Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
68. Membantu Kania


__ADS_3

Yudha menghampiri Kania yang sedang duduk memperhatikan mobil yang sedang di servis. Dia juga ikut duduk di sana, melihat mobil di servis.


"Kamu mau ikut makan siang denganku?" tanya Yudha pada Kania.


"Eh, pak Yudha. Tapi itu mobilnya bagaimana?" tanya Kania.


"Tunggu mobilku selesai aja, sambil menunggu mobilku selesai kita pergi ke kafe dekat sini." kata Yudha mengajak Kania.


Kania tampak berpikir, dia bingung jika harus makan dan membayar makanannya sendiri. Lagi pula dia sudah makan di rumah Nathalie, meski perutnya juga masih lapar.


"Saya sudah makan di rumah pak Yudha." kata Kania menolak ajakan Yudha.


"Ooh, kalau begitu aku traktir minum kopi aja. Bagaimana?" kata Yudha menawarkan lagi dengan tawaran traktir..


Dia tahu Kania pasti bingung dengan ajakan makannya, jadi dia menawarkan minum kopi.


"Hahah, baiklah kalau hanya kopi. Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan kopi, tapi minuman jus pun tidak masalah kan?" tanya Kania dengan tawa riangnya.


Yudha tersenyum, dia sangat kagum meski banyak sekali masalah Kania tetap periang. Ada rasa senang Yudha berteman dengan Kania.


Mereka lalu pergi dari bengkel tersebut, menunggu mobil selesai di servis mereka pergi ke kafe terdekat. Yudha memang lapar, dia belum ke kantor sejak pagi. Karena bertemu klien pagi-pagi dan langsung mengantar berkas laporan pada kepolisian dengan kasus KDRT oleh suaminya.


"Kita cari yang tidak banyak pengunjung saja, aku ingin bertanya banyak sama kamu Kania." kata Yudha.


"Ya, terserah anda. Tapi, anda mau tanya apa?" tanya Kania.


"Masalahmu dengan nona Nathalie. Ceritakan padaku semuanya, barangkali aku bisa bantu masalahmu dan bisa lepas darinya." kata Yudha.


"Eh, benar pak Yudha?" tanya Kania tidak percaya.


"Ya, tapi kita selesaikan masalah Nathalie dulu. Aku akan datang ke rumahnya untuk memastikan tentang kasusnya itu yang masalah teror penggemarnya. Itu bisa jadi orang yang dekat dengannya, dan dia tahu tentang Nathalie secara pribadi." kata Yudha.


"Benar juga sih, saya juga belum tahu siapa penggemarnya yang selalu menerornya. Dia tidak pernah mau memperlihatkan pesannya atau fotonya pada saya, ya setidaknya biar saya ada informasi masalah itu dan bisa di laporkan pada pak Yudha." kata Kania.


"Ya, makanya aku akan datang ke rumah Nathalie. Tapi setelah kamu memberitahu kalau Nathalie ada di rumah." kata Yudha.


"Jadi, saya harus melihat dulu dan nanti di laporkan pada anda?"

__ADS_1


"Ya, seperti itu."


"Baiklah, memang nona Nathalie kalau ada di rumah itu waktu libur dan malam hari. Nanti saya kabari pak Yudha." kata Kania.


Keduanya sekarang bukan minum kopi, tapi makan. Yudha memaksa Kania untuk makan dengannya, dan mau tidak mau dia pun akhirnya makan juga. Karena memang dia lapar.


Yudha senang, dia mengira Kania itu menipunya masalah laporan kasus Nathalie. Tapi ternyata dia hanya di paksa oleh model tersebut. Kania makan dengan tenang, begitu juga Yudha, sesekali dia melirik pada Kania. Memikirkan bagaimana nanti dia akan membantu gadis itu.


Kania menatap Yudha, pandangan keduanya beradu. Sejenak keduanya diam, lalu sama-sama membuang muka ke samping. Kania meneruskan makannya lagi, dia ingin cepat-cepat selesai. Rasanya malu sekali harus bertatapan dengan Yudha seperti tadi.


Yudha tersenyum tipis, kenapa dia jadi suka menatap Kania. Gadis yang sederhana, punya banyak masalah tapi terlihat tenang. Bagaimana bisa seperti itu, pikir Yudha.


"Kania, bagaimana dengan ayahmu? Kamu pernah cerita kalau ayahmu sedang sakit." tanya Yudha.


"Eh, kapan?" tanya Kania bingung.


"Hmem, padahal tadi di mobil dalam perjalanan." kata Yudha lagi.


