
Sudah beberapa hari Yudha mendapatkan bingkisan dan amplop cokelat. Dia pusing dengan itu, belum lagi Heri sedang keluar kota. Dia juga di tugaskan oleh pengacara senior juga untuk menyelidiki kasus pembunuhan. Seorang klien berpangkat tinggi meminta pengacara senior dari firma hukumnya.
Faisal Basri, pengacara senior di kantor Yudha. Dia meminta Heri untuk mencari bukti lain untuk menjerat pelaku pembunuhan berencana.
Tok tok tok
Pintu kantor Yudha di ketuk dari luar.
"Masuk!"
Pengacara senior masuk, Yudha melihat dari jauh Faisal Basri masuk dan melangkah mendekat padanya.
"Ada apa pak Faisal?" tanya Yudha.
"Kamu sibuk?" tanya Faisal.
"Tidak juga, saya sedang santai. Tapi lagi pusing ini, setiap hari ada saja paket dan kiriman amplop di tujukan pada saya." kata Yudha.
"Paket apa?" tanya Faisal.
"Kebanyakan seperti teror dan ancaman. Ada juga bangkai tikus di kirim ke saya, belum amplop masalah foto-foto saya dengan karyawan di perpustakaan itu. Siapa yang memotretnya, apa ada penyusup di kantor ini?" kata Yudha.
"Penyusup?"
"Iya, soalnya saya ke perpustakaan itu dia foto. Berarti kan ada penyusup yang masuk ke kantor kita." kata Yudha.
"Lalu, ancaman apa lagi?" tanya Faisal.
"Banyaknya jangan meneruskan penyelidikan."
"Kamu menyelidiki kasus apa?" tanya Faisal.
Yudha lalu menceritakan awal mula dia mendapatk teror. Dari berkenalan dari Kania dan datang ke rumah model Nathalie tanpa persetujuannya. Juga membayar ganti rugi atas kecelakaan dua tahun lalu yang belum dia usut. Dan sekarang teror foto-foto serta ancaman.
Semua Yudha ceritakan, sampai dia menyukai gadis bernama Kania juga. Faisal mendengarkan dengan seksama dan manggut-manggut mendengar cerita dari Yudha.
"Begitulah pak Faisal, saya bukannya gentar. Tapi masih bingung dengan hasil penyelidikan Heri, belum jelas masalah kecelakaan dua tahun lalu itu berita dan bukti kejadiannya seperti apa." kata Yudha.
"Cukup rumit ya."
__ADS_1
"Ya. Saya hanya khawatir Nathalie itu menyakiti Kania sementara saya tidak tahu." kata Yudha lagi.
"Oh ya, kamu harus tahu kalau Nathalie itu keluarganya sangat berpengaruh. Jadi kaku harus hati-hati juga, dia juga dekat dengan pengacara handal dari firma hukum lain. Dan dekat juga dengan aparat keamanan." kata Faisal lagi.
"Ya, maka dari itu saya harus berhati-hati juga. Heri belum menyerahkan laporan dengan penyelidikikannya itu, timnya juga belum menyerahkan hasilnya." kata Yudha.
"Ya memang, tugas Heri itu banyak sih. Dia di minta dari beberapa pengacara di sini. Aku juga menyuruh dia keluar kota, mencari bukti pembunuhan." kata Faisal.
Yudha menghela nafas panjang, dia diam memikirkan bagaimana menghadapi Nathalie itu. Beberapa kali dia dapat teror dan ancaman juga. Dia hanya takut Kania di teror juga, dan di celakai. Makanya dia diam dulu sebelum semuanya di tindak lanjuti.
Tok tok tok
Pintu di ketuk, Faisal pun bangkit dia pamit pada Yudha. Seseorang masuk, dia tim dari Heri juga. Yudha senang, sepertinya ada info dari tim Heri tersebut.
"Siang pak Yudha." sapa Dias, tim Heri.
"Siang Dias, apa yang kamu dapatkan?" tanya Yudha.
"Ini mengenai kecelakaan itu pak Yudha. Ternyata kecelakaan itu memang tunggal. Jadi laki-laki yang di maksud pak Yudha itu. Yang mengendarai truk dia menabrak pohon sendiri, sebelum mobil model Nathalie menabrakkan di belakangnya dan itu mobil Nathalie menenggor truk dan menghantam sebuah tembok kuno di sana. Jadi mobil Nathalie tidak mengenai truk yang di bawa oleh laki-laki yang pak Yudha maksud." kata Dias.
