Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
97. Dua orang Yang Kehilangan


__ADS_3

Pengkremasian jasad mamanya Dion telah selesai, semuanya kembali ke rumah Dion. Nathan, David, Jho dan juga Yudha ikut kembali. Rasa sedih yang Dion rasakan kini terasa di hati masing-masing sahabat. Mereka berteman cukup lama, sejak masuk kuliah.


Meski sempat berpisah di semester empat, tapi mereka kembali bersatu di saat menghadapi skripsi bersama. Dengan rentang kuliah yang sama juga, empat tahun lebih. Dan lulus bersama juga, lebih dekatnya lagi ketika acara KKN kampus mereka bersama lagi.


Jadi, apa yang di rasakan oleh salah satu sahabatnya. Akan terasa juga, itu bentuk empati dari sebuah pertemanan yang langgeng. Mereka maju bersama dan mempunyai perusahaan dan besar juga hampir bersamaan.


Hanya Yudha yang mengambil S2 jurusan hukum, jadi dia sendiri yang menjadi seorang pengacara. Yang lainnya jadi pengusaha sukses semua.


"Lo tidak apa-apa kami pulang?" tanya Jho.


"Tidak apa, kalian tenang aja." jawab Dion.


"Bagaimana dengan perusahaan lo?" tanya David.


"Gue sudah hubungi sekretaris gue, jadi mungkin hanya seminggu lagi di sini. Dan minggu depan gue berangkat lagi dengan Amelia." kata Dion.


"Oh ya, gue lupa mau tanya sama lo. Gadis yang selalu menangis itu siapa?" tanya David.


"Dia Amelia, gadis yang selalu menjaga mamaku setiap harinya. Dia tetangga mamaku, dan kedua orang tuanya meninggal ketika dia lulus SMA. Jadi mama mengambilnya untuk menemaninya di rumah." kata Dion.


"Ooh, gue kira dia jodoh lo." celetuk Yudha.


Di senggol oleh Nathan agar jangan membicarakan masalah seperti itu. Dion tersenyum tipis lalu menunduk.


"Mungkin." jawab Dion singkat.


Mereka tersenyum, dan juga berdoa dalam hati benar adanya kalau gadis bernama Amelia itu jodoh Dion. Sahabat satu-satunya yang belum memiliki pasangan. Amelia memang tidak seperti gadis kota, tapi dia juga manis dan baik. Begitu kira-kira pikiran dari masing-masing 0ara duda tersebut.


_


"Kamu sudah bereskan semua barang-barangmu?" tanya Dion pada Amelia.


"Belum kak." jawab Amelia.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Dion.


"Amel di sini saja, masih kehilangan mama Yuna kakak." kata Amelia.


Dion terdiam, yang merasa kehilangan itu adalah Amelia atas meninggalnya mamanya. Dion sendiri juga merasa sedih, tapi dia melihat Amelia yang merasa rapuh.


Dia mendekati Amelia, lalu memeluknya gadis itu. Rasanya dia ingin saling menguatkan dengannya. Kehilangan orang yang sangat di sayangi.


Benar sekali apa yang di katakan mamanya sebelum meninggal, dia harus menjaga gadis itu. Mungkin dia akan menikahinya kelak.


"Kakak juga merasa kehilangan Amel, tapi kalau di sini terus. Semuanya tidak akan berubah, kakak sudah berjanji akan membawamu pergi dari sini dan menjagamu. Itu yang di katakan mama Yuna sama kakak, Amel." kata Dion.


Amelia pun menangis terisak, dia benar-benar merasa kehilangan sosok ibu yang sangat baik baginya. Ya, mamanya Dion itu sosok yang baik. Setelah kedua orang tuanya tiada, ibunya Dion yang jadi pegangan hidupnya.


"Apa Amel akan melupakan mama Yuna kalau pergi sama kakak Dion?" tanya Amelia sambil terisak.


"Tidak, kamu akan tetap mengingat mama Yuna. Mama Yuna akan senang dan bahagia di sana, jika Amelia juga bahagia dengan kakak. Mama akan sedih jika Amelia sedih terus." kata Dion.


Nasehat seperti anak kecil, tapi itu ampuh untuk menyakinkan Amelia ikut dengannya. Gadis yang baik dan juga penurut sebebarnya Amelia itu, Dion akan menjaganya dan melindunginya. Mungkin juga akan dia lanjutkan kuliah di Jakarta, begitu pikiran Dion.


