
“Aaaah!” Aini Farha terpekik, saat tangannya tertimpa darah Gippong yang tercampur dengan asam nitrat.
Aini awalnya hanya ingin mencoba untuk mencocokkan penelitiannya, namun ia sedikit ceroboh, ia malah tersandung dan sikunya menyikut botol darah Gippong bersamaan dengan asam nitrat. Bergegas Aini sambut agar benda berharganya itu tidak pecah.
Asam nitrat, senyawa tak berwarna, sekaligus racun yang bisa membakar, dua botol darah dan botol asam nitrat itu beradu ditangan yang menyambut. Ting! Dua botol itu tiba-tiba retak dan cairan didalamnya menyatu.
Tangan Aini terasa terbakar, melepuh, tetapi sebenarnya tangan dia tak apa-apa, hanya saja, terlihat aneh, zat cair dari asam nitrat dan darah Gippong menggumpal seperti ulat bulan, merangkak masuk ke pembuluh darah Aini.
Menjalar dari urat nadinya terus naik ke atas, melalui dadanya dan turun ke perut Aini. Saat tiba di perut, Aini terpekik keras kembali.
“Aaaaakkh!” Satu pekikan lantang yang keluar dari mulut Aini mengakhiri kesadarannya dan dia pun pingsan.
***
Deg! Deg! Deg! Jantung Jecky berdetak cepat tak beraturan, seolah merasakan ada sesuatu. Tanda-tanda kehidupan baru. Dia berlari ke arah kuburan Gippong, hanya ada sebuah pohon berbunga nan rimbun.
“Apa perasaanku saja? Atau karena Marissa sudah hamil?” Jecky bergumam. “Aurin Erz, bahkan di kehidupan kedua ini, keadaanmu masih sama, walaupun kau telah lebih dulu mendekat padanya, namun takdir masih tak menyatukan kalian. Sepertinya keturunan Kaluarga Erz akan musnah.” Jecky membelai lembut bunga berwarna keemasan itu.
__ADS_1
“Tapi, Aurin, kenapa daunmu berubah bentuk dan kau melahirkan bunga berwarna lain?” Mata Jecky menuju beberapa tunas bunga yang masih menguncup, berwarna merah membara.
“Apakah Raja Erz memiliki keturunan lagi?” Jecky mencium aroma kuncup bunga itu. Aroma yang aneh. Membuat Jecky berpikir keras.
***
Aini Farha tersadar dari pingsannya, telapak tangannya ada tanda sebuah noda darah yang lebih tampak seperti bisul yang tumbuh di telapak tangan. Dia mencoba membersihkan bisul itu, tetapi tidak bisa pecah, apalagi hilang.
“Ah, penelitianku hancur berantakan, sekarang tanganku ada bisul!” Aini meringis.
Tiba-tiba Aini merasa lapar, hasratnya menguak begitu saja, ia mengingat Qiram. Dia menggelengkan kepalanya, mengusir halusinasinya yang menginginkan menyentuh dan berpikiran mesum pada Qiram.
Aini memilih mandi untuk menyegarkan diri, lalu jalan-jalan sore. Saat ia jalan-jalan, mobil Qiram malah berhenti di sampingnya.
“Dokter Aini!” panggil Qiram yang sedang membuka kaca mobilnya.
Aini mengerjapkan matanya beberapakali karena tak ingin berhalusinasi lagi. “Mau aku antar? Dokter mau kemana?” tanya Qiram.
__ADS_1
“Jalan-jalan suntuk aja, kebetulan hari ini libur tugas!” jawab Aini.
“Oh, kalau begitu, ayo, masuk ke dalam, kita jalan-jalan bareng.” Aini pun masuk ke dalam mobil Lamborghini Veneno milik Qiram.
“Aku tadi habis mengantar Lil O, jadi sekalian mutar-mutar mau cari makanan, eh tampak Bu Dokter cantik, hehehehe!” Qiram terkekeh kecil.
Deg! Deg! Dada Aini Farha berdetak tak beraturan mendengar Qiram memujinya, perasaannya aneh, tubuhnya terasa membakar, ingin memangsa Qiram, menarik baju kaos yang dipakai Qiram, menanggalkan semuanya, hingga pemuda yang sedang menyetir mobil itu tak berbusana.
Aini Farha memukul kepalanya karena pikiran mesum itu menggerogoti otaknya. ‘Aku kenapa?’ pikirnya.
“Dokter? Kamu tidak apa-apa Bu Dokter? Kenapa kau memukul kepalamu?” Qiram memelankan menyetir mobil. “Apa Bu Dokter ingin membeli obat sakit kepala dulu?” Qiram berniat menghentikan laju mobilnya.
“Gak usah, aku cuma lupa aja, ada beberapa tugas yang belum selesai, cuma kepikiran itu aja kok tadi!” sahut Aini.
“Oh, begitu. Bu Dokter uni ya, masalah lupa aja sampai mukul kepala! Oh ya, Aku ingin mengajak Bu Dokter ke suatu tempat, kita ke sana ya!” ajak Qiram.
“Ok!”
__ADS_1
Qiram pun melajukan mobilnya menuju Duta Mas.