Genk Duda Meresahkan

Genk Duda Meresahkan
64. Fakta Sebenarnya


__ADS_3

Kania jalan dengan gontai di jalanan trotoar sekitar kawasan paling sibuk di Jakarta. Dia tidak tahu harus bagaimana jika Yudha tidak mau membantu Nathalie memperkarakan penggemar yang selalu meneror modelnya itu. Kania justru bingung nanti setelah tahu jika Yudha sudah mengembalikan laporannya.


"Bagaimana caranya agar pak Yudha mau membantuku ya. Masalah ini juga menyangkut masalahku juga, kalau pak Yudha tidak mau membantu. Aku juga yang akan kena, kasihan ayahku nanti." ucap Kania lirih.


Dia berjalan dalam keadaan bingung, entah bagaimana nantinya. Menunggu mobil angkot, karena mobil yang biasa dia bawa belum bisa di ambil. Tak lama angkot pun datang, Kania naik dan duduk berdesakan dengan penumpang lain.


Ponselnya berbunyi, dia mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon. Nona Nathalie, Kania menarik nafas kasar. Lalu di geser tombol hijau.


"Halo nona."


"Bagaimana dengan pengacara Yudha, apa dia mau membantuku?" tanya Nathalie.


"Masih ragu nona, pak Yudha belum memutuskan untuk membantu nona. Nona bertemulah dengan pak Yudha, kan nona sendiri yang punya masalah. Jadi, bertemu pak Yudha dan bicaralah padanya." kata Kania.


"Enak saja, aku ngga mau! Buat apa aku punya asisten seperti kamu. Yang bisa aku suruh kesana kemari. Aku sibuk, awas aja kalau gagal. Ayahmu yang aku laporkan balik." ancam Nathalie pada Kania.


"Kalau nona tidak mau bertemu dengan pak Yudha, hanya menjelsakan saja nona. Dan menyerahkan bukti pesan itu pada pak Yudha, nanti selebihnya saya yang urus." kata Kania tidak mempedulikan ancaman Nathalie.


"Aku tidak mau!"


"Pengacara Yudha itu juga sibuk, nona. Banyak pekerjaan, jika menerima kasus nona yang di anggap sepele baginya. Maka akan di abaikan, nona seperti tidak menghargai pak Yudha dan seolah nona menyepelekan pekerjaannya. Tolonglah nona, ini juga untuk nona Nathalie. Nama nona juga tidak akan rusak kalau harus ke kantor pengacara." kata Kania lagi menjelaskan.


Dia tidak peduli dengan orang-orang di sekitar menatapnya heran. Mungkin pikir mereka Kania sedang bertengkar dengan sahabat atau majikannya.


"Tidak perlu! Jika pengacara Yudha tidak membantu, cari pengacara lain! Masih banyak pengacara lain yang mau membantu kasusku itu. Kamu saja yang malas, dan tidak takut dengan ancamanku."


Klik!


Sambungan telepon terputus, Kania jadi lesu. Jika harus berganti pengacara, dia harus kembali dari awal. Dan tentunya akan sama saja dengan pengacara Yudha, jika Nathalie tetap tidak mau bertemu.

__ADS_1


"Aah, aku jadi pusing." ucap Kania.


_


Kania masih berdiam di rumah, dia tidak kemana-mana hari ini. Membiarkan kasus Nathalie menguap begitu saja. Sebenarnya dia takut itu akan berimbas pada ayahnya. Ayahnya hanya supir truk waktu masih bisa bekerja, setiap hari pergi bekerja karena ada saja pekerjaan yang menyewa jasanya untuk membawa barang dari kota satu ke kota lainnya.


Malang nasibnya dua tahun lalu ayahnya Kania menabrak sebuah mobil mewah berisi penumpang yaitu Nathalie dan adiknya. Karena mungkin mengantuk dan menghindari motor yang menyalip, akhirnya mobil truk yang di bawa ayah Kania membanting setir dan menabrak sebuah mobil mewah milik Nathalie.


Nathalie dan adiknya sih selamat, tapi mobil mewahnya ringsek bagian belakangnya. Dan truk yang di tumpangi ayah Kania juga menabrak pohon, hanya tidak terlalu parah rusaknya.


