
Qiram masuk mengikuti arah jalan sebagai penunjuk arah. Hingga, dia sampai di sebuah ruangan yang di jaga ketat oleh banyak orang.
Melihat Qiram datang, mereka semua bungkuk hormat. “Eh?” Qiram bingung dengan perlakukan mereka.
“Selamat datang, Tuan Muda. Apakah Anda mencari tuan Beneno, atau Nona Marissa?” tanya salah satu diantara mereka.
“Aku ingin bertemu keduanya. Bisakah aku menemui mereka.”
“Tentu saja, namun keadaan Nona Marissa sedikit lemah, sedangkan Tuan Beneno sedang ada di ruangannya. Jika Tuan Muda ingin menunggu Tuan Beneno, silahkan duduk dulu. Aku akan memanggil Tuan Beneno,” ucapnya pada Qiram.
“Baiklah.” Qiram pun memilih duduk di sebuah sofa yang dilapisi dengan kulit dan bulu merak.
Tak lama, seorang pria tampan, berambut lurus berwarna putih, berjalan mendekat ke arah Qiram. Pria tampan itu langsung mengulurkan tangan.
Qiram berdiri dan menyambut uluran tangan itu dengan sopan, pria tampan itu bukan hanya bersalaman dengan Qiram, tetapi langsung memeluknya dengan erat.
“Cucuku,” ucapnya, membuat Qiram ternganga.
‘Tunggu sebentar, jangan bilang dia Kakek? Tuan Beneno?’ gumam Qiram dalam hati berkecamuk dengan pikirannya.
“Kakek senang bertemu denganmu, uhuk!” Pria tampan itu segera duduk, setelah batuk.
Wajahnya, tubuhnya, seperti pria muda, tapi kepalanya beruban. Oleh karena itu, Qiram pun akhirnya bertanya, “Apakah Anda Tuan Beneno, kakek saya?”
“Iya,” jawabnya.
“Serius? Anda terlihat sangat muda sekali!”
__ADS_1
Tuan Beneno tersenyum, “Karena kami makhluk setengah abadi, Kakek senang, akhirnya bisa berjumpa denganmu.”
“Aku juga senang bertemu dengan kakek.”
“Apa kamu penasaran tentang Ibumu? Mari ikut Kakek?” ajak Tuan Beneno.
“Iya,” jawab Qiram, dia pun mengikuti langkah Tuan Beneno yang berjalan seperti orang tua pada umumnya, pelan dan memegang pinggang, bahkan kali ini, seroang pengawal memberikan tongkat padanya.
Cuma tampilannya saja berwajah muda dan tampan, tapi aslinya tetap tua. Qiram menatap punggung Tuan Beneno yang berjalan lebih dulu darinya.
“Mari masuk!” ucap Tuan Beneno, setelah sebuah pintu ruangan terbuka lebar.
Sebuah lukisan terpampang besar di dinding ruangan itu. “Ini ibumu, dan ini nenekmu,” tunjuk Tuan Beneno pada lukisan.
“Dan pria itu kakek?” tanya Qiram. Tuan Beneno mengangguk.
“Dulu, kami memiliki sebuah takdir jodoh satu seumur hidup, Kakek dan Nenek berjodoh seumur hidup, hingga memiliki seorang putri, yaitu ibumu. Setelah dia beranjak dewasa, dia sangat kuat dan memiliki dua kekuatan dari kekuatan kami berdua hingga dia begitu penasaran pada kehidupan di tempat-tempat yang belum pernah dia kunjungi, salah satunya di sini.”
“Waktu itu, Kakek dan Nenek tidak terlalu memperhatikan, karena dia memiliki takdir jodoh dengan Pangeran Dardail, yang kini menjadi gurumu, Jecky. Hari semakin berlanjut, hingga Pangeran Dardail mengalami batuk darah. Kami semua cemas dan bertanya pada ibumu, rupanya dia telah jatuh hati pada ayahmu dan berjanji akan menikah dengannya. Bahkan berkontak tubuh.”
“Kami semua tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena ini adalah pengalaman pertama di klan kita. Hingga ibumu kesakitan parah, memutuskan menemui ayahmu dan meninggalkan kami semua. Waktu itu, Kakek tidak bisa berbuat apa-apa, karena Nenekmu langsung jatuh sakit. Sakit yang begitu lama. Untungnya, Pangeran Dardail begitu tulus mencintai ibumu, hingga dia selalu mengikuti dan menjadi pengawalnya, sampai dia hamil kamu.” Tuan Beneno menghela nafas panjang, kedua bola matanya tampak menggenang air mata.
Qiram masih setia mendengarkan cerita dari Tuan Beneno.
“Waktu kelahiranmu, ibumu membutuhkan banyak kekuatan, bahkan ibumu harus kehilangan semua kekuatannya. Nenekmu diam-diam menemui ibumu dan mengobati dia, padahal dia saat itu sedang sakit. Saat dia kembali, dia begitu lemah,” urai Tuan Beneno.
