
David mengantar Milea sampai gang saja. Gadis itu pun turun dari mobil David dan melambaikan tangannya pada David.
"Terima kasih om, daaah." kata Milea.
"Ya."
Milea pun melangkah dengan berjalan cepat menuju gang, sekali dia berbalik pada mobil David. Ternyata belum pergi, David melambaikan tangannya dari dalam mobil. Milea pun tersenyum, kemudian dia pergi masuk gang. Wajah Milea berubah gelisah, dia merasa takut sendiri sekarang karena dia di pecat dari pekerjaannya.
Bagaimana dia akan mengatakan pada ibunya, kalau nantinya sudah tidak lagi bekerja. Pasti akan marah, tapi lebih tepatnya ayah tirinya yang marah. Ibunya yang sakit-sakitan yang bergantung pada penghasilan ayah tirinya. Kini dia di suruh bekerja sendiri untuk membantu ibunya.
Sejak ibunya sakit, suaminya yaitu ayah tirinya jadi kurang memberikan uang pada ibunya. Bahlan Milea mendengar kalau ayah tirinya itu menikah lagi dengan wanita lain. Dai pernah menyelidilinya, dan itu benar, dia protes tapi ayah tirinya justru marah padanya dan menyuruhnya bekerja.
Ibunya sedih mendengar suaminya menikah lagi, dan kini dia bersikap kasar padanya. Dengan melindungi ibunya dan memenuhi kebutuhan hidupnya, akhirnya Milea bekerja separuh waktu di restoran. Dan tadi itu baru satu minggu, malah di pecat gara-gara wanita sombong itu.
Milea sampai di depan rumahnya, tidak besar tapi tidak kecil juga di banding dengan rumah tetangga Milea. Sekarang pukul sepuluh malam, dia berdiri di depan pintu dan menarik nafas panjang lalu mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Milea mengetuk pintu, dan terbuka. Dia melihat ibunya terbatuk.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Kamu pulang Lea?" tanya ibunya.
"Iya bu. Apa batuk ibu kambuh lagi?" tanya Milea.
"Baru tadi sore, entah ibu makan apa sampai batuk kambuh lagi." jawab ibunya.
__ADS_1
Ibu Milea duduk di kursi, sedangkan Milea masuk ke dalam kamarnya menyimpan tasnya lalu keluar lagi. Dia menghampiri ibunya yang sedang batuk sampai memegangi dadanya.
"Bu, besok periksa aja ya ke rumah sakit." kata Milea.
"Ngga usah, minum obat dari warung juga sembuh kok." ucap ibunya.
"Kalau dari warung sama aja bu, ya udah besok Lea belikan obat di apotik deh. Lea tadi dapat uang bu." kata Milea.
"Uang dari mana?"
"Emm, ada om-om kasih sama Lea. Dan Lea sekarang ngga bekerja lagi di restoran itu lagi." kata Lea merasa bersalah.
"Kenapa ngga bekerja lagi di restoran?"
"Udah di pecat tadi, ada ibu-ibu sombong yang bikin Lea di pecat. Akhirnya Lea ngga bisa bekerja lagi di sana, cuma di kasih uang aja tiga ratus ribu gaji Lea seminggu." kata Milea.
"Ngga bu, orang itu yang nabrak motor Lea waktu itu. Dia juga nawarin Lea bekerja di rumahnya, dan Lea mau. Tapi minggu depan, soalnya Lea mau belajar. Kan minggu depan Lea ujian, setelah ujian Lea lulus sekolah bu. Nanti Lea bekerja di sana, ibu jangan khawatir. Lea tetap jaga diri kok." kata Milea memeluk ibunya.
Ibu Milea menghela nafas panjang, dia lega mendengar anaknya masih memegang kepercayaannya untuk tidak melakukan apa yang banyak di lakukan teman-teman Milea untuk mendapatkan uang banyak.
Mereka menjual diri pada laki-laki hidung belang di mall-mall atau di kafe-kafe. Banyak anak gadis tetangga Milea yang seperti itu, gaya hidupnya yang mahal karena terbawa arus pergaulan di kota dan juga di sekolah mereka ada yang mengajaknya melakukan itu.
Anehnya, mereka selalu nyaman melakukannya, ibunya sendiri diam saja. Karena memang kebanyakan penghasilan dari suaminya tidak seberapa, jadi mengetahui anaknya seperti itu orang tuanya diam saja. Bahkan mereka juga sering meminta uang pada anaknya.
"Lea, ibu tidak mau kamu seperti tetangga-tetangga di samping dan di belakang rumah. Meski hidup kita pas-pasan, tapi ibu ngga mau anak ibu sampai ikut-ikutan seperti mereka. Kamu harus jaga diri nak. Uhuk! Uhuk! Uhuk!" ucap ibunya di selingi batuk.
"Iya bu, Lea juga tahu. Pokoknya Lea mau kerja apa aja kok, dan Lea tidak akan melakukan itu." kata Milea.
__ADS_1
"Syukurlah, kamu tahu itu tidak baik. Ibu hanya memikirkan masa depanmu nak. Bagaimana dengan suamimu kelak jika istrinya pernah bekerja seperti itu, kamu yang akan di hina oleh keluarga suamimu. Kita miskin jangan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang banyak. Sampai harus jual diri pada laki-laki hidung belang. Masa depan kamu panjang Lea. Kamu punya cita-cita, kamu harus mewujudkannya sendiri tanpa harus melakukan hal yang tidak baik.." kata ibunya lagi.
"Iya, Milea juga ingin kuliah bu. Banyak teman-teman sekolah yang mau kuliah di luar negeri, Lea juga ingin kuliah."
"Keluar negeri?"
"Ya di sini aja. Ibu nanti siapa yang menemani kalau kuliah di luar negeri? Lagian uangnya juga harus ngumpulin dulu, tahun depan kuliahnya bu. Lulus sekolah mau kerja aja." kata Milea.
"Ya nak, ibu terserah kamu. Nanti ibu akan jual cincin simpanan ibu." kata ibunya.
Milea diam saja, kini dia merasa mengantuk. Pembicaraan mereka pun terputus karena Milea menguap terus.
Sementara itu, David langsung pergi setelah Milea tidak terlihat lagi dari pandangannya di jalan gang tersebut. Dia tersenyum sendiri dan berpikir kenapa menawarkan pekerjaan pada Milea, yang jelas sebenarnya pekerjaannya itu tidak ada di rumahnya.
Semua sudah di kerjakan oleh asisten rumah tangganya. Tapi dia akan cari pekerjaan yang cocok untuk Milea di rumahnya nanti. David tersenyum sendiri mengingat tadi sebelum mengantar pulang Milea.
"Gadis yang lucu." gumam David.
Sampai rumah, David segera mandi dan beristirahat. Dia benar-benar lelah, besok siang dia akan ke kantor Yudha. Atau memanggil sahabatnya itu untuk membicarakan tentang wanita tadi yang sudah membuat Milea di pecat dari pekerjaannya.
Ya, David melihat kartu tanda pengenal yang terselip pada wanita tadi itu bekerja di firma hukum milik Yudha. Dia akan membuat perhitungan dengan wanita bernama Marshanda tersebut. Hatinya benar-benar kesal sekali.
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1