Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
99. Tidak Sah, Eh Sah!


__ADS_3

"Apa?!"


"Iya, gue minggu depan mau nikah sama Milea." jawab David santai.


"Lo gila ya, kenapa dahuluin gue sih!" kata Jho kesal.


"Ya, lo kenapa ngga cepat-cepat juga? Terlalu sabar lo nahan, ck ck ck. Jho bisa juga tahan hampir satu tahun." kata Nathan mencibir.


"Berisik lo! Gue cuma mau menghormati keluarga Seruni. Gue mau jadi laki-laki sejati, gue sadar gue itu duda. Jadi harus sabar sama anak perawan. Kalian aja yang ngga kasihan sama pasangan kalian, terutama lo David. Masih juga kecil, mau lo nikahin." sungut Jho semakin kesal.


"Eh, Lea yang mau ya cepat-cepat nikah. Lagian ngga salah juga. Dia udah sembilan belas tahun, apa salahnya menikah muda. Gue ngga maksa dia menikah cepat." kata David tidak terima dengan ucapan Jho itu.


"Sabar Jho, gue juga belun ada pasangannya. Lo kira gue juga ngga pengen nikah lagi? Gue mau." kata Dion menepuk pundak Jho yang masih kesal dengan rencana David mendahuluinya menikah.


Padahal tinggal dua bulan lagi sebenarnya Jho menikahi Seruni. Sekarang sedang sibuk mengurus pernikahannya yang dia bulan lagi itu. Dia pun mendengus kasar, tidak seharusnya dia kesal.


Memang jodoh David lebih cepat darinya, bahkan pertama yang mendapat pacar lebih dulu adalah Jho. Tapi menikah belakangan, dia memang terlalu sabar atau terlalu cinta sama Seruni.


Nathan dan Yudha diam saja mendengar perdebatan Jho dan David. Dion kembali menyulut rokoknya dan menghisapnya dengan cepat, lalu menghembuskannya.


Pikirannya melayang pada Amelia, terlalu cepat dia memutuskan untuk menikahi gadis itu. Meski mamanya almarhum tidak memintanya untuk menikahinya, tapi pikiran Dion dia harus menikahi Amelia. Cepat atau lambat, begitu dalam benaknya.


"Terus, lo mai mengadakan acara resepsi juga atau hanya akad aja?" tanya Yudha.


"Mama minta ada resepsi juga, tapi gue pikir ngga usahlah. Mungkin hanya selamatan aja, mengundang orang terdekat." jawab David.


"Gila lo! Uang banyak dan lo kaya buat apa? Lo adakan resepsi mewah, biar istri lo senang." kata Nathan.


"Tapi Lea ngga masalah kok. Dia tidak menginginkan resepsi mewah setelah akad nikah." jawab David.


"Lo tahu cara menghargai seorang wanita kan? Lo harusnya bersyukur, berkat Lea sekarang lo tidak sekaku dulu. Bayangkan, gue kadang jengah dengan sikap kaku dan dingin lo itu. Sekarang lo berubah, itu karena gadis remaja tersebut. Jadi, lo harus adakan resepsi mewah untuknya. Bisa juga kan untuk memanasi mantan istrimu yang merasa kesal karena lo ngga bisa berubah dengan sikap dinginmu itu." kata Jho.


David diam, dia memikirkan ucapan Jho itu. Benar sekali pendapat Jho, dia sekarang tidak kaku lagi. Bahkan lebih sering banyak bicara.


"Benar kata Jho, lo sekarang berubah lebih baik. Setidaknya lo beri penghargaan lebih baik untuk Lea, ya meski dia tidak sengaja juga buat lo berubah." kata Yudha menimpali.


"Kalau untuk menghargai dia, gue udah siapkan apa pun untuk dia. Terutama nanti bulan madu keluar negeri, gue akan berbulan madu keluar negeri yang pernah dia impikan." kata David.


"Terserah lo deh." ucap Yudha.

__ADS_1


Kelimanya diam kembali, kini mereka berempat beralih menatap Dion yang sejak tadi masih menikmati rokoknya. Dia sadar keempat sahabatnya itu menatap heran.


"Kenapa kalian menatap gue seperti itu?" tanya Dion santai.


"Lo ngga ada niat nikah dadakan kan?" tanya Nathan yang mau di dahului oleh Jho.


