
Setelah kepulangan papa Nayra, hari berikutnya Nathan datang lagi ke rumah Nayra. Sambil ngapel calon istrinya, juga meminta restu pada papanya Nayra. Dan dia sudah yakin sekali kalau papanya Nayra akan setuju dengan di percepatnya pernikahannya dengan Nayra.
"Bolehkan om, minggu depan aku nikahin Nayra?" tanya Nathan dengan percaya diri akan di perbolehkan.
"Hemn, memang kamu pengen banget ya Nayra jadi istri kamu? Apa motivasi kamu pengen cepat nikahin Nayra, anak om?" tanya papanya Nayra.
"Ya, kan karena saya cinta sama Nayra om." jawab Nathan.
"Bukan motivasi lain, misalnya ingin segera menyarangkan burung kamu itu? Soalnya ya, kamu duda. Pasti sudah pengen banget melakukan itu secepatnya, sedangkan Nayra itu anak om satu-satunya. Om masih belum rela anak om di ambil kamu. Ya, walaupun om tahu dia sangat mencintai kamu sejak lama." kata papanya Nayra lagi.
Nathan dian, dia meringis dengan ucapan calon mertuanya masalah menyarangkan burungnya. Ada-ada saja, tapi memang sebagai laki-laki itu tahu benar bagaimana rasanya stress menahan keinginan seperti itu.
Alasan papanya Nayra juga masuk akal jika dia belum rela melepas anak gadisnya untuk Nathan. Jadi, Nathan tidak bisa berbuat banyak selain membujuk calon mertuanya itu.
"Ayolah om, izinkan aku segera menikahi anak om. Nayra. Om juga paham kan masalah laki-laki yang satu itu, kenapa om tega sama saya." kata Nathan.
"Ngga pokoknya. Nanti om pikirkan lagi, kapan kalian akan menikah. Ini terlalu mendadak bagi om untuk melepas Nayra sama kamu." kata papanya Nayra.
Kembali Nathan terdiam, dia bingung dengan keputusan papanya Nayra yang tidak bisa di rubah begitu saja. Dia harus meminta bantuan pada papanya, bahkan nanti Nayra juga harus dia bujuk.
_
Dalam kantor, Nathan uring-uringan terus. Pasalnya, dia belum dapat restu oleh papanya Nayra untuk menikahi anaknya secepatnya. Karena alasan papanya Nayra itu, Nathan terlalu terburu-buru untuk menyatakan cinta pada anaknya. Apa lagi karena kejadian malam itu yang tidak di sengaja.
Bukan itu saja, seperti kebanyakan orang tua. Tidak rela melepas anak gadisnya secepat itu pada orang lain. Dia juga sudah meminta bantuan pada papa dan mamanya untuk membujuk calon mertuanya. Dan jawabannya tetap sama.
Tok tok tok
Suara pintu ruang kantor Nathan di ketuk.
"Masuk!"
Pintu terbuka, sekretaris Nathan datang dan memberitahu akan tamu yang datang dan sekalian meminta tanda tangan berkas.
"Ada tamu tuan Nathan." kata Rida.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Nathan.
"Gue." David masuk,
"Gue juga." Dion menyusul.
"Kami juga datang, bro. Kata Rida lo lagi muka masam aja ya? Kenapa?" tanya Jho.
"Ada lagi Rida?" tanya Nathan, sebelum menjawab pertanyaan sahabat-sahabatnya itu.
"Tidak ada tuan, tapi jangan lupa anda ada pertemuan dengan wakil direktur PT. Angkasa Group jan dua tiga puluh." kata Rida.
"Ya, terima kasih Rida. Nanti kamu ingatkan aku lagi dengan jadwal itu." kata Nathan.
"Baik tuan."
Rida pun keluar dari ruang kantor Nathan, sahabat-sahabat Nathan duduk di sofa. Ada yang masih sibuk dengan ponselnya, menghubungi sekretarisnya untuk menangani di kantor.
"Gue pusing aja, papanya Nayra belum setuju kalau gue mau nikahin dia secepatnya." kata Nathan.
"Nayra? Siapa dia. Dan lo mau nikah cepat?" tanya David tidak percaya.
"Gadis babistter anak lo itu?" tanya Jho.