"Ooh, iya. Heheh. Maaf kalau saya lupa pak Yudha." kata Kania dengan tertawa malu, dia pelupa. Membuat Yudha pun tersenyum.


"Tidak. Seminggu sekali aku pulang kesana menjenguk ayah, dan ayahku itu bisa melakukan apa saja meski sedang sakit." kata Kania lirih.


"Kamu mementingkan bekerja dengan Nathalie, di banding mengurus ayahmu yang sakit." kata Yudha.


"Karena aku kerja juga demi ayah. Jika aku melanggar kesepakatan, ayahku akan di perkarakan dan di laporkan pada kepolisian." kata Kania.


"Itu memang sudah sangat lama. Apa dia punya bukti? Atau hanya mengancam kamu saja agar tetap bekerja dengannya." kata Yudha.


"Aku tidak tahu. Mungkin dia punya bukti, dan orang kaya itu untuk mendapatkan bukti cukup mudah kan." kata Kania.


"Kata siapa? Meski memang ayahmu yang salah, tapi itu bisa kok di minimalisir kesalahannya. Ayahmu tidak sengaja kan menabrak, bahkan yang terkena kecelakaan ayahmu. Nathalie dan adiknya baik-baik saja." kata Yudha.


"Waah, benarkah begitu? Baiklah, nanti aku akan bicara pada ayah masalah ini. Jelas kejadiannya seperti apa, karena nona Nathalie tidak menyinggung itu lagi sejak aku kerja di sana. Dan ayah juga tidak, mungkin ayah tidak mau memperpanjang urusan dengan nona Nathalie." kata Kania.


"Ya sudah, nanti aku selidiki dari kejadian dua tahun lalu. Aku akan minta tim IT juga dengan masalah ini, kamu tenang saja. Dan masalah penggemar Nathalie, bisa kamu cari tahu? Aku penasaran siapa yang sering meneror dia." kata Yudha pada akhirnya dia penasaran.


Mungkin karena menyangkut masalah Kania dan kecelakaan waktu itu. Dia ingin memecahkannya tanpa di minta, karena Nathalie yang terlihat baik dan ramah serta banyak talentanya mungkin saja punya skandal di belakangnya.

__ADS_1


"Bagaimana caranya pak Yudha, saya bahkan tidak di perbolehkan meminjam ponselnya. Hanya menyuruh saya untuk meminta anda jadi pengacara yang mengusut masalahnya itu." kata Kania.


"Emm, coba selidiki secara diam-diam. Ambil ponsel Nathalie secara diam-diam. Mungkin kamu tahu kan bagaimana mencari bukti dan informasi tanpa di ketahui orangnya? Ini demi kasus ayahmu juga." kata Yudha.


"Oke, saya akan mencari cara untuk melihat ponsel nona Nathalie. Dia terlalu tertutup sebenarnya tapi akan saya coba pak Yudha." kata Kania.


"Bagus, kita bisa kerja sama dengan baik." kata Yudha.


Kania tersenyum, dia senang akhirnya Yudha bisa membantunya. Bahkan membantu masalahnya juya. Dan kini mereka selesai makan siang, Yudha mengajak Kania kembali ke bengkel mobil, karena dia di beritahu mobilnya sudah selesai.


"Tagihan mobilnya dia masukkan ke tagihanku saja. Aku yakin dia tidak punya uang untuk membayar tagihan servis mobil bosnya." kata Yudha pada petugas bagian kasir.


"Baik pak."


Yudha menunggu pembayaran selesai, dia melihat Kania menghampiri Yudha dan akan membayar tagihan servis mobilnya.


"Mas, berapa bayarnya?" tanya Kania.


"Sudah di bayar sama pak Yudha, mbak." jawab kasir.


"Eh, kok di bayar?" tanya Kania, dia menoleh ke arah Yudha.


"Ngga apa-apa, sekali ini saja. Semoga mobilnya tidak mogok lagi ya. Heheh." kata Yudha.


"Oh, ya pak Yudha. Saya jadi tidak enak, tadi di traktir makan sekarang servis mobil juga di bayar juga." kata Kania merasa malu.


"Sudahlah, yang penting kamu bantu aku menyelidiki tentang Nathalie juga. Dan sebagai balasannya jika semua selesai, kamu boleh mentraktirku balik. Bagaimana?" kata Yudha.


"Hahah! Baiklah, itu pun tidak masalah." kata Kania.


Tidak terasa keduanya nampak akrab, tidak lagi sebagai klien dan juga seorang pengacara. Kania senang akhirnya ada yang mau membantunya, dalam minggu-minggu ini dia memang sedang bingung karena masalah Nathalie.


_


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧

__ADS_1


__ADS_2