"Kagak. Lo tenang aja Jho, gue lagi memikirkan ucapan Yudha tadi. Mungkin gue butuh waktu untuk mencari perbedaan Amelia sama Alea." kata Dion.


"Bagus, jangan sampai lo sama seperti kedua orang itu." kata Jho melirik Yudha dan David.


"Dih, lo lagi PMS ya?" tanya Yudha.


"Gue kecewa sama lo, Yudha." kata Jho memulai lagi perdebatan tak penting.


"Yaelah, lo kira gue ngga kesal apa lo umpetin istri gue di kamar hotel tempat Dion?!" ucap Yudha tak mau kalah kesal.


"Hei! Udah. Gue mau pulang, mungkin besok gue menikah dengan Amel. Dan kalian ngga usah datang jika kalian masih seperti anak kecil!" ucap Dion bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


Di ikuti oleh Nathan dan juga David. Membiarkan Jho dan Yudha berseteru, malas mendengarkan kedua orang itu masih menaruh dendam kesumat.


_


Mama David memang awalnya tidak setuju, tapi dia mencoba dekat dengan Lea untuk mengetahui seberapa baik sifatnya. Dan tak terduga, justru gadis itu membuat mamanya David malah menyukainya.


David di perbolehkan menikahi Lea secepatnya mendapatkan syarat dari mamanya, jangan sampai Lea hamil dulu sebelum gadis itu lulus kuliha. Persis sama dengan pemikirannya, hanya menunggu tiga tahun itu tidak masalah bagi David.


"Kamu sudah siap sayang?" tanya mama David ketika Lea sudah di dandani dengan cantik.


"Sudah tante." jawab Lea gugup.


"Kan kemarin sudah di bilang, jangan panggil tante. Mama, sama dengan David." kata mamanya David.


"Iya ma, Lea gugup." jawab Lea tersenyum.


"Wajar aja, semua calon pengantin itu gugup mau menghadapi acara penting itu." kata mama David.


"Emm, ma. Kata om David, Lea nanti ngga boleh hamil. Jadi nanti mama ngga langsung punya cucu." kata Lea ragu.


"Itu syarat dari mama, kamu lulus dulu kuliahnya. Baru nanti punya anak." katanya lagi.

__ADS_1


"Ooh begitu."


"Ya."


Lea tersenyum, dia lalu kembali melihat pantulan wajahnya di cermin. Tidak di sangka dia akan menikahi majikannya yang tampan itu, lagi pula entah dalam beberapa bulan dia merasakan perasaan aneh pada David ketika laki-laki itu selalu dekat dengannya.


Makanya dia memutuskan mau menjadi pacar David dulu di Lombok. Dan kini ternyata malah akan menjadi istrinya David.


"Ayo ke depan, semuanya sudah siap. David udah menunggu di masjid." kata mama David.


"Iya ma."


Mereka lalu masuk area masjid, memang sejak tadi dia sudah ada di dalam mobil. Banyak orang-orang yang ingin menyaksikan pernikahan David dan Milea. Walinya memakai wali hakim, karena Lea anak tunggal dan tidak mempunyia saudara siapa pun. Kedua orang tuanya juga sudah meninggal, jadi memakai wali hakim saja.


Tampak di depan, David sudah duduk dengan bersila. Dia juga gugup menghadapi penghulu. Di belakangnya, keempat sahabatnya datang dengan pasangannya masing-masing. Kecuali Jho, karena Seruni ada di Bali.


Kelak jika sudah menikah, Jho akan membawa Seruni ke Jakarta. Tinggal di rumahnya dan tidak bekerja lagi. Dan satu bulan lebih dia dan Seruni akan menyusul David, dan pernikahannya di Surabaya.


"Semuanya sudah siap?" tanya penghulu.


"Sudah pak penghulu." jawab David.


"Baiklah, kita mulai saja." kata penghulu lagi.


Dia mengambil buku catatan, dan memulai doa-doa lebih dulu. Kemudian menjabat tangan David yang terasa dingin karena gugup.


Lalu penghulu mengucapkan ijab kabul, David mendengarkan dengan baik dan menyambut pengucapan ijab kabul itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Milea Sharma binti bapak Sharma dengan mas kawin teesebut di bayar tunai!"


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah!!"


"Tidak sah!!"


_


_

__ADS_1


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2