
Jho pun masuk dalam lift, hatinya benar-benar berbunga-bunga. Karena tadi Seruni lebih dulu meneleponnya, tiba-tiba dia merasa rindu oada gadis itu. Dia pun mengambil ponselnya dan mengetik sessuatu pesan.
'Aku kange sama kamu.'
Hanya sebaris kalimat itu saja, lalu di kirim pada Seruni. Dia masukkan lagi ponselnya karena lift sudah terbuka di lantai lima. Dia tidak menunggu jawaban dari Seruni, karena saat ini ingin bertemu dengan David.
"David ada di dalam Imelda?" tanya Jho pada sekretaris David itu.
"Ya tuan Jho. Tapi, ada tamu di dalam." kata Imelda..
"Mamanya tuan David."
"Oouh, ya sudah aku tunggu di sini saja." kata Jho.
"Silakan, apa anda ingin minum teh tuan Jho?" tanya Imelda.
"Es teh ada ngga? Aku ingin minum yang dingin." kata Jho.
"Baiklah, saya akan buatkan." kata Imelda.
Imelda pergi ke pantry, Jho menunggu dengan sabar mamanya David di dalam. Pasti membicarakan masalah jodoh, beruntungnya dia tidak ada yang mengatur masalah jodohnya. Meski kedua orang tua Jho sudah tiada, tapi jika masih hidup pun tidak pernah mengatur seperti mamanya David.
Tak berapa lama, pintu ruang kantor David terbuka, mamanya David keluar. Jho berdiri dan menyapa mamanya David.
"Selamat siang tante." sapa Jho.
"Lho, Jho. Kamu ada di sini?"
"Iya tante, ada urusan dengan David." kata Jho sopan.
"Emm, eh. Kamu tahu siapa yang di sukai David?" tanya ibu Heni.
"Memang kenapa tante?" tanya Jho penasaran.
"Dia bilang sudah ada gadis yang dia sukai. Tante bilang gadis yang dulu tante bawa kesini justru menyukai teman kalian, ck. Akhirnya tante tidak lagi dekat dengan dia." kata ibu Heni.
Pikiran Jho melayang pada waktu mereka berkumpul di kantor David dan datang mamanya David dan seorang perempuan ganjen. Justru perempuan itu tertarik pada Dion dari pada dengan David yang akan di jodohkan denganya.
"Ooh, itu. Heheh!" ucap Jho tertawa kecil.
"Ck, tante tidak suka. Akhirnya tante bilang ngga jadi jodohin David dengan gadis itu, kesal tante." ucap ibu Heni.
Pintu kantor David terbuka, dia terusik obrolan kecil yang terdengar dari dalam ruangannya. Ternyata Jho sedang mengobrol dengan mamanya.
"Jho, lo udah datang?" tanya David melirik pada mamanya.
__ADS_1
"Iya nih, gue mau ada urusan dengan lo." kata Jho berbohong.
"Ya udah, Jho. Tante pulang dulu, tolong tanyakan ya Jho." kata ibu Heni..
"Iya tante."
Ibu Heni pun pergi, David menatap kepergian mamanya. Imelda datang membawa dua gelas es teh manis.
"Ini es teh manisnya tuan Jho, satunya juga buat tuan David." kata Imelda.
"Terima kasih Imelda, bawa ke dalam ruanganku aja." kata David.
"Ya tuan David."
Imelda masuk ke dalam ruangan David, di susul David dan Jho. Mereka duduk di sofa, dan Imelda pun pamit keluar.
"Lo udah balik lagi ke Jakarta. Bagaimana lamaran lo pada Seruni?" tanya David.
"Gue di terima, saat ini dia jadi kelasihku. Dua bulan lagi gue mau merencanakan bertemu dengan kedua orang tua Seruni dan memintanya." kata Jho.
"Waah, lo gerak cepat banget ya." kata David.
"Ya, nanti setelah menikah gue akan bawa Seruni ke Jakarta aja."
"Tentu saja, pekerjaan lo kan di sini. Masa Seruni mau jadi pelayan kafe aja setelah nikah sama lo." kata David.
