
“Sialaaan! Di sini ada anjing!”
“Hei, siapa itu?!” teriak seorang gadis berpenampilan tomboi. Ia langsung mengambil tongkat bisbol yang terletak di samping pintu dapurnya.
“Mail! Kejar mereka, sepertinya mereka preman yang suka mencuri pakaian perempuan!” suruh wanita itu pada anjingnya.
“Guk! Guk! Guk!” Anjing Belgian Malinois yang ia pelihara itu memburu beberapa anak buah Soleman. Anjing itu ia bernama dengan Mail Suparman.
Gadis tomboi itu berjalan mendekat ke arah Qiram yang memejamkan mata dan memeluk kucingnya. Gadis itu berjongkok dengan bertumpu tongkat bisbol ditangan kirinya, lalu menepuk pundak Qiram.
“Hei!” panggilnya.
“Mati kalian! Mati kalian!” Qiram menendang ke sembarangan arah sambil menutup matanya.
“Hait, hait!” Gadis itu menghindar. “Woy, Gendut! Tenanglah!” seru gadis itu.
Saat mendapati suara perempuan berteriak, Qiram perlahan membuka matanya, ia masih memeluk Gippong dengan erat. Matanya mengerjap beberapa kali.
Gadis cantik tomboi yang terlihat galak. Memakai baju kaos oblong berwarna putih, celana training hitam, satu tangannya memegang tongkat bisbol, rambutnya pendek seperti potong rambut laki-laki, kulit putih bersih, memiliki banyak bulu-bulu halus di wajah dan tangannya.
Deg! Deg! Jantung Qiram berdendang bertalu-talu. Mulutnya ternganga.
“Bidadari.” gumamnya tak bisa mengontrol mulutnya.
“Hah?! Bidadari?!” Gadis tomboi itu mendelik. “Dasar bocah pengecut, kau tak pernah melihat wanita ya sebelumnya? Aku yang tak pernah dipuji cantik saja kau bilang bidadari, cih!”
“Sadarlah!” Gadis itu menyentuh pundak Qiram pelan dengan tongkat bisbolnya.
“Apa kau barusan dikejar para preman sampah masyarakat itu?” tanyanya. Qiram yang baru saja tersadar hanya bisa mengangguk, lalu berkata.
“Maaf, aku bersembunyi dibawah jemuran tiraimu. Aku kehilangan arah tempat berlari. Aku tak tau dimana harus bersembunyi lagi.”
Gadis tomboi itu meletakkan tangannya di dagu, menatap tubuh dan penampilan Qiram dari atas hingga bawah. “Kau terlihat miskin, bajumu pudar, juga ada robekan di celanamu, kenapa para preman itu harus memalakmu seperti ini?” tanyanya.
“Ka-karena ketuanya tidak menyukaiku, sejak dulu memang sering membullyku.”
Gadis tomboi itu berdecih, “Dasar lemah!” Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Qiram dan berkata, “Namaku Helmi Etika, kau bisa memanggilku Emi!”
“Namaku Qiram Candra, biasanya dipanggil Qiram.” Qiram menjabat tangannya.
“Dimana rumahmu? Biarku antar saja kau pulang, takutnya anak-anak tadi masih mengincarmu!”
__ADS_1
“Tidak, tidak usah Nona cantik.”
“Cih! Menggelikan sekali, jangan panggil aku nona cantik! Aku sudah bilang namaku Emi 'kan? Biar aku antar saja kau! Tunggulah sebentar!”
“Ja-” Qiram segera diam, karena gadis itu memelototinya. Lalu, berlalu masuk pergi ke dalam rumahnya.
Tak lama gadis itu keluar, ia memakai jacket, sepatu dan membawa tongkat bisbolnya, kemudian mengunci rumahnya.
“Woy, kemarilah, lewat di depan, jangan tunggu aku di dapur sana!” teriaknya.
“Ayo, aku antar kau pulang!” Qiram mengangguk patuh.
“Koh, koh, koh, koh, koooh! Mail! Mail!” Ia memanggil anjingnya.
Anjing itu tampak berlari dengan menjulurkan lidahnya, lalu menggoyangkan ekor panjangnya sambil mengitari Emi.
“Nih, tangkap! Ayo, ikuti aku!” ucapnya pada anjingnya, sembari melompatkan makanan pada Mail, anjing pintar itu langsung menangkap dan memakannya.
Qiram merasa sangat canggung dan malu, masa dia dikawal oleh wanita sih? Harga dirinya sungguh miris. ‘Tuhan, aku tak ingin jadi pria lemah dan miskin lagi!’
Disepanjang perjalanan mereka hanya saling diam, Emi hanya sibuk berbincang dengan Mail, sedangkan Qiram selalu menebarkan senyumnya untuk menambahkan uang tabungannya.
