
Nathan, mamanya menyuruhnya menikah lagi. Dia ingin cucunya ada yang mengurusnya, tapi Nathan bersikeras ingin sendiri dulu. Lagi pula dia sudah mempercayakan Kevin pada Nayra yang mengurusnya.
"Than, mama mau kamu segera menikah." kata ibunya.
"Iya ma, nanti juga aku menikah. Mama jangan khawatir." kata Nathan.
"Mama maunya kamu cepat dapat pacar lalu cepat menikahinya. Supaya Kevin ada yang mengurus juga." kata ibunya lagi.
"Lha, kan Kevin sudah di urus sama Nayra ma. Mama nih, alasan aja Kevin ada yang ngurus." kata Nathan.
"Bukan begitu Nathan, maksud mama biar kamu juga ada yang urus. Kamu di urus, Kevin juga ada mamanya juga." katanya lagi.
"Ma, aku bisa urus sendiri lho. Udah dewasa, dan bisa kok melakukannya sendiri. Ya, terkadang aku juga suka minta bantuan Nayra kalau lagi buru-buru." kata Nathan.
"Nah, itu aja di Nayra kamu nikahin sekalian. Mama setuju kok."
"Lho, mama bawa Nayra ke rumah untuk jadi baby sitter kan ma? Bukan jadi istri."
"Ya, sekalian juga ngga apa-apa Nathan. Udah sih kamu mau, dia juga baik lho. Mama lihat dia sayang sama Kevin, waktu sakit juga dia lebih tanggap bawa ke rumah sakit sebelum kamu di kasih tahu. Coba beri penghargaan lebih istimewa sama dia."
"Penghargaan istimewa gimana ma?"
"Begini lho Nathan, kamu coba dekati Nayra. Bicara layaknya kamu dan dia itu bukan majikan dan babysitter. Dia bisa kok jadi teman curhat kamu, multifungsi orangnya, makanya mama suka sama dia dan bawa ke rumah kamu." kata mamanya lagi.
Nathan menghela nafas panjang, dia memang mengakui kalau Nayra sangat cekatan dan selalu menghormati dirinya. Juga membantunya menyiapkan segala keperluan pergi ke kantor. Karena memang dia suka meminta di siapkan.
"Lagi pula, Nayra itu cantik lho." kata mamanya lagi.
Nathan diam, apa sebaiknya di pikirkan ucapan mamanya? Menikahi Nayra. Tapi, dia tidak mencintainya.
"Mama tahu kamu sering minta bantuan pada Nayra, makanya mama minta kamu memikirkannya. Yaa, meskipun kamu belum mempunyai perasaan cinta pada Nayra. Yakin sama mama, cinta akan datang dengan sendirinya jika terus bersama." kata mamanya.
"Iya ma. Nanti aku pikirkan." kata Nathan.
Sejak pembicaraan itu, Nathan bingung. Dia justru memperhatikan Nayra yang selalu perhatian dan cekatan dengan pekerjaannya. Padahal ada pembantunya yang biasa mengerjakan, tapi Nayra dengan gesit melakukannya.
Seperti pagi ini, Nathan mau berangkat ke kantor. Dia lupa mengambil tasnya di kamar. Dia berbalik dan melihat Nayra berjalan menuju arahnya sambil membawa tas kerjanya.
"Tuan, ini tasnya. Anda lupa membawa tasnya." kata Nayra dengan senyum yang terlihat manis di mata Nathan.
"Oh ya, terima kasih Nayra." kata Nathan.
"Iya tuan."
"Kamu jaga Kevin ya, aku mungkin pulang malam." kata Nathan.
"Baik tuan." jawab Nayra lagi.
__ADS_1
"Emm, Nayra? Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Nathan ragu.
"Mana sempat saya pacaran tuan, saya tidak pernah pulang dan masih menjaga Kevin di rumah anda." jawab Nayra lagi.
"Begitu ya. Heheh, maaf kalau aku tanya masalah pribadi." kata Nathan salah tingkah.
Dia pun berbalik, kenapa dia jadi bertanya seperti itu?
"Ini semua gara-gara mama. Aku jadi memikirkan Nayra." gumam Nathan.
Dia masuk ke dalam mobilnya, melihat lagi Nayra yang masih berdiri di depan pintu menatapnya juga dengan senyumannya. Nathan tersenyum dan melambaikan tangan padanya, dia merasa sedang berpamitan pada istrinya.
"Ish, kenapa aku? Apa aku seorang suami yang sedang berpamitan sama istrinya." ucap Nathan.
Dia melajukan mobilnya menuju kantornya, dalam perjalanan dia memikirkan Nayra tadi yang membalas lambaian tangannya. Lalu Nathan menggelengkan kepalanya, seolah menolak apa yang dia lihat dan pikirkan tentang Nayra.
