
Empat hari di rawat di rumah sakit, kini mamanya David sudah pulang ke rumah. Banyak rencana yang akan dia lakukan untuk melakukan perjodohan anaknya dengan pilihannya. Ada beberapa anak gadis dari temannya yang akan dia minta untuk David.
Meski dia tahu jika duda itu agak sulit mendapatkan jodoh. Bukan hanya tampan, tapi terkadang mereka menginginkan yang masih bujang. Tapi David punya kelebihan banyak, dia kaya. Punya perusahaan dan rumah sendiri, juga kelebihan lainnya tampan.
Hanya sikapnya saja yang kaku pada perempuan dan tidak akrab dengannya. Di sini mamanya akan menasehatinya agar jangan terlalu kaku pada perempuan. Dan malam ini David menginap di rumah mamanya.
"Vid, kamu sedang apa?" tanya mamanya.
"Sedang menyelesaikan pekerjaan ma, besok mau bertemu klien membahas proyek baru yang baru di garap." jawab David tanpa mengalihkan wajahnya dari laptopnya.
David mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Sekretarisnya, Imelda yang dia hubungi. Ibu Heni memperhatikan apa yang di lakukan David.
"Imelda, kamu sudah menyiapkan proposal untuk besok?" tanya David.
"Sudah pak, apa pak David butuh proposal itu?" tanya Imelda.
"Coba kamu kirim ke email saya sekarang."
"Baik pak."
Klik!
David menutup teleponnya dan menunggu email masuk. Dia menoleh pada mamanya yang masih memperhatikannya, David heran.
"Ada apa ma? Kayaknya ada yang penting ya?" tanya David.
"Emm, ngga juga. Mama mau lihat kesibukan kamu aja." kata mamanya.
"Aneh, biasanya kalau dekat dengan David selalu ada maunya deh.".
"Pintar kamu, mama jodohkan kamu ya sama anak teman mama?"
Mamanya langsung saja bicara masalah perjodohan anaknya, membuat David memutar bola matanya. Malas menanggapi ucapan mamanya itu, tak lama email dari Imelda pun masuk. David dengan cepat membuka email tersebut dan menyalinnya ke dalam filenya.
"Vid, mama serius." kata mamanya.
"Ma, jangan pikirkan itu. Lagian belum juga setahun aku menduda, kenapa mama yang sibuk sih." kata David sambil memeriksa propisal yang di kirim oleh Imelda.
"Tapi Rania udah dapat pacar baru lho, memangnya kamu ngga ngiri apa?"
"Nggak!".
"Ish, mama serius David. Mau menjodohkan kamu dengan anak teman mama. Mau ya?"
"Ngga ma."
"Pokoknya harus mau. Titik!"
David menghela nafas panjang, dia pusing dengan mamanya. Selalu tidak mau kalah dengan orang lain, padahal itu adalah hidupnya. David memutuskan tidak menanggapi ucapan mamanya lagi, dia masih fokus dengan pekerjaannya itu.
__ADS_1
Ibu Heni pun pergi meninggalkan anaknya yang sedang pusing dengan keinginannya. David menghentikan pekerjaannya, konsentrasinya pecah gara-gara mamanya masuk dan memberinya ultimatum untuk mau di jodohkan. Besok pagi-pagi dia harus pulang ke rumahnya, agar mamanya tidak lagi menyuruhnya mencari pasangan.
_
David sedang pusing kali ini, dia benar-benar di teror mamanya. Sejak dia pulang pagi-pagi waktu itu, dia di telepon mamanya. Dan kini dia menyuruh sahabatnya untuk kumpul di kantornya di jam makan siang.
David memejamkan matanya ketika keempat sahabatnya datang. Mereka ada yang membawa jajanan di pinggir jalan dan menunggu pesanan layanan antar makanan.
"Bos kamu ada Imelda?" tanya Yudha pada sekretaris David.
"Ada di dalam pa, kelihatannya sedang pusing." kata Imelda.
"Hemm, dia pusing gara-gara tante Heni kayaknya." ucap Dion.
"Masuk aja pak."
"Ya, Imelda."
Keempat duda tersebut pun masuk satu persatu, mereka melihat David sedang tertidur di kursinya. Jho maju melihat David dari dekat apakah benar David tidur.
"Gue pusing Jho, ngga tidur." ucap David tahu Jho yang mendekat.
"Lo sampai segitunya menolak di jodohin sama tante Heni. Ck ck ck." ucap Jho mencibir.
"Ish, gue pusing karena tiap hari mama bawel banget masalah jodoh-jodohan. Gimana ngga pusing, pekerjaan gue jadi berantakan." kata David.
"Dua-duanya. Mama memberi gue waktu sebulan untuk dapat pasangan, calon mantu. Kalau dalam sebulan ngga dapat, ya di kenalkan sama anak teman mama itu." ucap David.
