
Yudha mulai beraksi, dia menyuruh Heri untuk menyebarkan skandal video Nathalie dan beberapa foto syurnya di beberapa media sosial. Dengan akun abal-abal, selama dua hari semuanya di sebarkan dan menunggu ada yang merespon dan menyebarkan dari akun ke akun lain.
Baru setelah ada beberapa yang menyebarkannya, akun abal-abal buatan Heri di tarik dan di hapus video dan foto-foto syur Nathalie karena sudah ada yang mengunduhnya.
"Bagaimana Heri, sudah ada yang melihat foto dan video itu?" tanya Yudha.
"Sudah pak, dan cepat sekali menyebarnya. Sehari bisa ratusan yang mengunduh dan besok sepertinya akan heboh di media sosial. Pak Yudha tinggal lihat saja nanti di media sosial." kata Heri.
"Bagus, dia sudah keterlaluan. Sudah menyebut nama firma hukum kita, dan teman-teman lain pada menanyakan. Makanya kemarin aku rapat dadakan dengan pengacara lain agar mereka tahu kasusnya seperti apa." kata Yudha.
"Tapi di televisi pengacara Sultan sudah mengultimatum pak Yudha lho, ya hanya inisial aja sih nama bapak di sebut." kata Heri.
"Biarkan saja, makanya sekarang kita tunggu berita tentang skandal itu. Dan kamu juga dapat cctv dari klub malam yang pernah Nathalie berurusan?" tanya Yudha.
"Sudah pak, ada di ruanganku."
"Bagus, berkas lainnya juga di kumpulkan. Jika Nathalie mempidanaku, aku akan melaporkannya atas kasus ayahnya Kania. Kania juga sudah siap jadi saksinya juga ayahnya." kata Yudha.
"Hemm, jadi menarik pak ceritanya."
"Ya, dia yang memulai. Coba waktu itu dia mau bertemu denganku, bukan hanya Kania yang selalu menemuiku. Akhirnya aku jadi simpati sama dia kan. Dan Nathalie yang kerepotan sendiri, keburukan tidak akan selamanya di tutupi rapat. Sekalipun ada yang mendukungnya." kata Yudha lagi.
"Emm, pak Yudha simpati saja sama nona Kania atau sekalian menyukainya?"
"Keduanya, kamu jangan memancingku terus Heri!"
"Hahah! Baiklah, cepatlah menikah pak. Aku saja bahkan tahun depan mau menikahi pacarku." kata Heri.
"Waah, selamatlah kalau begitu. Tapi kita harus berjuang untuk kasus Nathalie dulu."
"Ya, saya juga ingin secepatnya menyelesaikannya. Setelah ini saya mau mengurus persiapan pernikahanku dengan pacarku." kata Heri lagi.
Mereka diam, Yudha menyetel televisi di kantornya. Mencari berita yang sedang heboh di media televisi. Dan benar saja, dalam dua hari berita skandal Nathalie sudah sampai masuk ke berita televisi. Heri dan Yudha menonton berita itu dengan tenang.
Wartawan nampak mendatangi rumah Nathalie yang masih tertutup rapat. Ingin meminta penjelasan mengenai video dan foto-foto Nathalie itu. Ada lagi berita, Nathalie keluar dari kantor agensi lalu di kerubuti oleh para wartawan pencari berita.
Berita tentang video dan foto-foto Nathalie berseliweran setiap jam tayang berita selebriti. Yudha tersenyum puas, dia menarik nafas lega.
"Siapa yang menanam, dia yang menuai." kata Yudha.
Tok tok tok
Pintu ruang kantor Yudha di ketuk dari luar.
"Masuk!"
Pintu terbuka, nampak sekretaris Yudha masuk dan memberitahu ada tamu untuknya.
__ADS_1
"Pak ada tamu perempuan." kata sekretaris Yudha.
"Siapa?"
"Saya suruh masuk saja ya pak."
"Ya,suruh saja masuk."
Dia keluar, di susul Heri pun ikut keluar. Tak lama Kania masuk dengan ragu dan malu mendatangi ruang kantor Yudha. Yudha tersenyum senang, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Kania yang nampak ragu melangkah mendekat.
"Ayo masuk, kamu cari aku?" tanya Yudha masih dengan senyumannya.
