetirnya.


_


Kini Jho sudah berada di Jakarta lagi, dia akan memberi kabar pada sahabat-sahabatnya jika dirinya bukan duda jomblo lagi. Sekarang dia akan menikmati hari-hari manisnya meski cinta membuatnya harus rela untuk bolak balik Jakarta-Bali sebulan sekali. Dan dia pastikan tidak akan lama seperti itu.


Senyumnya mengembang sepanjang jalan menuju kantor David. Dia sudah menghubungi David kalau dia ada di kantor siang ini. Dan yang lain sepertinya belum ada yang bisa bergabung dengan dirinya, kecuali David.


Tuuut


Sambungan telepon, Jho mengambil ponselnya. Melihat siapa yang menelepon. Jho tersenyum, Seruni. Ini pertama kalinya Seruni menelepon lebih dulu pada Jho.

__ADS_1


"Halo sayang, kamu kangen aku." ucap Jho dengan seulas senyumnya.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Seruni di seberang sana.


"Maunya makan siang sama kamu, tapi ngga bisa ya. Sayang sekali." ucap Jho, membuat Seruni diam.


Tentu saja Jho menebak Seruni sedang tersenyum malu. Dia memarkirkan mobilnya begitu masuk ke halaman kantor David.


"Aku lagi istirahat, di komtrakan." ucap Seruni.


"Kamu ngga kerja?" tanya Jho heran.


"Aku izin ngga masuk siang ini, nanti sore aku berangkat kerja." kata Seruni.


"Kenapa? Apa kamu sakit?"


"Hanya sakit perut saat datang bulan saja, nanti sore lagi."


"Memang sudah enak perutnya bisa berangkat lagi?" tanya Jho sedikit khawatir.


"Biasanya sih udah enakan."


"Yakin?"


"Ya, karena biasanya seperti itu. Kamu sedang di mana?"


"Hemm, sekarang tanya-tanya keadaanku ya. Hahah!"


"Ish, aku hanya ingin tahu aja. Kalau ngga mau kasih tahu ya udah. Aku tutup."


"Jangan ngambek dong, aku ada di kantor David."


"Pak David?"


"Ya, dia sahabatku."


"Ooh, ya udah. Aku tutup dulu, mau cuci baju."


"Katanya sakit perut, kok cuci baju. Istirahat aja, sore berangkat kerja lagi."


"Ngga apa-apa, kan pakai mesin. Tinggal nyalakan mesin aja, beres."


"Ooh, gitu."


"Ya, aku tutup teleponnya. Daaah."


"Daah, sayang."


Klik!


_

__ADS_1


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2