"Nasib lo Vid, ngga enak banget." ucap Jho.
"Ish, gue santai aja kalau masalah belum punya pasangan meski kalian udah punya. Tapi bikin pusing itu mama, selalu saja membicarakan masalah jodoh. Gue masih suka sendiri, belum mau jadi pasangan." kata David menggerutu.
Jho menepuk pundak David dan mengeluskan palan dan mendekatkan wajahnya padanya, membuat David menepisnya kasar. Merasa geli dengan apa yang di lakukan Jho padanya. Semua tertawa kecil dengan kedua sahabatnya itu, David tahu Jho hanya menghiburnya saja.
"Lo kenapa sih, gue perhatian sama lo Vid." kata Jho.
"Geli gue lo begitu, berasa jadi selingkuhannya Seruni." ucap David.
"Haish, lo gimana perkembangannya sama Seruni Jho?" tanya Nathan.
"Lumayan, gue terus menelepon dia. Bulan depan gue ke Bali lagi." jawab Jho.
"Wuueesh, udah gerak cepat aja. Sukses deh buat lo Jho, semoga Seruni memang jodoh lo yang terakhir." kata Dion di angguki oleh ke empat sahabatnya.
"Ya, gue suka sama dia. Jadi gue putuskan untuk mengejar dia dan nanti gue kenalin sama keluarga gue." kata Jho.
Nathan diam saja, dia juga mempunyai kisah lain dengan baby sitternya. Namun, dia belum berani menceritakannya pada sahabat-sahabatnya karena masih ragu dengan hatinya sendiri.
Mereka pun makan pesanan yang di pesan melalui aplikasi. Dan waktu pun sudah beranjak pukul setengah dua siang, namun mereka masih asyik mengobrol. Memang rencana mereka untuk menghibur David yang sedang kebingungan dan pusing dengan mamanya.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk, Imelda masuk dan menghampiri David. David heran, apakah ada janji dengan klien.
"Ada apa Imelda?" tanya David.
"Ada mama anda tuan dengan seorang perempuan." jawab Imelda.
David mengerutkan dahinya, dia pun mendengkus kesal. Kenapa mamanya seperti itu, bertindak semaunya.
"Suruh masuk aja." ucap David dengan malas.
"Eh, kita kembali aja Vid ke kantor." kata Yudha mengisyaratkan pada ketiga sahabatnya.
"Udah, kalian di sini aja. Temani gue di sini, gue takutnya mama jadi seenaknya. Kalau kalian ada di sini sih, mama pasti bisa menahan apa yang dia mau." kata David.
"Kita ngga enak Vid dengan tante Heni, beliau bawa calon lo itu." kata Nathan.
"Udah biarin, kalian biar tahu seperti apa calon dari mama." kata David.
Mereka pun menurut, tak lama ibu Heni masuk di susul oleh seorang perempuan berpenampilan sopan dengan senyum mengembang. Cantik sih, tapi mata perempuan itu menyapu semua ruangan dan beralih pada kelima laki-laki yang duduk di sofa menatap keduanya yang baru masuk.
"David, kok ngga bilang kalau kalian lagi pada ngumpul?" tanya mamanya.
"Iya ma, kita lagi rapat dadakan." jawab David.
"Rapat? Rapat apa?"
"Ya pekerjaanlah ma."
"Ya udah, mama cuma sebentar kok. Cuma mau ngenalin kamu sama anaknya tante Sita nih. Namanya Celia, Celia itu anak tante namanya David." kata ibu Heni.
Celia pun maju mendekat pada David dan menyalaminya, bukan sama David. Tapi juga pada sahabat-sahabat David juga.
"Hai semua, saya Celia. Salam kenal ya." kata Celia dengan cerianya, matanya tertuju pada Dion dan tersenyum padanya.
Dion menyalami Celia dengan heran, begitu juga Yudha, Nathan dan juga Jho. Lebih malas lagi adalah David, dia benar-benar tidak suka pada sikap Celia yang sok akrab dengan sahabat-sahabatnya. Ibu Heni senang Celia mengakrabkan diri dengan teman-teman David.
"Ya sudah, nanti lagi Celia. Mereka sedang rapat, jadi tante hanya mengenalkan kamu sama David kok. Sekarang ayo kita pergi dari sini, Vid mama pulang dulu." kata mamanya David.
"Ya ma. Aku sedang rapat kerja sama dalam proyek baru." kata David.
Dia merasa lega karena dia tertolong oleh sahabat-sahabatnya yang masih ada di kantornya. Sedangkan Celia keluar, tapi sebelum keluar dia menoleh ke arah Dion dan mengerlingkan matanya dengan genit.
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1