“Hanya dua hari saja dia bertahan semenjak bertemu ibumu, dia pun menghilang. Setelah kehilangan nenekmu, keberadaan ibumu juga tidak bisa kami cari dan lacak, bahkan Pangeran Dardail kembali sendiri, karena kekuatannya juga tersedot.”
__ADS_1
“Beberapa waktu berlalu, Kakek menemui Pangeran Dardail, dia berkata, jika dia sudah mengambil sumpah, dan mulai saat itu, sumpah setianya adalah bersama kamu, bukan lagi pada ibumu. Oleh karena itu, kami tidak bisa tahu keadaan ibumu, sampai dia tiada.” Air mata Tuan Beneno akhirnya jatuh juga.
“Ini semua salah kakek, ada rasa marah dan egois yang masih bersarang di dada, hingga kakek tidak mencari ibumu, hingga suatu hari Pangeran Dardail menemui kakek, dia berkata, ibumu sudah tiada dan kamu juga dalam keadaan bahaya, tubuh Pangeran Dardail bisa menjadi bukti kalau kamu dalam bahaya. Sayangnya, kami tidak bisa menemukanmu, karena keinginan hidupmu serta kekuatan abadimu tidak ada.”
“Kami akhirnya mendatangi tempat ini, Kakek merasakan beberapa kekuatan abadi di sini, kakek pun mencari sumber-sumbernya. Setiap Kakek sampai di tempat-tempat munculnya kekuatan, semuanya hanya bekas kekuatan, tak ada apa-apa yang bisa kakek temui. Hingga Kakek bertemu dengan seorang bayi yang memiliki kekuatan aneh. Diantaranya, kakek bisa melihat mata emasnya.”
“Kakek menyentuh ubun-ubun bayi itu, melihat beberapa kejadian yang disimpan dalam memori bayi itu oleh ibunya yang telah musnah. Bayi itu adalah keturunan klan kita. Jecky langsung memeluk bayi itu, merasakan auramu dari tubuh bayi.”
“Cukup lama kami berkeliaran, ada beberapa hal yang meragukan dan menghalangi langkah kami, ada aroma yang sama persis denganmu di beberapa tempat, hingga kami berpencar mencarinya.”
“Di dalam memori bayi yang dipeluk Jekcy, sang ibu salah mengenali orang. Maka, Kakek mencari orang itu. Saat Kakek datang, di sana sudah ada perkelahian hebat, kakek melihat sebuah guci berwarna hitam kelam sedang diperebutkan, hingga guci itu pecah berderai, salah satu diantara mereka mati terluka karena pecahan guci itu.”
“Setelahnya, Kakek langsung datang dan membuat mereka semua membeku, hingga kakek bisa melihat kekuatan yang terkandung di dalam guci itu. Kekuatan dari ibumu yang tersegel, kekuatan yang dia hadiahkan dengan nyawanya untuk menjagamu.”
Qiram pun juga menetaskan air mata saat mendengar ibunya mengorban diri untuknya, padahal dulu, dia pernah berpikir, ayah dan ibunya tak pernah sayang padanya, menelantarkan dirinya, hanya memberikan sebuah guci. Jika saja dia tahu, guci itu adalah nyawa ibunya, dia mungkin akan mempertahankan dengan nyawanya.
“Kakek membuat guci itu utuh kembali, namun warnanya masih hitam, tidak bisa berwarna emas. Sayangnya, tiba-tiba tubuh Pangeran Dardail ambruk, dan dia meminta kami segera mencari kamu, dengan petunjuk guci dan bayi bermata emas.”
“Pangeran Dardail semakin lemah, hingga dia tidak bisa ikut mencari, dari situ, kakek bisa tahu, jika keadaanmu sangat bahaya, karena sebuah sumpah membuat keterikatan, jika terjadi sesuatu padamu, maka Pangeran Dardail juga akan merasakannya.“
“Kakek akhirnya bisa menemukanmu, dengan seluruh kekuatan bersama bantuan para pengikut.” Tuan Beneno menghentikan kalimatnya, lalu menangis.
“Waktu itu ... kakek melihatmu tergeletak dengan banyak darah, matamu terpejam, tapi kamu masih bisa bernafas. Satu-satunya cara, untuk menolongmu, hanya dengan mengorbankan seluruh kekuatan Kakek. Hingga Kakek memutar waktu untukmu.”
“Semua kekuatan berkumpul pada guci yang berwarna hitam, kakek pun semakin melemah, hingga semua pengikut klan kita juga menyumbangkan kekuatannya. Namun, semua kekuatan Kakek terkuras habis, sebelum semuanya selesai, dan ....”
“Dan apa, Kek?” tanya Qiram penasaran.
__ADS_1