Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
45. Kunjungan Sahabat Cogan


__ADS_3

Ibu Heni menunggu anaknya turun dari kamarnya, sudah pukul tujuh malam David belum juga turun. Sampai ibu Heni kesal, di tunggu belum juga turun. Akhirnya dia naik dan akan masuk ke dalam kamar anaknya itu.


Bi Kokom melihat ibu dari majikannya itu naik tangga hanya menggeleng kepala saja. Dia tahu pasti nyonya besar akan menanyakan lagi masalah jodoh David.


"Bi Kokom, kenapa geleng kepala? Ada yang salah?" tanya Lea ketika dia sedang menyusun piring untuk makan malam.


"Tidak ada, kamu lanjutkan saja kerjanya." kata bi Kokom.


"Iya bi." ucap Lea.


Leni mendekat pada bi Kokom, dia membawa tumpukan baju David yang selesai di setrika. Lea menoleh ke arah Leni.


"Mbak Leni, berat banget ya bawa baju-bajunya. Bisa aku bantu?" tanya Lea.


"Ya, bantu bawakan baju tuan David ke atas ya. Kamu ambil aja bajunya di tempat setrikaan." kata Leni.


"Baik mbak."


Lea lalu pergi ke ruangan setrika, dia melihat Santi sedang menyetrika kain speri dan lainnya.


"Mana baju-baju yang mau di bawa ke kamar tuan David mbak Santi?" tanya Lea.


"Itu, satu tumpuk lagi, Leni udah bawa tadi satu tumpuk." jawab Santi.


Lea pun mengambil tumpukan baju David, dia mengangkatnya dengan pelan dan membawanya ke kamar David. Dengan hati-hati Lea membawanya, karena itu baju-baju kerja David. Dia pun masuk sebelum tadi mengucapkan permisi.


Dia melihat David sedang bicara dengan ibunya, David melirik ke arah Lea. Lea terus masuk ke dalam walk in kloset tempat baju-baju David dengan Leni.


"Vid, mama udah tua. Mama juga pengen punya cucu. Kamu kapan mau nikah laginya?" tanya mamanya.


David menghela nafas panjang, dia pusing bukan main. Seperti di kejar dept kolektor saja menagih hutang yang sangat besar.


"Ma, apa mama ngga kasihan sama David?"


"Ngga."


"Ish, mama mau menang sendiri aja." kata David masih sabar dengan ucapan mamanya.


"Mama punya kenalan, dia punya anak. Cantik banget, Vid. Maka kenalin ya?" tanya mamanya.


"Ma, nanti juga David dapat jodoh. Jangan khawatir, David juga masih muda. Baru tiga puluh tahun. Perjalanan cinta David masih panjang ma, kenapa mama memaksa banget David cepat menikah. Kalau pasangan David tidak sesuai dengan keinginan David, siapa yang sengsara nantinya? Mama atau David?" tanya David.


"Yaa, kamu." jawab mamanya.


"Makanya ma, David mau seleksi cari pasangan. Tidak semua gadis yang cantik, pintar dan juga pergaulan luas itu dia bisa jadi istri yang baik dan manja. David ngga mau nanti seperti dulu lagi, dia inginnya romantis aja di depan kamera. Aku ngga suka yang seperti itu, pura-pura romantis tapi di belakangnya justru dia tersiksa." kata David.


Semua obrolan David dan ibunya terdengar oleh Milea dan Leni. Keduanya akan keluar, namun sepertinya tidak enak jika harus menyela mereka bicara. Leni dan Lea saling pandang, meski Lea tidak mengerti apa yang di bicarakan kedua anak dan ibu itu.


"Kita keluar Lea, tidak baik menguping mereka bicara." bisik Leni.


"Lha, tadi kan mbak Leni sendiri yang menyuruh aku berhenti." ucap Lea.


"Udah ayo keluar, nanti kalau ketahuan sama tuan David di marahi lagi." kata Leni.

__ADS_1


Lea menurut, mereka melangkah pergi keluar. David memperhatikan Lea berjalan di belakang Leni. Dia pun memanggil Lea.


"Lea, sini kamu." panggil David, membuat Lea dan Leni berhenti saling tatap.


"Lea!"


"Ya tuan." ucap Lea.


Dia berbalik dan mendekat pada David, sedangkan Leni sudah keluar. Ibu Heni pun keluar, dia pasrah saja anaknya tetap kekeh tidak mau di kenalkan sama anak temannya. Dia malu pada mantan David yang sebentar lagi mau menikah dengan sesama model.


Pasalnya, ibu Heni pernah bertemu mantan menantunya itu sedang jalan dengan calon suaminya. Dan dia tahu ada ibunya David, dia menyapa dan mengenalkan pacarnya dan mengatakan akan menikah.