"Ya, pastinya aku kemari mencari pak Yudha." kata Kania.
"Mau apa?" tanya Yudha.
Mereka duduk di kursi sofa saling berhadapan. Kania sebenarnya malu harus datang ke ruangan Yudha, tapi dia ingin menanyakan masalah berita di televisi.
"Sudah lihat berita di televisi?" tanya Kania.
"Tuh, lagi di lihat." kata Yudha menunjuk tangannya ke arah televisi.
"Mengenai video dan foto-foto itu, apakah pak Yudha yang menyebarkannya?" tanya Kania.
"Bukan. Buat apa aku menyebarkannya?" kata Yudha.
"Jadi, kamu yang menyebarkannya?" tanya Yudha dengan bersedekap dan menyandarkan punggungnya menatap Kania.
"Ya ngga pak, kan aku ngga nyimpan video itu. Hanya melihatnya di ponselnya saja." kata Kania.
"Kamu khawatir?"
"Aku takut Nathalie menuduhku." kata Kania.
"Jangan takut, aku sudah mempertimbangkannya. Dan masalah video itu, aku jamin kamu tidak akan terseret, mungkin dia akan menuduhku. Dan kamu siapkan saja nanti sebagai saksi tentang kejadian di rumah sakit ketika Nathalie datang mengancammu dan ayahmu. Aku akan membuka kasus itu, jika dia menuntutku." kata Yudha.
"Bukankah kejadian itu sudah lama. Memang bisa di usut lagi?"
"Bisa, makanya nanti kamu sebagai pelapornya dan aku pengacaramu dan ayahmu." kata Yudha.
"Baiklah, maafkan aku kalau aku harus datang kemari." kata Kania.
"Tidak apa, aku senang kamu datang ke kantorku. Sesekali juga tidak masalah. Jika terus-terusan, nanti curiga lagi. Hahah."
"Curiga apa?"
"Tidak, jangan di pikirkan. Oh ya, siang kita makan di kantin?"
__ADS_1
"Aku bawa bekal."
"Kenapa ngga di bawa kemari? Kita bisa makan di sini."
"Ngga enak dan ngga niat makan di sini."
"Jadi kamu mau makan sendiri bekalnya?"
"Memang mau makan bekalku?"
"Tentu saja, aku mau makan masakanmu." kata Yudha.
"Kok aku berasa jadi pacar sih?"
"Kenapa? Kan sekarang kamu pacar aku."
"Dih, kapan bilang cinta?"
"Sekarang. Aku cinta padamu, Kania."
"Apa? Hahah! Gombal banget sih pak Yudha."
"Aku serius."
"Udah ah, aku keluar aja. Takut di gombali terus. Hihihih."
Kania berdiri hendak pergi, dia hanya tersenyum saja dengan sikap Yudha yang menurutnya seperti menggombal. Yudha ikut berdiri dan dia menarik tangan Kania lalu menarik tengkuknya. Bibirnya mendarat di bibir Kania dengan cepat dan mengulumnya.
Setelah cukup, dia melepasnya dan menatap Kania lalu tersenyum dengan mengucapkan kata cinta.
"Aku mencintaimu, Kania." kata Yudha.
Kania diam, dia terpaku menatap mata Yudha. Lalu menunduk malu, pipinya memerah dan melepas tangan Yudha. Dia benar-benar malu sekali. Lalu segera berlari keluar dari ruangan Yudha.
Yudha tersenyum puas, memegangi bagian lehernya dengan tangan kirinya. Dia juga merasa deg-degan setelah sikap spontannya menium Kania itu.
"Aku kenapa? Apa dia marah?" ucapnya masih bingung.
Tapi dia kembali menetralkan degup jantungnya dan tersenyum senang. Membayangkan tadi Kania yang sepertinya tidak menolak dengan ciumannya itu. Dia yakin Kania tidak menolaknya, dari sorot matanya tadi dia melihat ada cinta untuknya.
"Baiklah, aku tidak akan ragu lagi. Dia menyukaiku juga. Hahah, rasanya menyenangkan sekali punya kekasih baru." ucap Yudha dengan tawa senangnya.
Dia lalu mematikan televisinya yang sejak tadi menyala. Meneruskan kembali pekerjaannya dan memutuskan untuk tidak makan siang dengan Kania.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