
Setelah Marshanda keluar dari ruangan Yudha, kini David lega karena Marshanda sudah di beri peringatan oleh Yudha.
"Semoga dia berubah sesuai dengan janjinya." kata David.
"Ya, memang ada satu timnya yang pernah bilang kalau dia sangat arogan. Tidak mau mendengar pendapat orang lain, jadi dia serinf bekerja sendiri." kata Yudha.
"Pantas saja, sepertinya dia mungkin sedang marah sama rekan kerjanya. Sampai membuat orang lain rugi dan di pecat dari pekerjaannya. Tapi tidak begitu juga sebagai pengacara dan pelayan masyarakat." kata David.
Mereka mengobrol sebentar dan akhirnya David harus pergi lagi ke kantornya. Karena Imelda sudah beberapa kali meneleponnya untuk segera kembali ke kantor.
"Sekretaris lo itu benar-benar disiplin banget ya, lo harus di telepon beberapa kali sama dia." kata Yudha mengantar David sampai depan pintu ruangannya.
"Ya, dia bagus sekali dan berdedikasi tinggi. Gue nyaman dan suka cara kerja dia, jadi apa pun pekerjaannya dia sangat teliti. Tapi penampilannya itu tidak bisa gue terima." kata David.
"Lo udah tegur dia?"
"Sudah beberapa kali, tapi tetap saja seperti itu. Akhirnya ya sudahlah, gue juga butuh tenaga dan pikirannya. Bukan penampilannya, mama juga suka ngeritik. Tapi dia tidak mengindahkan, ya udah terserah dia. Yang penting pekerjaannya bagus menurut gue." kata David.
"Ya betul, yang penting dia bekerja dengan baik. Tidak lirik-lirik lo terus."
"Haish, dia ngga begitu gue lihat. Ya sudah, gue kembali lagi ke kantor. Terima kasih ya, lo udah tegur Marshanda itu."
"Oke, bro. Lo tenang aja, dia juga sekarang sudah berhati-hati kok."
"Oke."
David pun pergi dari hadapan Yudha, dia di perhatikan oleh seseorang yang tadi di panggil Yudha ke dalam kantornya.
"Jadi dia itu sahabatnya pak Yudha ya? Ganteng banget sih." gumamnya.
_
Setengah bulan sudah sejak kejadian Milea di pecat oleh manajernya di restoran. Dia juga sudah mengikuti ujian nasional, tinggal menunggu nilai turun dari pihak sekolahnya. Saat ini dia sedang duduk di warung dekat sekolah.
"Apa om itu lupa ya, kalau dia janji kau ajak kerja di rumahnya." gumam Milea menyedot minumannya di plastik.
Sedang berpikir tentang pekerjaan, Milea di kagetkan oleh temannya dengan menepuk pundaknya dengan kasar. Membuat Milea kaget dan hampir terjungkal, dia pun mendengus kesal.
"Kamu kenapa melamun aja?" tanya temannya ikut duduk di samping Milea.
"Aku lagi mikir mau cari kerja kemana setelah lulus sekolah." jawab Milea.
"Kan kamu udah kerja di restoran Sunda."
"Aku di pecat, tahu ada perempuan sombong yang buat aku di pecat." jawab Milea.
"Lho, kenapa?"
"Ck, udah deh jangan kepo. Aku males ceritanya, kamu ada teman kerja ngga. Aku ikut dong." kata Milea.
__ADS_1
"Kamu mau kerja apaan? Ada teman aku, dia kerja di diskotik. Kamu mau?" tanya Sita teman Milea itu.
"Ngga deh, ibuku ngga bakal izinin aku kerja di diskotik."
"Aah, kamu kan punya motor. Jadi ojol aja, nanti aku tanya sama bapakku cara daftar jadi ojol." kata Sita lagi.
"Motornya udah di ambil sama ayah tiriku, dia bilang lagi butuh duit. Jadi motornya di ambil lagi." kata Milea.
"Ck, terus kamu kerja apa maunya?"
"Tadinya sih ada yang ngajak aku kerja jadi ART di rumahnya, dia om om. Kelihatannya dia itu kaya, eh sampai sekarang ngga ada kabar lagi. Mana aku punya utang dua ratus ribu."
"Om om?"
"Iya. Kenapa?"
"Ish, kamu nyadar ngga sih. Nanti kamu jadi simpanan dia lagi." kata Sita menakuti Milea.
