
Sudah dua bulan Milea bekerja di rumah David. Dan kali ini David banyak waktu, dia tidak lagi bolak balik ke Pulau Seribu-Jakarta untuk mengawasi proyeknya di sana. Dia bahkan sering pulang cepat.
Entah kenapa dia selalu saja ingin pulang cepat. Bisa bicara dengan Milea lama dan seringnya Milea membuat David tertawa karena kekonyolan tingkahnya atau ceritanya tentang teman-temannya.
Seperti kali ini, David berada di ruang kerjanya. Di temani Milea yang sedang membaca buku. Banyak buku bacaan di ruang kerja David, karena Milea sangat ingin kuliah jadi dia banyak belajar dan membaca buku di ruang kerja David.
"Kamu mau ambil jurusan apa jika kuliah?" tanya David.
"Emm, apa ya? Bingung om." jawab Lea.
"Kok bingung? Kan biasanya punya cita-cita ingin kuliah di fakultas apa atau ambil jurusan apa." kata David.
"Aku sebenarnya suka menggambar om, memang ada ya jurusan yang seperti itu?" tanya Lea.
"Adalah, jurusan seni. Kamu bisa ambil jurusan seni dan apa yang mau kamu tekuni. Di sana banyak sekali yang bisa kamu pilih." kata David.
"Begitu ya om?"
"Ya."
Mereka kembali diam, David meneruskan pekerjaannya. Memeriksa pengeluaran dana pembuatan proyek yang dia jalani selama ini.
"Om, besok aku pulang ke rumah. Bolehkan?" tanya Lea.
"Kenapa tidak boleh? Ya bolehlah, tapi kamu mau apa? Kan di rumahmu tidak ada orang, ibumu sudah tidak ada." kata David, Lea diam.
David baru tahu kalau ibunya Lea meninggal setelah satu minggu Lea datang ke rumahnya. Dia pikir Lea tidak datang karena membatalkannya kerja di rumahnya, tapi karena sedih ibunya meninggal satu minggu itu.
"Lea, kamu tinggal saja di sini. Sama yang lain, aku akan medaftarkanmu kuliah di perguruan tinggi di Jakarta." kata David.
"Kan setiap hari aku tinggal di rumah ini. Hanya sesekali menengok rumah om, dan kangen juga sama bu Marni. Heheh." kata Lea dengan tawa kecilnya
"Bu Marni? Siapa dia?"
"Tetangga samping rumah om, yang Lea titipin kunci rumah." jawab Lea.
"Ooh, kukira siapa."
"Boleh ya om?"
"Boleh, nanti aku antar kamu sekalian berangkat ke kantor." kata David.
"Terima kasih om."
"Tapi ngga menginap kan?" tanya David.
"Ngga tahu om, mungkin menginap satu hari atau dua hari aja kok. Kenapa memangnya om?" tanya Lea.
"Eh, ngga. Kan nanti siapa yang akan beresin bajuku kalau kamu menginap di rumahmu?" ucap David salah tingkah.
__ADS_1
David merasa Lea semakin hari membuatnya semakin nyaman dekat dengannya. Jika sampai Lea menginap lama di rumahnya, dia jadi gelisah dan kehilangan. Eh?
"Kan ada mbak Leni, atau mbak Santi. Biasanya mereka yang beresin sebelum aku datang kemari kan?"
"Ya, tetap saja. Mereka akan kerepotan jika tidak di bantu sama kamu." kata David beralasan.
Milea diam, dia hanya menarik nafas panjang dan meneruskan membaca bukunya. Sedangkan David, entah kenapa jadi berdebar hatinya.
_
Milea sudah memberitahu pembantu yang lain kalau hari ini dia akan pulang ke rumahnya. Hanya menengok rumah dan makam ibunya, mungkin menginap katanya. Dan saat ini Lea sudah ada di mobil David dia duduk di depan sesuai permintaan David.
"Kamu jangan lupa nanti kalau mau pulang telepon aku." kata David.
"Ngga usah om, kan belum tahu pulang ke rumah omnya kapan. Kalau aku telepon nanti om lagi sibuk, tetap aja ngga bisa jemput kan." kata Lea.
