
Wedding Organizer sudah ok, pakaian juga sudah ok. Undangan bahkan sudah mulai di sebar. Tak banyak undangan, karena Qiram belum terlalu terkenal, agensi Hafisa juga mengundang beberapa orang saja.
Lil O juga menjadi salah satu juru masak di pesta pernikahan sahabat baiknya ini. Lil O bisa memasak banyak makanan khas Sumatra. Akhir-akhir ini, dia juga tengah belajar masakan daerah pulau Jawa dan Kalimantan.
“Fitting baju sudah ok?” tanya Lil O pada Qiram.
“Sudah,” jawab Qiram.
“Kamu jadi pakai toxedo putih 'kan?” tanya Lil O lagi.
“Iya.”
“Aku senang melihat kau memakai warna putih. Cocok!” puji Lil O.
“Pakaian untuk kalian berdua sudah kalian coba 'kan?” tanya Qiram pada Lil O dan Hafisa.
“Sudah, tapi kenapa Tuan Jecky memakai pakaian berbeda dengan kami?” tanya Lil O.
“Oh, itu. Aku sudah menyamakan pakaian dengan keluargaku. Mereka akan hadir di pesta pernikahan Tuan Muda Qiram nanti,” jawab Jecky.
“Ooooh, begitu.”
***
__ADS_1
Hari pernikahan Qiram.
Tamu-tamu tidak terlalu banyak, karena memang tidak terlalu banyak menyebarkan undangan, namun aula hotel bintang lima ini cukup penuh, makanannya mewah dan berkelas.
Perias bolak balik berjalan dengan cemas, kemudian berjalan menemui Hafisa dan Lil O yang tengah menggendong Raja dan Pangeran. Sedangkan Tuan Jecky tengah bercengkrama dengan kelompok Tuan Beneno.
“Mas, Mba,” panggil perias berbisik.
“Iya, ada apa?” tanya Hafisa, Lil O pun juga menoleh.
“Pengantin perempuannya kabur, dia meninggalkan sepucuk surat Mba, Mas.” Perias menyerahkan kertas yang bertuliskan kepergian Dokter Aini.
Dia mengatakan tidak bisa menikah dengan Qiram, tak ada alasan apapun, selain mengatakan jika dia tidak mencintai Qiram, dia tidak ingin menikah tanpa cinta. Hafisa meremas kuat kertas itu dengan marah.
“Hafisa,” panggil Lil O dan dia cepat merampas kertas yang telah di remas oleh wanita itu.
“Aku akan menemui Tuan Jecky dulu, tolong tenanglah Hafisa.” Lil O berpesan.
Lil O melangkah menuju kelompok Tuan Beneno. “Permisi, maaf menyela perbincangan sebentar, bolehkan saya meminjam Tuan Jecky sebentar?” tanya Lil O menatap semua tamu yang duduk.
“Oh, boleh, silahkan,” jawab Tuan Beneno ramah.
Lil O dan Jecky berjalan menepi, ke sudut ruangan. “Ya, ada apa Lil O?” tanya Jekcy.
__ADS_1
“Begini Tuan Jekcy, coba Anda baca surat ini dulu!” Lil O menyerahkan kertas tadi pada Jecky.
Mata Jecky membulat saat membaca kertas itu. “Kita harus segera mengkonfirmasi kan ini pada Tuan Muda, sebelum semua tamu bertanya-tanya, dan masuk pada puncak acara. 30 menit lagi, sudah jadwal mereka menikah, tamu-tamu bahkan sudah hadir semuanya!” Jekcy merasa cemas.
“Tapi--”
“Tidak apa-apa Lil O. Aku akan mengatakan pada Tuan Muda dengan sangat hati-hati.” Jecky menepuk pundak Lil O yang sedang menggendong bayi Pangeran. “Tolong jaga dulu Pangeran, aku akan menemui Tuan Muda.”
Jecky menemui Qiram yang baru saja selesai di rias di kamarnya. “Bisa aku meminta waktu sebentar? Aku ingin bicara dengan Tuan Muda Qiram,” tanya Jecky.
“Tentu saja Pak, kami baru saja selesai mendandani Pak Qiram,” jawab mereka.
Setelah mereka keluar, Jekcy mulai berbicara perlahan dan menyerahkan kertas itu pada Qiram.
Qiram tampak terdiam lama setelah membaca surat itu. “Kenapa dia seperti ini padaku? Jika dia memang tidak bersedia, dia bisa mengatakan dengan baik-baik, aku hanya berniat bertanggungjawab padanya. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, seperti yang aku lakukan pada Marissa.”
“Lalu, sekarang, aku harus bagaimana lagi, Guru?” tanya Qiram berwajah sedih.
Hafisa menerobos masuk ke dalam sambil menggendong Raja. “Jika kamu bersedia, aku rela menggantikan posisi Aini. Jika kamu mau, menikahlah denganku.”
Jecky menatap Hafisa. Semuanya hening beberapa saat, sampai Jecky mengeluarkan pendapatnya.
“Kurasa ini jauh lebih baik Tuan Muda, ini sangat memalukan jika kamu gagal menikah. Menikahlah dengan Hafisa, Tuan Beneno pasti setuju. Nona Hafisa juga sudah mengetahui seluk beluk bayi Pangeran, semua rahasia sudah diketahuinya. Jauh lebih baik dia, dari pada wanita lain yang tidak tahu apa-apa tentang kamu dan Bayi Pangeran.”
__ADS_1
Qiram menatap Hafisa lama dengan diam.