"Ngga kok, dia baik banget sama aku. Eh, kamu ingat ngga waktu motor kamu di tabrak?"
"Emm, iya. Kamu marah sama orang yang nabrak motor kamu. Lalu, apa hubungannya dengan orang yang nabrak motor kamu itu?"
"Nah, itu dia. Dia om yang nabrak aku itu mau kasih aku kerjaan. Tapi ngga ada kabarnya." ucap Milea.
"Siapa namanya?"
"Aduh, kamu lupa tanya nama om itu. Padahal sering lho aku ketemu dia ngga sengaja." kata Milea.
"Emm, ganteng sih. Tapi dia punya istrilah pastinya."
"Kamu mau jadi sugar baby si om tuh. Suruh tinggal rumahnya, modusnya kerja di rumahnya. Nanti lama-lama jadi sugar baby." kata Sita lagi.
"Ish, mana ada. Kan di rumahnya ada istrinya, mau cari masalah dengan istrinya?"
"Iya ya, tapi emang kamu mau kerja?"
"Iya. Aku pengen kuliah, tapi mau kumpulin uang dulu. Kamu kan tahu gue bukan orang kaya, lulus sekolah bisa langsung kuliah." kata Milea.
"Hemm, iya sih."
Mereka berdua duduk asyik di warung sambil mengobrol. Tidak melihat ada mobil hitam berhenti di pinggir jalan. Tampak pengemudi itu melihat ke arah Milea yang asyik mengobrol. Dia pun keluar dari dalam mobilnya, menghampiri Milea.
"Milea?" sapa laki-laki itu yang tak lain adalah David. Milea menoleh dan menatap David.
"Eeh, om. Kok ada di sini?" tanya Milea, di ikuti tatapan Sita pada David.
"Kan cari kamu, katanya mau kerja di rumahku." kata David.
"Lea, itu om yang kamu maksud?" bisik Sita pada Milea.
__ADS_1
"Iya."
"Ganteng banget ya."
"Ish, kamu itu."
Sita tertawa kecil, "Kalau jadi sugar baby om itu sih aku mau, heheh." ucap Sita lagi, tapi Milea melotot padanya.
"Jadi om kerja di rumahnya?" tanya Milea.
"Kan kamu punya utang sama aku, jadi kamu tetap harus kerja di rumahku." kata David.
"Ish, om pelit ya. Masa uang segitu di ungkit terus." ucap Milea sambil cemberut, membuat David tersenyum.
"Tapi kamu sendiri yang bilang nanti di bayar. Jadi kapan siap kerja di rumahku? Ini sudah dua minggu setelah kamu ngomong mau kerja di rumahku." kata David.
"Besok deh om, saya belum bicara sama ibu." jawab Milea.
"Ya sudah, berikan alamat rumahmu. Nanti aku jemput kamu, besok hari Minggu jadi aku ada waktu untuk jemput kamu." kata David.
"Eh, om. Namanya siapa?"
"Kamu belum tahu namaku?"
"Belum om, heheh. Kan om belum mengenalkan diri sama saya."
"Kamu nanti tahu sendiri kalau sudah kerja di rumahku. Sekarang berikan alamat rumahmu dan nomor ponselnya."
"Ish, kok om sih yang minta alamat rumah saya? Harusnya saya yang minta alamat rumah om. Sini alamat rumahnya, nanti saya ke rumah om sendiri. Ngga usah di jemput."
David diam, dia lalu memberikan kartu nama pada Milea. Sita yang sejak tadi diam saja pun ikut melihat kartu nama David.
"Om mau jadikan Lea sugar baby ya? Heheh." ucap Sita dengan tawa kecilnya.
"Sita! Kamu ngomong apa sih?!"
"Kamu ngerti ngga sugar baby itu apa?"
"Simpanan om om kan?"
"Sita!"
"Masih SMA sudah ngerti apa itu sugar baby. Ck ck ck." ucap David mencibir teman Milea itu.
"Om sudah sana pergi aja, bakal panjang kalau ngomong sama dia." ucap Milea mengusir David.
David tersenyum kecut, namun akhirnya dia pergi juga dari hadapan Milea dan Sita. Dia pun masuk dalam mobilnya dan berteriak pada Milea untuk mengingatkan besok harus datang ke rumahnya.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