Mobil Nathan di belokkan ke kantor David, dia ingin bercerita pada sahabatnya itu tentang babysitternya yang entah kini jadi memikirkannya.
Jalanan macet, dia harus menunggu beberapa menit untuk sampai di kantor David. Dengan kesal dia harus terjebak macet di pagi ini.
"Kenapa juga harus terjebak macet sih." ucap Nathan kesal.
Dia melirik jam di tangannya, pukul tujuh lima belas menit. Di ambilnya ponselnya dan berniat menghubungi David.
Tuuut
"Halo, ada apa lo telepon gue sepagi ini?" suara David di seberang sana.
"Gue mau ke kantor Yudha, mau mengurus sesuatu." jawab David.
"Oh, ngurus apa?"
"Ada pokoknya, di ceritakan di telepon panjang banget. Lo mau apa?"
"Ya udah, gue ke kantor Yudha aja. Sekalian ketemu lo sama Yudha juga."
"Oke."
Klik!
_
Kini Nathan ada di kantor Yudha bersama David, mereka mengobrol masalah ringan sampai pekerjaannya di kantor. Hingga Nathan bicara serius masalah jodoh lagi.
"Gue pusing." kata Nathan.
"Pusing apa lagi? Lo selalu saja pusing, lo kaya. Anak lo juga ada yang jaga, pekerjaan lo juga lumayan. Lo pusing apa lagi?" tanya Yudha.
__ADS_1
Hari ini dia medapat aduan dua orang, David masalah surat rumah Lea dan ayah tirinya serta rentenir. Sekarang Nathan bilang pusing.
"Ck, mama. Desak gue terus suruh nikah lagi." kata Nathan.
"Ya nikah aja, beres." ucap Yudha lagi.
"Kayak nikah gampang aja, gue pusingnya mama nyuruh gue nikahin Nayra." kata Nathan..
"Nayra siapa?" tanya David yang sejak tadi hanya mendengarkan.
"Babysitter Kevin." jawab Nathan.
"Lha, terus. Apa masalahnya? Ngga masalah kan lo nikahin babysitter anak lo? Suaminya artis aja ada yang nikahin babysitternya, sampai heboh itu di tivi." kata David lagi.
"Gue belum memikirkannya. Lagi pula dia itu ..." ucapan Nathan terputus.
"Kenapa?"
"Entahlah, sebenarnya dia cantik, baik juga cekatan. Tapi gue belum berpikir masalah nikah sama dia."
"Ya tinggal pikirkan lo nikah sama babysitter anak lo itu. Gue lihat ya, anak lo udah lengket banget sama babysitter lo itu. Terus, apa yang membuat lo ragu?"
"Entahlah." ucap Nathan.
"Apa lo masih memikirkan mantan istri lo itu, yang tidak pernah datang menjenguk anaknya?" tanya Yudha.
"Ya nggaklah, ngapain gue mikirin dia. Dia aja ngga peduli sama anaknya sendiri." kata Nathan.
"Lalu apa?"
"Gue ngga tahu."
"Dengar ya Nathan, gue juga suka sama ART gue sendiri. Dia cantik, polos dan menyenangkan. Bagi gue dia bisa merubah hidup gue yang kurasa sangat monoton, tapi dia bisa merubah sikap gue selama ini." kata David.
"Terus, lo udah menyatakan cinta sama dia?" tanya Nathan.
"Belum, gue mau dia nyaman aja dulu sama gue. Dan saat ini dia sudah dekat sama gue, bahkan ART yang lain juga tahu kalau gue suka sama Lea." kata David.
"Gue heran ya, lo dan Jho itu punya mantan yang lumayan oke secara ekonomi dan kecantikan dan bukan orang pas-pasan juga. Tapi kenapa kalian justru memilih gadis biasa yang statusnya tidak sama." kata Nathan.
"Hei! Suatu saat lo akan kena ucapan lo itu sendiri. Mencintai tidak memandang status Nathan, jangan merendahkan masalah status orang." kata David kini neradang..
"Gue ngga membedakan status, hanya pekerjaan mereka yang memang kurang beruntung. Kecantikan bisa menipu, tapi kebaikan dan ketulusan seseorang itu perlu di lihat dan di pertimbangkan juga." kata Nathan.
Entah apa yang dia bicarakan, membuat Yudha dan David bingung. Tapi mereka tidak mau menanggapi ucapan Nathan yang membuat mereka terpancing untuk marah. Akhirnya hanya diam saja, secara kompak. Membuat Nathan kesal dengan diamnya dua sahabatnya itu.
_
__ADS_1
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