“Selamat Anda menyelesaikan 1000 senyuman berbalas, Anda akan mendapatkan 500.000 rupiah, selamat menikmatinya. Anda harus menyelesaikan 65.000 senyuman berbalas lagi!” Terdengar suara notifikasi kembali memberitahu.
Qiram semakin melebarkan senyumnya, akhirnya ia sudah memiliki uang 10 juta.
“Kau itu terlalu ramah jadi orang, makanya sering di-bully. Sejak tadi kulihat, kau selalu saja tersenyum pada semua orang yang kau lewati. Jadilah pria cool! Kalau begini terus, tentu saja kau selalu dihajar!”
Qiram menoleh pada Emi. “Itu....” Qiram menggaruk kepalanya, tak mungkin ia katakan agar mendapatkan uang, bisa dikira gila beneran dirinya.
“Ya, aku tau, senyum adalah bagian dari ibadah. Namun, jika semua orang kau senyumi bukannya aneh, itu namanya terlalu ramah. Cukup tersenyum pada orang yang kau kenal saja!”
“Iya.” Qiram hanya bisa menjawab patuh, tak ingin berdebat.
“Bagaimana kalau kita berhenti dulu Emi, aku lapar.”
“Tidak! Kau seharusnya mengurangi berat badanmu, lihat kau itu obesitas, lemakmu terlalu berlebihan. Aku akan mengantarmu pulang, besok aku akan mendatangi rumahmu lagi, kau harus olahraga bersamaku setiap sore. Aku biasanya hanya berlari bersama Mail setiap pagi dan sore.” tutur Emi.
“Ah?!”
“Jangan ah, ah, saja! Apa kau mau selalu dipukuli oleh preman-preman seperti tadi?! Setidaknya kau harus bisa menyelamatkan dirimu sendiri!”
__ADS_1
“I-iya.”
“Bagus!” Emi menepuk pundak Qiram.
“Ayo, cepat jalan!”
Sepanjang jalan, Qiram menahan bibirnya agar tak menebar senyum, jujur kini hatinya sedikit kesal, uangnya tertunda gara-gara Emi. Apalagi gadis itu akan datang kembali besok untuk mengajaknya berlari-lari kecil di sore hari? Jelas-jelas ia hanya ingin mencari uang dengan menebarkan senyuman.
Akhirnya, mereka sampailah ditempat tinggal Qiram.
“Kau sudah pulang Qiram?!” tanya Lil O, pria itu sedang memasak sayuran dan goreng ayam.
“Hai!” sapa Emi pada Lil O. “Dia teman sekamarmu?” tanya Emi pada Qiram.
“Iya, kenalkan, dia Lil O.”
“Hai, saya Lil O!” Lil O mengulurkan tangannya.
“Saya, Emi!” Ia menjabat tangan Lil O.
“Kalau begitu aku pamit dulu, Qiram. Besok aku akan datang kembali!”
“Iya, terimakasih Emi.”
“Sip!” jawab Emi, lalu berjalan pergi.
“Cie, cie, kau semakin keren Qiram, memiliki teman yang cantik dan terlihat sedikit tomboi ya?”
“Apaan sih! Ayo kita berkemas dan pindah!” ajak Qiram.
“Loh, kenapa pindah? Kau takut karena gadis itu ingin bertemu denganmu kembali esok? Ahahaha! Jika aku jadi kau, aku pasti akan menunggunya sejak pagi buta dan berdandan, kau malah ingin mengelak!”
“Bukan karena dia Lil O! Tetapi karena Soleman sudah tau kita tinggal dikawasan ini! Kita harus segera pindah!”
“Apaa?! Kok bisa?” pekik Lil O.
“Makanya, kita harus pindah sekarang!”
“Tetapi kita harus pindah kemana Qiram? Uang sewa baru saja kita bayar beberapa hari lalu, sayang sekali...”
Qiram menepuk pundak Lil O. “Soleman hampir saja mematahkan kaki dan tanganku tadi, aku dibantu oleh gadis yang tadi. Kau sendiri tahu 'kan, bagaimana Soleman dan gangnya? Apalagi kita melarikan diri dari hutang yang tidak jelas itu.”
__ADS_1
Hutang? Jika membahas hutang, Qiram tak pernah berhutang sebenarnya, hanya karena Qiram melewati jalan umum tempat mereka duduk nongkrong, Qiram harus membayar 5 juta. Tentu saja dia tak memiliki uang sebanyak itu dulu. Kini, walaupun ia memiliki uang sebanyak itu, ia malas membayarnya, memilih menghindari Soleman, karena ia selalu saja terbayang kehidupan kelam sebelumnya setiap melihat Soleman.