
David sedang sibuk-sibuknya pada pekerjaannya. Dia sering bolak-balik Jakarta-Pulau Seribu untuk menontrol proyeknya di sana. Kadang juga menginap di Pulau Seribu, jika waktu pulang pergi tidak cukup. Hanya Imelda yang ada di kantor untuk berjaga jika ada klien yang datang untuk memenuhi janji.
Milea, sudah satu bulan bekerja di rumah David. Dia belum tahu ibunya David, dan hari ini ibu Heni datang berkunjung ke rumah anaknya karena satu bulan lebih dia tidak berkunjung.
Wanita itu malas datang ke rumah anaknya, karena perdebatannya dengan anaknya masalah jodoh selalu saja di hindari oleh David. Apa lagi sekarang dia semakin sibuk, jadi jarang datang berkunjung ke rumah mamanya.
Lea sedang menyiram tanaman sore ini, tugas Milea tidak terlalu berat. Seperti pesan David pada bi Kokom, kalau Milea melakukan pekerjaan yaitu menyiram tanaman. Merapikan ruang kerja David dan juga membersihkan kamar David.
David tidak membiarkan kamarnya di bersihkan oleh Len atau mbak Santi. Yang merapikan kamar David hanya bi Kokom yang usianya lima puluh tahun. Bi Kokom juga mengerti akan hal itu, tapi kenapa David memberikan perintah pada Milea untuk membersihkan kamarnya?
"Bi Kokom, kenapa Lea yang membersihkan kamar tuan David? Biasanya kan bi Kokom." kata Leni.
"Mungkin tuan David enak bicara dengan Lea. Lihat saja kalau tuan David bicara pada Lea, seperti bukan seorang majikan pada pembantunya. Bahkan aku pernah dengar kalau Lea memanggil tuan David itu dengan sebutan om." kata Santi.
"Apa mungkin tuan David suka ya sama Lea, karena dari cara bicara sama Lea beda deh." kata Leni lagi.
"Wajar saja kalau tuan David suka sama Lea, gadis itu pintar dan juga cantik. Apa lagi sifat cerianya bisa membuat orang senang, ya kadang dia suka ceplas ceplos." kata bi Kokom.
"Benar juga, tapi Lea itu anak yatim piatu. Waktu dua hari datang kemari itu dia sedih, karena baru seminggu ibunya meninggal. Tapi setelah satu minggu dia ceria lagi, seperti tidak pernah merasakan sedih." kata Leni.
"Ya kasihan dia, jika tuan David suka sama gadis itu. Kurasa itu wajar, dan lebih bagus, anggap saja tuan David membantu anak yatim piatu kan." kata Santi.
"Ya juga, tapi masa harus suka sama Lea? Nanti nyonya besar bagaimana? Apa akan di terima sebagai menantunya?" tanya Leni.
"Siapa yang jadi menantuku, Leni?" pertanyaan mendadak dari orang yang baru mereka bicarakan.
Ketiganya pun menoleh dan saling pandang, merasa takut jika obrolan mereka di dengar oleh ibu Heni.
"Bi Kokom, apa yang mereka bicarakan tadi?" tanya ibu Heni.
"Hanya obrolan iseng saja nyonya." jawab bi Kokom.
"Tapi tadi saya dengar kalian membicarakan gadis yang di sukai David. Siapa dia?" tanya ibu Heni penuh selidik.
__ADS_1
"Tidak nyonya, bukan itu. Leni yang sudah punya jodoh, mau di jodohkan sama orang tuanya di kampung." jawab Santi melirik pada Leni, membuat Leni melirik tajam pada Santi.
"Bi Kokom, tanamannya sudah aku siram semuanya." kata Lea baru masuk dengan cerianya.
Ibu Heni menoleh ke arah Lea yang tersenyum senang. Mereka saling menatap, Lea berhenti dan berubah jadi diam. Melirik ke arah Leni, dan Leni memberi isyarat kalau perempuan paruh baya itu ibunya David. Dan Lea harus membungkuk hormat, Lea pun mengerti.
"Siapa kamu?" tanya ibu Heni.
"Selamat sore nyonya, saya ART baru tuan David." kata Lea membungkuk hormat.
Ibu Heni mengerutkan dahinya, dia heran kenapa David mengambil ART lagi? Dia lalu beralih pada bi Kokom dan bertanya padanya.
"Siapa yang membawa dia bi Kokom? Bukankah sudah ada tiga ART di rumah ini, kenapa ambil ART lagi?" tanya bu Heni.
"Maaf nyonya, tuan David yang membawanya. Mungkin karena tuan David itu ...." ucapan bi Kokom terputus.
"Karena apa?" tanya ibu Heni mencecar.
"Maaf nyonya, saya yang minta bekerja di rumah tuan David. Apakah nyonya keberatan saya bekerja di rumah ini?" tanya Lea.
"Lalu, apa pekerjaannya bagus bi Kokom?" tanya ibu Heni.
"Iya nyonya, dia bekerja dengan baik. Ini hampir aatu bulan, belun ada keluhan dari hasil kerja Milea." kata bi Kokom
"Milea?"
"Ya, gadis itu bernama Milea. Anak baru lulus sekolah." jawab bi Kokom.
"David mengambil dia? Apa dia tidak protes dengan pekerjaan gadis itu?" tanya ibu Heni lagi.
"Ya nyonya, dan tuan David tidak banyak proetes dengan pekerjaan Milea." kata bi Kokom
Ibu Heni memandang Milea lagi, lalu dia menghampirinya. Menatap dengan penuh selidik. Milea hanya menunduk di tatap nyonya besar dari David itu.
__ADS_1
"Kamu tidak macam-macam sama anakku kan?" tanya ibu Heni.
"Tidak nyonya, saya hanya berniat bekerja di sini." jawab Milea.
"Bagus, jangan sampai kamu menggoda anakku." kata ibu Heni lagi.
Semua pembantu mendengar apa yang di katakan ibu Heni. Milea sendiri tidak berani melakukan apa pun tanpa izin dari David atau bi Kokom sebagai kepala ART.
"Mama kapan datang?" tanya David baru datang.
"Sepuluh menit yang lalu, tapi mama lihat ada pembantu baru di rumah kamu." jawab ibu Heni.
Dia melihat Milea sedang di intimidasi oleh mamanya.
"Bi Kokom, suruh semuanya bekerja." kata David.
"Baik tuan."
Bi Kokom menyuruh semua yang ada di sana pergi dari hadapan David dan ibu Heni. David melihat Milea berjalan gontai menuju belakang. Ibu Heni memperhatikan anaknya menatap Milea sampai gadis itu menghilang.
"Mama mau bicara sama kamu." kata ibu Heni.
"Nanti ma, aku baru datang dari proyek. Aku mandi dulu, dan istirahat. Mama santai aja dulu, istirahat di kamar tamu." kata David.
"Ngga perlu kamu katakan, mama juga tahu sendiri. Kamu sepertinya mau menghindar dari mama." kata ibu Heni.
"Karena mama selalu membicarakan masalah jodoh terus. Bosan aku mendengarnya ma." kata David sambil berlalu meninggalkan mamanya.
Dia naik tangga, melepas ikatan dasi di lehernya. Ibu Heni hanya menatap kepergian anaknya dengan kesal. Dia pun akhirnya pergi ke kamar tamu untuk istirahat dan juga mandi sekalian.
_
_
__ADS_1
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