"Iya kakak, agar mama Yuna bahagia di sana." kata Amelia.


"Bagus, Amelia harus bahagia. Agar mama juga ikut bahagia di sana." kata Dion dengan tersenyum.


"Iya kakak. Amel akan ikut dengan kakak ke Jakarta." kata Amelia menyeka air matanya.


"Sekarang kemasi barang-barangmu, besok kita berangkat. Kakak sudah satu minggu di sini, pekerjaan kakak sangat banyak yang di tinggalkan." kata Dion.


"Iya kak, Amel akan bereskan barang-barangnya. Maaf kalau Amel susah di ajak, karena Amel masih teringat mama Yuna." kata Amelia.


"Ya, ngga apa-apa Amel." kata Dion tersenyum.


Dia mengecup kepala gadis itu lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia juga akan merapikan semua barang-barangnya meski sedikit. Ada juga peninggalan milik mamanya akan dia bawa sebagai kenang-kenangan.

__ADS_1


Dia sudah memberitahu pada kerabatnya akan membawa Amelia ke Jakarta. Dan meminta agar ada orang yang mau merawat rumah mamanya selama dia di Jakarta nanti.


Malam terus merangkak, Dion kini terlelap. Begitu juga Amelia, dia sangat lelah setelah beberapa jam dia merapikan barang-barangnya yang akan dia bawa ke Jakarta.


Baginya, ini kedua kalinya dia pergi ke Jakarta. Setelah satu tahun setengah tahun lalu dia ikut ke Jakarta menghadiri pernikahan Dion. Amelia merebahkan tubuhnya, membayangkan bagaimana nanti di Jakarta.


Apakah akan sama, sedih dan merasa canggung. Dia merasa perlakuan Dion padanya kali ini berbeda.


"Kenapa kakak Dion tadi memelukku? Juga tadi mencium kepalaku. Apa dia sayang sama aku?" gumam Amelia menatap langit-langit kamarnya.


"Aah, tidak. Mungkin saja kakak Dion merasa kasihan padaku. Aku sendirian di rumah ini, tapi bagiku tidak apa-apa. Tapi aku takut mama Yuna sedih kalau aku tidak menurut ikut dengan kakak Dion." ucapnya lagi.


Pikirannya terus melayang pada mamanya Dion, berbagai kenangan dengan perempuan baik bagi Amelia itu membuatnya kembali sedih dan menangis. Hatinya benar-benar hancur untuk yang kedua kalinya. Kehilangan orang terdekat.


Namun Amelia juga lupa, Dion juga dua kali kehilangan orang yang dia cintai. Istrinya yang baru di nikahi tiga bulan lebih dan sedang hamil, meninggal karena kecelakaan. Dan sekarang ibunya, juga meninggalkannya.


Dua orang yang sangat sedih itu, kini akan saling menguatkan. Entah akan seperti apa kedepannya, Dion belum berpikir. Yang dia pikirkan saat ini pulang ke Jakarta, bekerja lagi di perusahaannya itu. Dan menjaga Amelia juga di sana.


Hingga larut malam, Amelia pun terlelap. Dia sangat mengantuk sekali. Sampai akhirnya pagi menjelang, dia bangun lebih dulu. Mandi dan menyiapkan sarapan untuk Dion. Rutinitas itu sudah satu minggu dia lakukan tanpa ibunya Dion.


Jadi, setiap kali dia ingat akan ibunya Dion selalu saja dia terisak. Namun kini sudah lebih baik, lebih tegar dalam kesehariannya memasak di dapur tanpa ada perempuan paruh baya yang selalu menjadi temannya memasak. Atau dia yang menemani ibu Dion memasak.


"Kamu sedang buat sarapan apa?" tanya Dion.


"Hanya roti panggang kaka, dan juga membuat susu jahe saja. Apa kakak mau di buatkan makanan apa untuk sarapan?" tanya Amelia.


"Tidak usah, itu saja juga cukup. Nanti tolong buatkan kopi ya." kata Dion.


"Baik kak."


Dion kembali ke kamarnya untuk segera mandi, dan Amelia membuat kopi untuk Dion. Dia membawa semua roti panggang dan juga susu jahe, tak lupa teman untuk roti panggangnya. Karena pagi ini Dion sengaja langsung berangkat ke bandara dan langsung terbang ke Jakarta.


_

__ADS_1


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2