Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Orion dan Vega


__ADS_3

Max kembali ke rumah Nenek dan Kakek, di bak belakang mobilnya penuh dengan sayuran dan buah. Max membantu Nenek memapah Aini masuk ke dalam mobil. Sedangkan Kakek masuk ke rumah mengambil kain dan perlengkapan, lalu mengunci rumah.


Nenek duduk di depan bersama Aini di samping Max, sedangkan Kakek duduk di belakang, saat melewati perbatasan tanahnya, dengan tanah orang lain, dia berteriak pada dua orang pria muda.


“Jack, Kel, aku ke rumah sakit bersama istriku dan Lady, tolong jaga ternak ya!”


Dua pemuda itu mengacungkan jempol. Mereka bekerja bersama Nenek dan Kakek di bagian ternak, sekarang mereka berdua tengah menyabit rumput untuk sapi dan domba untuk makan ternak pada malam hari, saat ternak di masukkan ke dalam kandang.


Max cukup laju mengendarai kendaraannya. Apalagi setelah Aini meringis terus menerus menahan kesakitan.


Tak lama, mobil max yang berisi sayuran sampai di parkiran rumah sakit terdekat. Nenek dan Kakek segera mengurus Aini untuk ditangani dokter segera, sedangkan Max langsung pergi dari sana karena dia juga tengah sibuk dengan sayuran dan buah-buahan yang akan dia antar kepada pembeli.


Dokter segera menangani Aini, karena dia mengalami banyak pendarahan, kelelahan, apalagi bayinya saat di usg kembar, bahkan tali pusat mereka terlilit di tubuh salah satu, sehingga Aini harus segera di operasi.


Tak berpikir lama, Nenek dan kakek menyetujui dan menandatangani surat-surat medis, karena Aini tiba-tiba saja pingsan.

__ADS_1


Nenek dan Kakek saling berpegangan tangan dengan cemas di ruang tunggu. Tak bosan-bosannya mereka berdo'a untuk keselamatan Aini dan calon anaknya.


Kurang lebih satu jam-an lampu di ruang operasi di padam kan. Bahkan mulai terdengar suara tangisan bayi. Tak lama, dua orang suster membawa dua bayi yang memiliki gelang berwarna merah dan biru, dua bayi itu di masukkan ke dalam tabung kaca khusus bayi (incubator).


Selang beberapa puluhan menit kemudian, dokter pun juga keluar dari ruangan itu. Nenek dan Kakek langsung berdiri dan menghadang sang dokter, bertanya tentang keadaan Aini.


Dokter menjawab, jika untuk saat ini Aini masih belum sadar karena efek bius, sebentar lagi dia akan dipindahkan di ruang rawat inap.


Nenek dan Kakek berjalan ke arah dimana dua bayi di letakkan. Di sebalik kaca, sepasang manusia tua renta itu tersenyum dan menangis haru. Mereka sangat gemes melihat dua bayi mungil yang masih merah itu.


Aini sudah di pindahkan di ruang rawat inap, dia juga sudah sadar.


“Nek, Kek, bagaimana dengan anakku?” tanyanya saat pertama kali sadar.


“Mereka sehat, tapi kata dokter mereka harus dihangatkan dulu sebentar di tabung incubator,” jawab Nenek.

__ADS_1


“Iya Lady, kamu punya sepasang anak, mereka laki-laki dan perempuan.” Kakek juga menyambung dengan senyuman bahagia.


“Selamat ya Lady. Sekarang, Lady harus makan ya, soalnya saat operasi tadi, pasti banyak darah yang keluar, jadi harus isi energi, biar kuat, sehat dan banyak air susunya.”


Sang nenek mengambil mangkok yang di sediakan rumah sakit, serta menyendok kan makanan dan sayuran yg dibuat rumah sakit untuk Aini. “Makan dulu yang ini, nanti Nenek akan buatkan makanan yang enak di rumah.” nenek menyuapkan Aini pelan.


“Makasih Nenek dan Kakek, telah menjaga dan mengkhawatirkan saya.”


Setelah beberapa jam berlalu, anak kembar Aini pun di letakkan di dadanya dengan menelungkup.


“Orion, Vega, selamat datang Sayang,” gumam Aini pada kedua bayinya.


“Wah, kau sudah memiliki nama untuk mereka berdua, Lady? Nama mereka indah, rasi bintang, Orion dan Vega. Cantik ya, Kek!"


“Iya,” jawab Kakek setuju.

__ADS_1


__ADS_2