"Belum, saat ini sih gue lagi sibuk banget ngurusi proyek di Pulau Seribu milik Mr. James. Jadi seminggu sekali gue pantau itu proyek secara langsung. Karena ini kerja sama gue yang pertama dengan klein dari luar negeri. Jadi gue harus menjaga kepercayaan dia sama gue." kata David.
"Ya benar, meski kita punya tim untuk mengontrol mereka. Tapi kita harus aktif memgawasi mereka." kata Jho.
Obrolan demi obrolan mereka lakukan, hingga sore hari. Sampai Jho lupa jika dia juga banyak pekerjaan. Dia hanya ingin menceritakan kisahnya dengan Seruni pada David.
_
David mengendarai mobil setelah dia pulang kantor. Perutnya terasa lapar, dia melirik jam di tangannya. Sudah pukul tujuh malam, dia ingin mencari restoran saja. Sekaligus ingin jalan-jalan cuci mata, meski dia merasa aneh sendiri makan di restoran.
Matanya melihat pinggir jalan restoran mana yang akan dia masuki untuk makan. Terlihat restoran Sunda, dia ingin makan masakan Sunda. Mobil David masuk ke dalam parkiran di pandu oleh tukang parkir.
Dia pun keluar setelah mobil sudah terparkir, matanya melihat sekilas orang yang dia kenal. David langsung masuk, memastikan seseorang yang dia kenal itu benar ada di dalam restoran itu.
David duduk di kursi kosong, dia melihat sekeliling. Dan tiba-tiba hatinya kecewa, apa hanya perasaannya saja ya. Pikir David. Dia lalu bersandar, membuka ponselnya melihat-lihat media sosial.
"Selamat malam tuan, ada yang bisa di pesan?" suara pelayan restoran itu menyapa David.
"Ya, malam. Manq katalog menunya?" tanya David tanpa melihat siapa pelayan restoran itu.
__ADS_1
"Emm, saya mau tumis kangkung, pepes ayam, sambal bawang, dan juga cumi krispi. Jangan lupa bebek gorengnya juga ya. Dan minumnya lemon tea." kata David melihat menu masakan Sunda itu.
"Ada lagi om, eh maaf tuan." kata pelayan itu merasa malu.
David mendongak, dia kaget lalu tersenyum pada gadis pelayan itu.
"Kamu kerja di restoran ini?" tanya David.
"Iya om, bentar lagi kan mau lulus. Jadi mau cari uang tambahan untuk masuk ke perguruan tinggi." kata Milea.
"Jadi kamu sudah kelas dua belas?"
"Iya om, saya mau membiayai kuliahku sendiri. Makanya aku kerja separuh waktu aja di restoran ini.
"Emm, gitu ya." ucap David menanggapi ucapan Milea.
Ya, gadis itu adalah Milea yang di tabrak motornya oleh David. David senang bisa bertemu dengan Milea lagi, dia masih merasa bersalah dengan motor Milea yang rusak karena di tabrak mobilnya.
"Bagaimana motormu?" tanya David.
"Om mau ngobrol atau mau makan?" tanya Milea.
"Ya makanlah, Milea. Dilan kamu mana?" tanya David.
"Ish, ngga ada Dilan. Udah kabur dia, hahah!"
"Oh, hahah!"
"Saya pesankan makanan yang tadi om pesan ya. Tunggu sebentar om." kata Milea dengan ramah.
"Ya, Milea."
Milea pun kembali ke belakang memberikan catatan pesanan yang di pesan David. David menatap kepergian Milea, dia pun kembali memainkan gawainya. Lima belas menit Milea kembali ke meja David dengan membawa nampan berisi makanan yang di pesan David.
Dia letakkan di meja David dengan hati-hati, David memperhatikan apa yang di lakukan oleh Milea sangat teliti dan hati-hati. Mungkin karena dia takut melakukan kesalahan jadi bekerja dengan sangat hati-hati juga.
"Selamat menikmati makanannya om." kata Milea.
"Terima kasih, Milea."
Milea pun pergi dari hadapan David, dan David menatap kepergian Milea dari hadapannya. Lalu dia pun makan dengan lahap apa yang ada di meja. Perutnya memang sangat lapar, jadi dia langsung makan.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