Itu yang membuat ibu Heni selalu menyuruh David cari jodoh atau dia jodohkan. Jadinya sekarang hanya bisa pasrah, terserah anaknya.


Sedangkan David memanggil Lea untuk menyuruhnya membereskan berkas yang ada di mejanya.


"Kamu bereakan berkas di meja itu dan bawa semuanya ke ruang kerjaku di bawah." kata David.


"Baik tuan."


"Lea?"


"Iya om."


"Bagus."


David masuk ke dalam kamar mandi, dan Lea membawa keluar berkas yang tadi di bereskannya ke ruang ruang kerja David di bawah.


_


Empat mobil masuk ke halaman rumah David, satpam sudah paham ke empat mobil itu adalah mobil milik sahabat majikannya. Jadi dia langsung membukanya ketika mobil itu mengklakson.


Nathan, Yudha, Jho dan Dion keluar semua dari mobil masing-masing. Leni yang tahu ada sahabat majikannya datang langsung memberitahu pada Santi dan bi Kokom, juga Lea.


"Hei, ada cogan datang!" teriak Leni pada Santi dan Lea.


Lea yang tidak mengerti apa maksud Leni itu heran. Apa maksud dari ucapan Leni tentang cogan.


"Cogan siapa mbak? Lee Dong Wook, atau Park Seo Jung?" tanya Lea.


"Ish, ini cogan Indonesia. Coba nanti ya, kalau tuan David manggil kita untuk membawakan makanan dan minuman pada cogan-cogan itu." kata Leni.


Santi hanya menggeleng kembali masuk ke ruang laundry untuk mencucii baju David. Bi Kokom tidak menanggapi ucapan Leni. Dan Lea biasa saja.


"Lea, kamu ngga penasaran sama cogan di depan?" tanya Leni.


"Ngga ah, males. Mending bantu bi Kokom." kata Lea.


"Huh, kamu pasti terpesona sama mereka Lea." kata Leni.


David menghampiri Lea dan Leni di meja makan, dia meminta keduanya membawa cemilan dan minuman ke depan untuk sahabat-sahabatnya.


"Lea, Leni bawa cemilan sama minuman ya. Dan nanti bi Kokom siapkan daging dan juga ikan. Dan juga alat bakaran ya. Kita mau bakar-bakaran daging, pokoknya siapkan semuanya seperti biasa." kata David.

__ADS_1


"Ya tuan." kata bi Kokom.


"Jangan lupa Lea, kamu bawa minumannya juga ke depan. Di samping rumah, di tempat kolam renang." kata David.


"Baik om." kata Lea.


"Ya sudah, jangan lama."


"Ya.


David pun kembali lagi menuju teras samping rumah yang ada gazebo juga berdampingan tempat barbeqiu dan kolam renang di sebelahnya. Karena rumah David memang di rancang teras rumah lebih besar dan dekat dengan kolam renang, agar sahabat-sahabatnya berkunjung bisa berkumpul di teras itu sampai sepuasnya.


"Mana gadis yang lo maksud, Vid?' tanya Yudha.


"Nanti dia kemari bawa minuman." jawab David.


"Mama lo gimana? Setuju dengan gadis itu?" tanya Jho kini.


"Ya kalau untuk jadi ART sih mama terserah aja."


"Lha, terus lo mau nikahi dia?" tanya Dion.


"Ngga tahu gue. Tapi gadis itu yang selalu bikin gue tersenyum." kata David.


"Ck ck ck, lo suka gadis kecil ya. Hahaha!" ucap Nathan.


"Belum, gue baru tahap suka biasa aja. Gue niat nolong dia aja kok." kara David.


"Huh, niatnya sih nolong. Lama-lama jadi tolong menolong bukakan baju. Hahaha!" ucapan Yudha membuat semua tertawa.


Lea dan Leni menghampiri kelima laki-laki tampan itu. Semua memandang Lea dengan diam tanpa berkedip dalam dua detik, tapi hanya Jho dan Nathan yang langsung berpaling. David tersenyum sinis.


"Kalian ini, sudah sana buang wajah kalian!" ucap David.


Semua tersenyum malu, Dion dan Yudha berdehem dan menepuk pundak David.


"Lo pintar juga cari mangsa ya. Hahah!"


"Ish, mangsa. Memangnya gue pemburu."


Setekah semua di letakkan di meja, Lea dan Leni segera masuk lagi ke dalam rumah. Leni sendiri meski dia sering bertemu dengan sahabat-sahabat David, selalu saja membuat dia gemetar.


"Duh, itu para cogan ganteng-ganteng banget sih." ucap Leni.


"Ooh, jadi cogannya teman om David?"


"Ya, ganteng-ganteng kan?"


"Biasa aja, ganteng juga Lee Dong Wook."


"Aaah, Leaa!"


_

__ADS_1


_


♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧


__ADS_2