"Jadi, dengan kata lain dalam satu waktu itu ada dua kecelakaan?" tanya Yudha.
"Ya, pertama truk membentur pohon besar, yang membuat supirnya pingsan dan luka. Selang beberapa menit, mobil Nathalie di kendarai dengan ugal-ugalan menabrak bagian belakang mobil truk dan menabrak tembok kuno yang agak jauh dari truk itu. Tentu saja parah bagian belakangnya karena mobil itu berputar untuk memghindar bagian depan tidak terkena." kata Dias lagi.
"Ya pak Yudha, untuk lebih jelasnya. Ada saksi yang melihat itu, beberapa orang. Membantu Nathalie tersebut dan adiknya, mereka melihat hanya mobil bagian belakangnya yang parah. Tapi ada balon penyelamat di dalam mobil Nathalie, sehingga keduanya selamat." kata Dias lagi.
"Waah, jadi Nathalie memeras ayahnya Kania. Menuduh untuk membayarnya dan sengaja mengumpankan Kania untuk jadi asistennya yang berhenti beberapa hari itu." ucap Yudha lagi.
"Kalau itu saya tidak tahu paj Yudha, saya menyelidiki masalah kecelakaan dan kronologisnya saja." kata Dias.
"Ya, tidak apa Dias. Saya hanya menebak seperti itu. Dan tolong juga selidiki lagi, mobil Nathalie di yang rusak itu di jual sama siapa." kata Yudha.
"Baik pak Yudha. Kalau begitu, saya permisi dulu." kata Dias.
"Baiklah, nanyi kamu bawa laporan kamu tadi ya ke meja saya."
"Ya pak, segera saya kirim kemari."
"Terima kasih Dias."
__ADS_1
Dias pun keluar dari ruang kantor Yudha. Yudha kini mendapat petunjuk, bahwa kecelakaan itu memang ada dua dan semuanya kecelakaan tunggal.
"Kenapa Nathalie begitu tega memeras orang yang sedang kesusahan? Dia benar-benar perempuan licik, dan sekarang? Siapa lagi kalau bukan dia yang selalu menerorku dengan mengirimi paket serta ancaman pula." ucap Yudha.
Dia berpikir, bagaimana menjaga Kania dan meminta bantuan pada kepolisian. Sedangkan Nathalie banyak mengenal kepolisian yang berpangkat lumayan juga. Juga berteman dengan beberapa pengacara handal. Sedang berpikir untuk menemukan solusinya, suara dering ponsel Yudha.
Nathan
"Aah, aku punya ide. Syukurlah Nathan meneleponku." ucap Yudha mengambil ponselnya dan menjawab teleponnya.
"Halo, Than. Ada apa?" tanya Yudha.
"Lo sibuk ngga?"
"Kenapa?"
"Kita lagi ngumpul nih di kantor David. Sebenarnya mau membicarakan proyek kerja sama kita. Tapi kalau lo ngga sibuk, datang ke kantor David. " kata Nathan.
"Oke, gue kesana. Sekalian gue mau minta tolong sama lo." kata Yudha.
"Minta tolong apa?" tanya Nathan.
"Nanti aja gue ke kantor David. Gue bicarakan apa yang harus lo lakukan nanti." kata Yudha.
"Oke, gue tunggu."
Klik!
Yudha tersenyum, dia pun segera merapikan berkas yang ada di meja. Saat ini klien-klien dengan kasus ringan dia serahkan pada tim pengacaranya. Jika memang mudah di tangani, Yudha menyerahkan pada tim pengacaranya. Tapi kalau kasusnya besar dan rumit, dia yanc menanganinya langsung. Dan kebetulan bulan ini kasus tidak terlalu berat jadi dia serahkan pada tim pengacaranya.
"Pak Yudha, ini laporan yang tadi bapak minta." kata Dias.
"Oh, oke Dias. Terima kasih ya, dan jangan lupa tadi ya." kata Yudha.
"Ya pak Yudha."
Yudha memasukkan laporan tersebut ke dalan tasnya. Lalu dia segera keluar dari ruangannya, mau bertemu dengan sahabat-sahabatnya di kantor David. Sekaligus meminta bantuan pada Nathan.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