Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Marissa


__ADS_3

“Boleh antarkan kami melihat bangunan 1,5 Milyar kembali.” Qiram ingin memastikan yang dilihatnya hanya sekilas tadi saat melewati bangunan itu ke bangunan ruko yang berharga 2,19 Milyar.


“Ya, baiklah, silahkan, Pak, Buk,” ucap ketua tim marketing itu sopan, sedangkan pemuda yang tadi menemani Qiram, diminta kembali menjaga kantor marketing di depan.


Sebenarnya, ketua tim ini berdongkol sepanjang jalan, masih meragukan dan menganggap Qiram banyak gaya.


Ketua tim itu membuka bangunan ruko dengan kunci cadangan miliknya, memperlihatkan isi bagian dalam ruko, tanah bagian belakang yang sengaja di kosongkan dan bagian depan juga cukup luas.


“Bangunan ini ada 6 yang kosong, ya? Apakah berdekatan? Atau berjarak?”


“5 ruko sebaris dan sejajar, satu lagi terpisah dengan satu ruko, karena ada yang telah menawar sebelumnya ruko disamping 5 baris ini,” jelasnya, masih mencoba ramah.


‘Cih, mulai sok lagi!’ dongkolnya.


“Ah, sayang sekali ya. Jadi, kalau aku beli ruko tadi 5 baris dan ini enam baris, aku mendapatkan potongan harga berapa ya jika dibayar cash?” Qiram kembali bertanya.


‘Cih!’ Ia mengejek Qiram dalam hati.


“Seperti yang saya jelaskan tadi Pak, Ruko di bagian barat, bangunan hook diberikan potongan harga 20 juta, sedangkan yang lainnya 10 juta. Lima ruko bagian barat, Bapak mendapatkan potongan harga sebesar 60 juta. jadi total semuanya seharga 9,59 Milyar. Sedangkan ruko bagian timur, setiap bangunannya akan mendapatkan pemotongan harga 15 juta. Jika Bapak mengambil 6 ruko, berarti Bapak akan membayar 8,1 Milyar. Total keseluruhan yang akan bapak bayar 17, 69 Milyar,” jelas pria itu jumawa, ia merasa Qiram tak akan bisa membayarnya.


“Apakah tidak bisa di diskon lagi?” tanya Qiram tersenyum.


“Tidak bisa, Pak. Itu sudah ketentuan, kami hanya pekerja yang mengikuti instruksi pemilik bangunan saja,” sahutnya.


“Baiklah, mari kita urus surat menyuratnya,” ajak Qiram tersenyum.


“Bapak akan mengambil 5 ruko bagian barat dan 6 ruko bagian timur? Harga 17,69 Milyar, dengan bayaran cash?” Pria itu kembali menjelaskan.


“Iya,”


Proses jual beli pun telah selesai, Qiram telah mendapatkan surat kepemilikannya dengan mentransfer uang sebesar 17,69 Milyar. Pemuda yang tadi mengejek Qiram dalam hati menjadi malu sendiri setelah Qiram benar-benar membelinya dengan cash.


Qiram menepuk pelan pundak pemuda yang tadi melayaninya dengan sepenuh hati dan ramah. “Terimakasih telah melayani dengan sepenuh hati, aku Qiram.”


“Terimakasih juga Pak, aku Adnan.” Pemuda itu tersenyum.


“Ini nomor teleponku, aku berharap kau menghubungi ku jika sudah istirahat bekerja, aku ingin mengajakmu makan bersama!” Qiram menyodorkan secarik kertas yang berisikan nomornya.


Tadi, ia sempat menulis nomor hp nya di sebuah kertas saat melakukan proses surat menyurat jual beli. Qiram sudah merasakan sikap buruk ketua tim, jadi ia hanya ingin memberikan hadiah pada pemuda yang tadi melayaninya dengan sepenuh hati.


“Baik, terimakasih banyak, Pak.” Ia mengambil kertas itu, kemudian menyimpannya di dalam kantong celananya.


Tak terasa, melihat-lihat ruko dan melakukan proses jual beli menghabiskan waktu yang cukup lama, kini langit sudah berubah jingga.


“Bagaimana kalau kita makan dulu, aku lapar.” Qiram menoleh pada Jekcy dan Raina.


“Ayo!”



__ADS_1


Mereka telah sampai di restoran seafood.



Selama seminggu, Qiram boleh mencicipi makanan enak yang ia suka selama satu hari, dalam porsi tidak berlebih, jadi hari ini ia memutuskan makan enak, karena ia jalan bersama dengan Raina.