Nathalie marah-marah pada ayahnya Kania, dia menuntut ganti rugi yang jumlahnya begitu besar. Bagi ayahnya Kania tidak bisa membayarnya, karena biaya kerusakan mobil mewah sama saja membeli harga mobil baru yang hampir setengah miliar.


"Pokoknya bapak harus ganti rugi! Aku tidak mau tahu dari mana uangnya berasal." ucap Nathalie ketika dia datang ke rumah sakit menemui ayah Kania.


"Mbak, ayah saya juga kecelakaan. Mending mbaknya ngga kenapa-kenapa, adiknya juga. Sedangkan ayah saya harus masuk rumah sakit. Kita sama-sama rugi mbak." kata Kania mencoba membela ayahnya.


"Aku tidak mau tahu! Kalau kalian tidak juga membayar ganti rugi, aku bawa kasusnya ke polisi. Dengan tuduhan ayahmu memgantuk dalam mengemudikan mobilnya." kata Nathalie dengan tajam.


"Begini saja, mungkin ayah saya tidak bisa membayar ganti rugi mobil anda mbak. Tapi sebagai gantinya, saya akan jadi pembantu di rumah mbak. Bagaimana? Jangan khawatir dengan pekerjaan saya, saya juga bisa nyetir kok." kata Kania menawarkan pada Nathalie.


Nathalie menatap tajam pada Kania, lalu tersenyum sinis. Dia ingat asistennya yang selalu ikut dengannya harus keluar dari pekerjaannya, lalu akhirnya dia pun setuju dengan usul Kania.


"Baik, kamu jadi asistenku. Yang bisa bekerja apa saja kan?" tanya Nathalie.


"Ya, terserah mbak mau menyuruh saya mengerjakan apa. Akan saya lakukan." kata Kania dengan tegas.


"Bahkan kamu membersihkan kamar mandi dan toilet?" ucap Nathalie dengan meledek.


"Ya. Bila perlu." kata Kania.

__ADS_1


"Kania, apa yang kamu katakan?" tanya ayahnya.


"Tidak apa-apa yah, hanya sebentar saja kok." kata Kania.


"Sebentar? Kata siapa sebentar? Lima tahun kamu bekerja jadi asistenku di rumah. Bahkan untuk menggajimu, dan mengganti rugi mobilku pun tidak akan sampai. Jadi kamu jadi asistenku selama lima tahun, bagaimana?" tanta Nathalie.


"Baik. Lima tahun, saya bekerja jadi asisten mbak. Dan saya minta untuo di gaji separuhnya gaji normal, separuhnya untuk mencicil sebagai ganti rugi mobil mbak itu." kata Kania.


"Oke. Kamu pikir gajimu berapa? Percaya diri sekali kamu bisa melunasi hutang ayahmu." kata Nathalie.


"Meski belum bisa mengganti seluruhnya, tapi setidaknya bisa menutupi separuhnya." kata Kania.


"Baik. Minggu depan kamu bisa datang ke alamat rumahku itu." kata Nathalie menyerahkan kartu nama pada Kania.


Kania mengambil kartu nama dari tangan Nathalie. Setelah semua kesepakatan selesai, kini tinggal bagaimana dalam satu minggu Kania menemani ayahnya dalam masa pemulihan.


"Maafkan ayah, Kania. Gara-gara ayah kamu jadi bekerja di rumah gadis sombong itu." kata ayahnya Kania.


"Tidak apa-apa yah, ini juga bisa di jadikan pekerjaan setelah Kania lulus kuliah. Ya, siapa tahu nanti Kania bisa kenal orang dan ikut bekerja dengan mereka yang lebih baik." kata Kania.


"Tapi dia meminta kamu kerja selama lima tahun, Kania. Jika mau bekerja di luar, ya harus menunggu lima tahun lagi." kata ayahnya.


"Ngga apa-apa ayah, ayah jangan khawatir. Nanti Kania minta diskon beberapa bulan darinya. Agar tidak terlalu pas lima tahun, setidaknya aku bekerja dengan baik dulu. Baru nanti minta diskon waktu bekerja, heheh." kata Kania.


"Ya sudah, itu terserah kamu. Ayah hanya minta kamu jangan membuat dia kesal sama kamu, cukup dia kesal sama ayah dan kamu mengganti uang untuk ganti rugi mobilnya." kata ayahnya.


"Iya yah."


_

__ADS_1


_



__ADS_2