
Kasus Nathalie sudah selesai, Nathalie memang sudah memasrahkan diri untuk masuk ke dalam penjara dengan berbagai skandal yang menimpanya. Dia berpikir lebih baik menebus semuanya dalam penjara, dan setelah satu tahun penjara itu akan memulai karirnya lagi dari awal.
Kini Yudha sangat lega sekali, dia bisa bernafas lega dan bisa mengejar cintanya pada Kania. Meminta langsung pada ayahnya, kalau dia ingin menikahi Kania. Pelaporan kasus yang secara tidak sengaja membuat dia dan Kania jatuh cinta.
Lalu sekarang, dia sedang berkencan lebih dulu sepulang dari kantor. Kania dan Yudha mampir ke sebuah pasar malam yang kebetulan mereka lewati. Yudha mengajak turun dan keliling pasar malam serta membeli makanan di jajakan gerobak itu.
"Kamu suka pergi ke pasar malam?" tanya Yudha.
"Suka aja, apa lagi gratis. Heheh." ucap Kania dengan tawa kecilnya.
"Hemm, kalau setiap hari ada aku bisa bawa kamu setiap malam ke pasar malam." kata Yudha lagi.
Dia menggandeng tangan Kania dan di ayunkan, layaknya sepasang remaja yang baru mengenal cinta dan berkencan. Kania senang bisa kencan dengan Yudha, sejak dia menerima cinta Yudha baru kali ini mereka pergi kencan. Karena sibuk dengan urusan skandal Nathalie, jadi Yudha tidak sempat mengajaknya kencan.
Apa lagi makan malam romantis berdua. Yudha menatap Kania yang tersenyum begitu manis di matanya. Ingin sekali dia mencium Kania, tapi suasana di tempat ramai.
"Oh ya, kamu mau naik apa?" tanya Yudha menuju tempat berbagai macam permaianan.
"Emm, naik karnival aja yuk?" ajak Kania.
"Boleh, ayo kita naik." kata Yudha.
Dia pun menuju pembelian karcis dan membeli dua karcis untuknya dan Kania. Setelah dapat karcis seharga lima belas ribu saja, sangat murah bagi pekerja pameran pasar malam. Jika di tempat hiburan akan mahal tiketnya.
Kini mereka masuk ke dalam kurungan karnival untuk menyenangkan dan bermain santai layaknya anak muda-mudi bergembira dengan pasangan mereka masing-masing.
Mereka sangat senang, duduk berdua dalam komidi karnival. Yudha sendiri merasa seperti anak remaja, tapi tidak apa. Dia juga senang jika Kania senang. Beberapa permainan Kania dan Yudha menaikinya, hingga Kania merasa puas baru Yudha menyudahinya dan mereka membeli makanan.
"Kita makan dulu ya." kata Yudha.
"Ya, makan seta aja mas. Kamu suka?" tanya Kania.
"Suka aja, apa pun aku makan kok." jawab Yudha.
Mereka lalu membeli sate dua porsi. Kania senang bisa makan sate kambing, karena dia jarang makan sate kambing. Mengingat ayahnya tidak bisa makan sate kambing, jadi dia tidak pernah membeli sate kambing.
"Setelah ini apa?" tanya Yudha.
"Pulang aja mas." jawab Kania.
"Oke. Ayahmu malam begini udah tidur belum?" tanya Yudha.
"Biasanya sih belum. Paling beliau menunggu aku pulang kerja, sampai jam sembilan malam. Kalau lewat itu, ayahku langsung tidur." kata Kania.
__ADS_1
Yudha melirik jam di tangannya, masih jam delapan malam. Masih ada waktu untuk mengobrol serius dengan ayah Kania.
"Memang ada apa mas pengen ketemu ayah?" tanya Kania.
Meski dia bisa menebak kenapa Yudha menanyakan ayahnya itu. Yudha tersenyum, dia masuk ke dalam mobilnya. Di susul oleh Kania, dan mereka pun segera pulang ke rumah Kania.
_
Kini Yudha berhadapan dengan ayahnya Kania. Dia sangat tegang sekali karena ayah Kania ternyata serius menghadapinya.
"Jadi, nak Yudha ini mau bicara apa sama bapak?" tanya ayah Kania.
"Emm, begini ayah. Saya dan Kania itu sudah lama kenal, saya menyukai Kania sejak pertama bertemu dan baru beberapa minggu ini kami berpacaran. Saya ingin melamar Kania dan menikahinya secepatnya, ayah." kata Yudha sedikit gugup..
Ayah Kania diam, dia menatap Yudha. Mencari keseriusan di mata pengacara itu. Dan mata Yudha menunjukkan kalau dia memang serius dengan ucapannya itu.