"Ngga, pokoknya kamu telepon aku kalau mau pulang. Titik!" kata David memaksa.
"Ish! Om maksa." ucap Milea melirik dengan wajah lucu.
"Kamu kalau muka begitu, pengen om cium. Jangan cemberut." kata David mulai berani dengan ucapan seperti itu.
"Ih, om kok mesum."
"Makanya jangan cemberut seperti itu." kata David.
"Om?"
"Hmem, kenapa?"
"Om kok wajahnya merah dan tegang." kata Lea.
"Haish! Udah diam kamu, jangan bikin konsentrasi aku hilang." ucap David tanpa menoleh ke arah Lea.
Lea hanya mencebikkan bibirnya, dia pun menatap ke depan. Melihat jalanan yang sebentar lagi sampai di gang rumahnya. Mobil memasuki gang rumah Lea, David sengaja masuk gang karena ingin melihat rumah Lea di mana.
Agar dia bisa datang tanpa harus bertanya dan mencari rumah Lea. Sesuai panduan Lea, David menjalankan mobilnya masuk gang dan berhenti agak jauh dari rumah Lea. Karena memang sempit masuk ke jalan menuju rumah Lea.
"Di sini om, berhenti. Jangan masuk lagi." kata Lea.
"Di mana rumah kamu?" tanya David.
"Tuh om, yang bercat biru. Rumahku kecil, dan sebelanya rumah bu Marni." kata Lea menunjuk rumahnya.
"Ooh, itu."
"Ya. Aku keluar dulu om. Om David berangkat aja langsung, kan udah siang ini." kata Lea.
"Aku sudah memberitahu sekretarisku kalau masuk siang." kata David.
__ADS_1
Dia ikut keluar dan berjalan di belakang Lea. Dia ingin melihat rumah Lea secara langsung. Lea pun hanya diam saja ketika David ikut dengannya. Lea menuju rumah bu Marni, meminta kunci rumah.
Bu Marni keluar dan melihat siapa laki-laki bersama Milea itu.
"Siapa laki-laki itu Milea?" tanya bu Marni.
"Itu bosku bu di rumahnya." jawab Milea.
"Ooh, ganteng ya bos kamu. Heheh." kata bu Marni.
"Ish, bu Marni ini. Ya sudah, aku ambil kuncinya. Mau lihat rumah dan mungkin mau menginap sehari dua hari aja." kata Lea.
"Oh, kamu mau menginap di rumah?"
"Iya bu. Sekalian mau nyekar di makam ibu juga." kata Lea.
"Oh, iya. Kamu belum ke makam ibu kamu. Sudah dua bulan kamu tidak pulang dan tidak ke makam ibu kamu." kata bu Marni.
"Iya. Ya sudah, aku ke rumah dulu bu.'
"Ya."
Milea pun pergi ke rumahnya lagi, David memaksa ikut masuk ke dalam rumah Lea, dan mau tidak mau Lea mengajak David masuk.
"Kamu tinggal di rumah dengan ibumu saja?" tanya David.
"Ya."
"Ayahmu?"
"Ayah kandungkun sudah meninggal, dan ayah tiriku menikah lagi ketika ibu sakit-sakitan." kata Lea, dia masuk ke dalam kamarnya.
David tertegun, begitu rumit juga kehidupan Lea dan ibunya. Dia baru tahu kalau ternyata rumah dan hidup Lea sangat susah.
Lea pun keluar lagi dari kamarnya, dia menyurih David segera berangkat ke kantor.
"Om berangkat sana ke kantor. Ini sudah siang, om juga udah tahu rumahku kan? Ya udah sana berangkat kerja." kata Lea memaksa David berngkat.
"Kamu beneran sendiri di sini tidak apa-apa?" tanya David.
"Iya. Udah sana, jangan khawatirkan aku." kata Lea.
Mau tidak mau David pun pergi, dia masuk ke dalam mobil dan segera pergi ke kantor. Karena Imelda tadi menghubunginya untuk segera datang ke kantor.
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
__ADS_1