
Tiba-tiba Qiram bangkit, ia teringat jawaban guci barusan. “Sampai kepingan emas habis? Maksudnya apa?” Qiram berpikir keras.
Dia mulai menatap penuh selidik setiap inci bagian guci. Di leher guci itu ada bekas batangan emas dan ada beberapa batangan emas yang masih menempel. Qiram menghitungnya
“9? Kok bisa ada bekas emas batangannya 9? Aku 'kan baru meminta permohonan, jalan, senyum, mencicipi rasa, dan tambah kuat 'kan? Baru empat! Kok bisa jadi 9, sih?” Qiram bergumam sambil mengingat-ingat. Lalu, dia menghitung sisa emas batangan.
“Cuma sisa 5? Jadi, aku hanya punya 5 permintaan lagi? Tapi ... ini saja aku minta 4, bekas emas batangannya sudah 9!”
Qiram meletakkan guci kembali di tempatnya dengan sangat hati-hati. Kemudian berjalan ke tempat ia menyembunyikan perhiasan yang ia beli beberapa saat yang lalu serta emas batangan yang ia simpan.
“Hah, 8? Jadi benar, emas batangannya ada 9? Jadi-” Qiram memijat kepalanya bingung, setelah menghitung batang emas yang ia simpan.
Ya, dia baru menjual emas batangan yang jatuh dari guci itu hanya satu. Saat pertama kali dia membuat permohonan. Selebihnya ia simpan.
“Apakah kedatangan guru, Gippong, dan mobilku serta hadiah uang besar kemarin termasuk dihitung juga?”
Qiram menutup kembali ruangan penyimpanan guci emas dan perhiasan lainnya. Ia kembali ke ranjang dan memilih tidur.
***
Malam hari, dia terbangun dan merasa haus, seperti biasa Qiram suka terbangun dan minum tengah malam. Ia melihat sosok cantik nan bahenol, siapa lagi kalau bukan Gippong. Kucing hitam itu sudah berubah jadi gadis cantik nan menggoda.
__ADS_1
Saat ia melihat Gippong, ia langsung bermanja, mengusapkan wajahnya pada wajah Qiram, meletakkan tangan Qiram di kepalanya, layaknya kucing, ingin dielus.
Qiram menjaga jarak sambil berdehem. “Ehem, Gippong, saat kau menjadi gadis cantik seperti ini, jangan bersikap seperti kucing!”
Bola mata Gippong yang jernih menatap Qiram, lalu menunduk, tampak sedih.
“Astaga, kau imut seka-” Qiram langsung menutup mulutnya. Ya, Gippong terlihat sangat imut, menjadi kucing atau manusia, dia benar-benar imut.
“Ekhem, jangan bersikap imut seperti itu. Kau sekarang menjadi manusia!” Lagi, Qiram merubah gaya bicaranya agar terlihat cool.
Gipong mengangguk, berjalan mengambilkan air segelas, memberikan pada Qiram.
“Makasih!” Qiram langsung meminum air itu. “Kenapa kamu duduk di sini sendirian? Kenapa tidak tidur?” Qiram bertanya setelah menghabiskan air di dalam gelas itu.
“Bebas? Pergi? Kemana? Majikanmu itu aku, aku yang merawat dan memungutmu saat itu. Asal kau tahu, kau itu hadiah untukku! Jadi jangan bersedih dan berpikir kita akan berpisah dan tidak tinggal bersamaku lagi, kecuali aku mati!”
“Tidak! Tidak Tuan! Kau tidak boleh mati lagi! Tidak ada kesempatan selanjutnya lagi!” Gippong memeluk tubuh Qiram, membenamkan wajahnya di dada Qiram.
“Tidak boleh mati lagi? Tidak ada kesempatan selanjutnya? Apa maksudnya, Gippong?” Qiram memegang bahu Gippong, menatap lurus mata jernih gadis kucing itu.
“Bukankah Tuan berkata aku ini hadiah, karena aku hadiah, aku tahu ini kehidupan keduamu, Tuanku!” jawab Gippong. “Uhuk! Uhuk!” Tiba-tiba Gippong jatuh, mengeluarkan darah di hidung dan mulutnya, kerongkongan nya sakit dan tercekat seolah ada yang mencekiknya dengan kekuatan magic yang tak kasat mata.
__ADS_1
Dia masih memegangi lehernya.
“Gippong, kau kenapa?!” jerit Qiram terkejut.
Tubuh Gippong mulai menyusut dan berubah kembali menjadi kucing. “Gi-Gipong!” Qiram menggendong kucing hitam yang menutup mata itu.
“Dia masih hidup, tapi mulutnya terus mengeluarkan darah. Bagaimana ini?” Qiram kebingungan, cemas, khawatir menjadi satu.
Satu-satunya yang ia ingat adalah Dokter Aini Farha. Ia lupa jika kini tengah malam, tetapi karena cemas, ia jadi lupa waktu.
Tuuuut!
Tuuuuuut!
Tuuuuuut!
Untuk ketiga kalinya, barulah Dokter Aini Farha megangkat telepon dengan suara serak.
“Dok, kucingku berdarah dan sakit, tolong aku! Aku sedang berjalan dan menuju ke klinikmu sekarang!” Qiram berbicara buru-buru, menyetir mobil dengan sangat kencang. Ia sangat panik.
Satu hal kecerobohan yang ia lakukan kali ini. Dokter Aini Farha adalah dokter umum untuk manusia, seharusnya, ia membawa Gippong pada Raina Ozra, gadis itulah yang membuka klinik hewan, karena Qiram lebih sering komunikasi tentang kesehatan dan keselamatan pada Aini, jadi saat ia panik seperti ini, yang dia ingat hanya Dokter Aini.
__ADS_1
Ya, dia tak terlalu dekat dengan Raina Ozra, dia hanya membahas tentang bisnis dan investasi bersama gadis pintar itu.
...----------------...