"Iya, tiba-tiba gue cinta sama dia." jawab Nathan.
"Gila lo, cinta datang secepat itu dan mau menikahinya dengan cepat juga?" tanya David tidak percaya.
"Lo ngga tahu sih, gue setiap malam tersiksa karena gue pernah lihat dia di kamar Kevin cuma pakai handuk doang habis mandi. Gue coba mengabaikannya, tapi malah justru semakin menjadi. Jadi gue pikir mending gue nikah secepatnya sama dia, dan lagi memang gue sudah memikirkan dia sebelumnya. Mama juga menyuruh gue nikahin dia, tapi papanya belum setuju kalau nikah cepat-cepat." kata Nathan.
Semuanya diam, saling tatap dan menghela nafas panjang. Kini Yudha menatap David, dia memicingkan dahinya. David balik menatap heran pada Yudha.
"Lo kenapa lihatin gue begitu?" tanya David heran.
"Kasus lo sa dengan Nathan, lo pernah lihat Lea buka baju? Atau pakai handuk aja di kamarnya?" tanya Yudha, dan mendapatkan tatapan tajam pula dari ketiga sahabatnya juga.
__ADS_1
"Hei! Gue masih waras dan belum gila ya. Masuk kamar Lea sembarangan. Lagi pula, dia selalu mengunci pintu kamarnya. Gue juga mau dia kuliah dulu sebelum nikah." kata David bersungut.
"Lo udah menyatakan cinta sama dia?" tanya Yudha lagi.
"Ck! Belumlah, gue masih deketin dia. Biar dia nyaman dulu sama gue, nanti jika dia sudah nyaman sama gue. Pelan-pelan gue ngomong sama dia, kalau gue cinta sama dia." kata David.
"Ck, lambat banget lo. Coba lihat Nathan, dia udah kebelet pengen nikah." kata Jho mencibir David.
"Berisik lo! Kalau dia seumuran babysitter Nathan, gue udah ngomong dari dulu. Maksud gue sih mau bicara dulu sama mama, kalau gue suka sama Lea. Tapi belum sempat bicara sama mama, karena gue pikir ngga yakin mama akan menerima menantu seperti Lea." kata David.
Benar juga apa yang di katakan David, merebut hati mamamya David lebih sulit. Di banding menyatakan cinta pada Lea, karena sepertinya pembantu David sudah tahu jika majikannya itu suka sama Lea.
"Lo sendiri gimana Jho perkembangannya sama Seruni?" tanya Dion yang sejak tadi diam saja.
"Kalau gue sih lancar aja, setahun lagi gue nikahin dia. Seruni bilang mau membahagiakan orang tuanya dulu, membangun rumah yang sudah banyak yang rusak. Gue menawarkan bantuan, tapi dia ngga mau. Gue juga udah ke Surabaya tiga kali bertemu orang tuanya." kata Jho menjelaskan perkembangan hubungannya dengan Seruni.
"Lo yakin setahun lagi nikah sama dia?" tanya Yudha.
"Iyalah, meski gue juga pengen secepatnya menikah dengan dia." kata Jho lagi.
"Yang belum ada hilal jodohnya itu Yudha sama Dion. Kalian kapan menusul dapat calon istri lagi?" tanya Nathan.
"Gue sih tenang aja, kalau dapatnya mendadak kayak lo juga ngga masalah." kata Yudha dengan santai.
"Memang bisa jodoh mendadak? Yang ada biasanya di jodohkan sama orang tua." kata Dion menimpali.
"Ya, bila perlu gue dapat jodoh dari hasil perjodohan. Kenapa tidak?" kata Yudha menanggapi ucapan Dion santai.
"Lo jangan banyak tanya sama Yudha, Yon. Lo sendiri gimana jodohnya? Udah dapat belum?" tanya David.
"Gue kayak Yudha, santai aja." jawab Dion santai.
Mereka mengobrol sampai siang dan makan siang di kantor Nathan. Banyak sekali obrolan tentang gadis yang mereka sukai. Hingga Rida masuk ke dalam ruangan kantor Nathan, untuk mengingatkan sang bos kalau jam dua tiga puluh harus bersiap untuk bertemu wakil direktur PT. Angkasa Group.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