
"Nathan! Keluar kamu!" teriak mamanya.
Nathan melepas pagutan bibirnya pada Nayra, dia mengusapnya. Lalu tersenyum pada Nayra, Nayra sendiri merasa malu dengan sikapnya yang mudah sekali menerima ciuman Nathan.
"Jangan khawatir, aku pasti akan menikahimu. Dan ciuman tadi hanya rasa sayangku padamu, bukan keinginan ingin menyentuhmu. Aku masih bisa tahan selama seminggu ini, jika mama dan papa tidak juga segera menikahkan aku sama kamu. Aku akan culik kamu dan membawanya ke kantor KUA untuk segera menikah." kata Nathan dengan senyum mengembang.
"Ish, bang Nathan ini. Apa sih ngomongnya, ngga sabar banget." kata Nayra merasa malu dan pipinya memerah.
"Iya, aku serius." kata Nathan.
"Udah ah, aku keluar. Tuh tante Sofie udah manggil terus, nanti di kira lagi apa di.kamar berdua." kata Nayra lagi.
"Sekarang ganti manggilnya, mama. Kan sebentar lagi mamaku jadi mama kamu juga." kata Nathan.
"Iya, tapi aku masih malu bang."
"Ish, harus biasakan. Nanti aku juga akan panggil mama sama tante Manda."
"Iya."
"Ya udah, ayo kita keluar, makan malam sama-sama." kata Nathan menggandeng tangan Nayra, dan keluar dari kamar Nathan.
Sofie, berjalan niatnya mau menggedor pintu kamar Nathan agar anaknya itu tidak berbuat lebih jauh. Tapi dia lega juga, akhirnya anaknya keluar juga dengan Nayra.
"Baguslah kalian cepat keluar. Kalau tidak, mama akan dobrak pintunya dan seret kamu keluar Nathan." kata mamanya dengan sengit.
"Ish! Mama sadis bener sama anaknya."
"Biarin, mama ngga mau kamu macam-macam sama anak orang yang belum sah. Mama yang akan malu nantinya, belum sah masa udah di DP duluan." kata mama Sofie menatap tajam pada anaknya yang memang tidak bisa sabar.
"Aku pulang aja ya tante ke rumah." kata Nayra.
Dia merasa tidak enak dengan mamanya Nathan itu. Memang dia harus berjauhan dengan Nathan, kalau tidak takutnya Nathan semakin tidak bisa menahan keinginannya.
"Eh, kok pulang. Makan dulu di sini, tante masak banyak kok kamu pulang sih." kata mama Sofie.
"Iya sayang, nanti aku antar kamu pulang ke rumah."
"Ish, deket ini kok. Tinggal nyeberang aja, kenapa harus di antar. Jangan manja deh." kata Kikan menimpali.
"Kamu ya, belum aja kamu punya pacar. Terus di sayang sama pacar kamu, baru tahu rasanya di sayang dan di perhatikan." kata Nathan.
"Yee, nanti juga dapat dari bang David. Jangan khawatir." kata Kikan.
"Jangan mengharapkan banyak pada David, dia cuma anggap kamu adik aja." kata Nathan meninggi pada adiknya.
Dia tahu Kikan suka sama David, tapi David sudah menyukai gadis lain. Jadi, sebelum perasaan Kikan lebih jauh pada David. Nathan harus mencegahnya lebih dulu, agar tidak terlalu menyakitkan bagi adiknya itu.
_
__ADS_1
Nathan kini sudah tinggal di rumah mamanya, selama dia belum menikah dengan Nayra. Begitu memang rencana Nathan, sampai mereka mendapatkan restu dari papanya Nayra. Sedangkan papanya Nathan sendiri terserah anaknya saja. Jadi, Nathan menunggu papanya Nayra kembali dari luar kota.
Rencananya kemarin malam bicara kedua keluarga. Tapi Manda, ibunya Nayra tidak bisa memutuskan karena suaminya belum pulang. Nathan jadi uring-uringan lagi karena belum mendapatkan keputusan kapan pernikahan di lakukan.
Bagaimana pun, wali Nayra adalah papanya. Jadi, harus menunggu papanya pulang dari luar kota. Dan saat ini Nathan sedang berada di rumah Nayra, mengapel ceritanya. Tapi wajahnya tetap murung, entah apa yang dia pikirkan.
"Bang, kenapa wajahnya begitu sih? Sedih banget." kata Nayra.
"Iyalah, kamu belum bisa aku miliki seutuhnya belum bisa aku nikahi secepatnya." jawab Nathan.