"Terserah Kania saja, apakah dia mau secepatnya menikah atau tidak. Dan saya dengar nak Yudha itu duda cerai ya?" tanya ayah Kania.
"Iya ayah." jawab Yudha tegas.
Dia tahu kekhawatiran seorang ayah itu kalau menikah dengan duda cerai pasti akan ada drama perselisihan masalah anak atau harta gono gini. Karena semuanya tidak akan terjadi nanti, makanya dia memberanikan diri untuk meminta Kania jadi istrinya kelak.
"Apa kamu punya anak dari istrimu terdahulu? Maksudnya mantan istrimu?" tanya ayah Kania lagi.
Ayah Kania diam, dia lalu tersenyum. Ada kelegaan di hatinya mendengar keterangan dari Yudha tentang dirinya. Bukan apa-apa, dia orang tidak punya. Ekonomi juga pas-pasan, jika terjadi apa-apa pada anaknya maka akan lain lagi tanggapan orang padanya. Meski dia tidak meminta apa pun, ayah Kania hanya takut anaknya akan tersingkir jika mantan istrinya datang lagi dan meminta kembali.
"Baiklah, seperti saya katakan tadi. Terserah Kania saja, ayah hanya mmeberi restu kalian untuk menikah. Dan ayah juga memang ingin Kania menikah secepatnya, karena usianya sudah cukup umur untuk menikah." kata ayah Kania.
"Aah, syukurlah. Jadi ayah merestuinya?" tanya Yudha memastikan ucapan ayah Kania itu benar.
"Ya, ayah terserah Kania saja." katanya lagi.
"Terima kasih ayah. Saya akan bicara lagi sama Kania, memintanya sekaligus melamarnya nanti." kata Yudha dengan bersemangat.
Kini setelah bicara panjang lebar, Yudha pun akhirnya pamit. Dia di antar oleh Kania sampai di mobilnya, wajahnya sungguh sangat bahagia. Dia ingin menanyakannya sekarang, tapi dia berpikir ingin membuat kejutan makan malam romantis sekaligus melamarnya. Begitu pikiran Yudha yang akhirnya diam saja sampai dia di dalam mobil.
"Jadi tadi bicara apa sama ayah mas?" tanya Kania ketika mereka masuk di dalam mobil sebelum Yudha pergi.
"Ngga bicara apa-apa. Ya, hanya ingin tanya kabar ayah saja setelah persidangan Nathalie itu." jawab Yudha.
"Ooh, hanya itu?" tanya Kania masih penasaran.
"Ya. Kenapa memangnya?" tanya Yudha.
__ADS_1
"Ngga apa-apa." jawab Kania menunduk lalu menoleh ke arah jendela.
Yudha tersenyum, dia memegang tangan Kania. Kania menoleh lalu tersenyum tipis.
"Besok pagi aku jemput ya." kata Yudha.
"Aku bisa berangkat sendiri mas naik angkot." kata Kania.
"Hei, kamu sepertinya sedang kesal." kata Yudha.
"Ngga kok." jawab Kania singkat.
"Baiklah, jadi besok ngga mau aku jemput?" tanya Yudha.
"Ngga usah."
"Ya udah, pulang dari kantor aja aku antar seperti biasanya." kata Yudha.
Dia diam, menunggu Kania mengucapkan kata selamat malam dan pesan hati-hati di jalan. Tapi sepertinya Kania melamun, dia diam saja dan tidak segera beranjak turun dari mobilnya.
"Kamu mau ikut ke rumahku?" tanya Yudha.
"Eh, mau apa?" tanya Kania kaget.
"Ya, mengantarku pulang." jawab Yudha tersenyum.
"Dih, kan udah malam. Ngapain aku ke rumahmu." ucap Kania.
"Hahah! Baiklah, berarti aku akan temani kamu di mobil sampai pagi." kata Yudha bersedekap.
Kania baru sadar, dia lalu membuka pintu mobil Yudha dan keluar dari mobil kekasihnya itu. Tanpa mengucapkan apa pun, dia melangkah pergi. Membuat Yudha tertawa kecil, lalu turun dari mobilnya dan mengejar Kania yang sedang kesal padanya.
"Kania!"
"Apa sih?!"
Cup.
Yudha mengecup kening Kania lalu pergi lagi menuju mobilnya. Dia melambaikan tangannya dan tersenyum, lalu melajukan mobilnya pelan. Kania terpaku, menatap kepergian mobil Yudha. Setelah jauh dia menghela nafas panjang, ada yang mengganjal di hatinya. Dia ingin bertanya pada ayahnya segera, agar hatinya tidak berkecamuk karena penasaran apa yang di bicarakan Yudha dengan ayahnya itu.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