Makanan seafood telah terhidang di atas meja, mereka menyantapnya dengan lahap, tak lupa Qiram juga meminta dibungkus kan kepiting pesanan Hafisa.



“Nona Raina, saya berharap Anda akan mengirimkan saya denah bangunan untuk klinik baru kita secepatnya, supaya kita bisa mempermak bangunan itu dan bisa pindah segera dari klinik lama,” ucap Qiram disela makannya.



“Tentu, saya akan segera mengirim denahnya, nanti malam akan saya buat.”



“Hehehe, jangan seperti itu, jangan lupa istirahat juga Nona,” sahut Qiram terkekeh.



Qiram hanya memakan 3 ekor udang, satu kepiting ukuran menengah dengan 3 sendok kecil nasi. Raina menatapnya dan baru menyadari jika tubuh Qiram sudah jauh mengalami penurunan, sejak tadi ia terlalu fokus akan ruko mahal yang dibeli Qiram, masih tak menyangka pemuda didepannya membeli dua baris ruko. Jadi, ia sungguh tak sadar akan penurunan berat badan Qiram.




“Terimakasih, Nona. Apa sebelumnya sangat tidak tampan, ya?” celetuk Qiram dengan sudut bibir tersenyum kecil.



“Ah, tidak, maaf, Tuan Qiram. Bukan begitu maksudnya. Tuan Qiram, semakin bertambah tampan sejak badannya bertambah kurus, sebelumnya masih tetap tampan, kok.” Raina berusaha keras menjelaskan agar Qiram tak sakit hati mendengar ucapannya.



“Hehehe! Iya, aku paham, Nona. Jangan serius begitu.” Qiram terkekeh kecil. “Oh, ya, Nona, sekalian juga berikan saya kerangka rincian untuk bahan dan alat klinik hewan kita, berapa dana dan lainnya.”



“Itu, bisa kita beli perlahan, Tuan.”



“Iya, makanya, aku ingin rinciannya, aku takut menghabiskan semua tabunganku dengan cuma-cuma dan berfoya-foya tidak jelas. Oleh karena itu Nona, saya ingin berinvestasi lebih, mungkin memulainya dengan perlahan, berharap nanti semakin berkembang dan sukses. Jadi, hari tua aku bisa bersantai.”



“Itu adalah pemikiran yang sangat bagus, Tuan Qiram. Saya sungguh kagum pada Anda,” puji Raina.

__ADS_1



“Saya juga kagum pada Nona. Cantik, mandiri, dan pintar,” sahut Qiram.



Qiram tersenyum seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa, tetapi tidak bagi Raina, jantungnya berdetak kencang, pipinya memerah.



“Aku ke toilet dulu!" Raina langsung berdiri terburu-buru, ia tak ingin Qiram atau Jecky melihat wajahnya yang memerah.



Saat Raina pergi ke toilet, seorang wanita cantik, tinggi semampai dengan tubuh ideal sempurna, ia di kawal dengan beberapa pengawalnya, memilih duduk di bangku yang diduduki Raina tadi.



“Boleh aku duduk di sini?” tanya wanita cantik itu.



“Em, boleh sih, tapi tempat duduk itu-”



“Ya, silahkan!” sahut Jecky memotong ucapan Qiram. Qiram menoleh pada gurunya.



‘*Apa Guru kenal dengan wanita ini*?’ Qiram mulai melihat ke sekeliling. Beberapa pengawal berdiri di samping wanita itu, di luar pintu masuk juga ada beberapa orang, di meja resepsionis juga ada, Qiram bisa melihatnya karena pembatas restoran ini dari kaca bening.



“Aku Marissa, pemilik restoran ini.” Ia memperkenalkan dirinya dengan menjulurkan tangan ke arah Qiram.



“Aku Qiram,” sahut Qiram menyambut uluran tangan itu.



Ia lama memegang tangan Qiram tak melepaskannya. Membuat Qiram merasa tidak nyaman. “Tuan Qiram, saya ingin bertemu Anda lagi, ingin berbincang banyak, tolong hubungi saya, ya.” Ia mengeluarkan kartu namanya.



“Kalau begitu, saya permisi dulu, ada keperluan, tolong Tuan hubungi saya. Saya sangat menantikannya.” Setelah berkata seperti itu, wanita cantik bernama Marisa itu berlalu pergi.



Qiram melihat kartu nama, kemudian matanya terbelalak. “Ceo Marissa! Dia adalah kekasih Roki Albusro di kehidupanku yang terdahulu, apakah sekarang mereka belum berpacaran?” gumam Qiram.

__ADS_1


__ADS_2