Mereka duduk di kursi teras rumah, di malam ini. Mereka membicarakan rencana ke depan untuk masa depan keduanya kelak jika sudah menikah nanti.
"Kamu mau punya anak berapa?" tanya Nathan.
"Ngga tahu bang, aku belum kepikiran kesana. Kan Kevin masih kecil juga, apa nanti harus punya adik?" tanya Nayra.
"Emm, terserah kamu. Tapi jangan kaget nanti jika aku akan selalu membuatmu begadang setiap malam." kata Nathan dengan senyumnya.
"Jagain Kevin?" tanya Nayra yang tidak mengerti maksud ucapan Nathan.
"Jagain aku sayang, setiap malam jagain aku." kata Nathan lagi.
"Dih, udah gede. Ngapain juga di jaga, anak kecil yang harus di jaga. Bang Nathan udah besar, udah bisa tidur sendiri." kata Nayra lagi membuat Nathan tergelak.
"Hahah!"
"Kenapa tertawa? Emang lucu?" tanya Nayra bingung.
"Abang nih, kalau bicara suka ngga ngerti di pikiranku." kata Nayra lagi.
"Iih, aku jadi gemes sama kamu. Pengen juga ku ajari bagaimana menjagaku di setiap malam." kata Nathan mengusap puncak kepala Nayra.
"Menjaga apa?"
Suara bariton milik laki-laki yang baru saja masuk ke halaman dan berdiri di teras rumah tanpa kedua orang yang sedang jatuh cinta itu sadar. Keduanya menoleh ke arah sumber suara.
"Papa!" teriak Nayra.
Nathan diam, dia berdiri dan hendak menyalami calon papa mertuanya.
"Kamu Nathan kan?" tanya papanya Nayra.
"Iya om, tetangga depan rumah. Heheh." jawab Nathan.
"Kamu lagi apa di sini?" tanya papanya Nayra.
"Lagi ngapel om, ngapel Nayra." jawab Nathan lagi masih dengan senyumnya.
"Nayra, dia kan majikan kamu? Kenapa jadi dia ngapel sama kamu?" tanya papanya.
__ADS_1
"Nanti ceritanya sama mama aja. Kok papa pulang ngga bawa mobil?" tanya Nayra mengalihkan kalimat papanya.
"Iya, mobil papa di bawa Supri. Kaca spionnya ada yang retak, jadi papa suruh ganti. Besok dia jemput papa lagi ke kantor."
"Ooh."
"Terus, kalian sedang apa berdua?" tanya papanya lagi.
"Kan aku lagi ngapel anak om." jawab Nathan.
"Nayra, dia bicara apa sih?" tanya papanya beralih pada anaknya.
"Emm, bang Nathan lagi main aja pa." jawab Nayra melirik ke arah Nathan.
Manda, ibunya Nayra pun keluar. Dia terkejut suaminya pulang tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Papa! Kenapa ngga kasih kabar mama sih kalau pulang?" kata Manda mendekat pada suaminya.
"Iya, ponsel papa mati baterainya. Jadi ngga sempat kabari mama." jawab suaminya.
"Terus, mobilnya kemana?"
"Di bawa Supri, kaca spionnya retak. Mengganggu pandangan nantinya."
Nathan di sana hanya diam, dia seolah di abaikan oleh kedua orang tua calon mertuanya itu. Nayra juga ikut mengobrol, hingga Nathan mendengus kesal karena di cueki oleh Nayra. Mereka masuk, Nayra juga ikut masuk. Senang papanya pulang dari luar kota.
Tapi tangan Nayra di tarik oleh Nathan. Nayra terkejut, lalu dia tertawa kecil. Dia melupakan Nathan yang ada di situ dengan wajah kesal.
"Kamu kok mau tinggalin aku sih?" kata Nathan dengan wajah masam.
"Heheh, maaf bang. Aku senang aja papa pulang, udah kebiasaan kalau papa pulang luar kota seneng banget." kata Nayra.
"Jadi, kalau aku pulang dari keluar kota. Kamu akan seperti itu ngga?" tanya Nathan masih muka masam.
"Emm, gimana ya."
"Nayra!"
"Hahah! Yang jelas kalau aku di tinggal keluar kota jadi kangen sama kamu bang." kata Nayra, membuat bibir Nathan melebar tersenyum.
"Uuh, seneng banget aku jadinya. Pengen cepat juga nikah."
"Sabar bang, papa baru pulang."
"Ya udah, aku bilang aja sama papa kamu kalau besok aku nikahin kamu."
"Ish, bang Nathaan!"
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