Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Dipukul


__ADS_3

Qiram membawa mobilnya, sedangkan Jecky membawa mobil baru yang dibeli Qiram menuju kios Lil O.


“Lil!” teriak Qiram, Lil O menoleh. “Udah ada pelanggan mampir belum?” tanya Qiram, ia berjalan mendekat.


“Ada dua orang.” jawab Lil O lesu.


“Semangat dong! Aku beli mobil buat kamu belanja bahan-bahan, sayuran segar dan lainnya di pasar pagi, 'kan jauh lebih murah.” Qiram meletakkan kunci dan surat-surat mobil yang baru saja diberikan Jecky padanya.


“Apa maksudnya? Kenapa-”


“Hei, aku tidak membantumu cuma-cuma kok! Mobil ini tertulis 'kan namaku, jadi kamu pakai buat beli bahan-bahan keperluan dagang. Waktu itu kita sudah sepakat, akan membagi hasil 'kan. Supaya dagangannya laris manis dan banyak dapat untung. Kita harus beli yang murah, segar dan bagus.” terang Qiram.


“Kamu sendiri 'kan tau, aku gak bisa masak, cari kerja juga susah, aku cuma punya sedikit emas dari orang tuaku. Aku cuma punya modal, aku berharap modal itu bisa menopang kehidupan kita.” bujuk Qiram.


“Iya, kita juga harus bayar cicilan rumah mewah.” Lil O tersenyum kecil akhirnya. “Baiklah, aku akan lebih bersemangat lagi.” ucap Lil O. Lalu, mengambil kunci dan surat-surat mobil.


~~


Sore ini, Qiram telah berlari memutari lapangan bermain di alun-alun kota sebanyak tiga kali atas permintaan Jecky. Mereka berdua telah sepakat untuk membuat tubuh Qiram bugar, mengurangi lemak di tubuhnya yang bergelambir.


Setelah lelah berlari, ia duduk di samping Jecky sambil meminum air mineral dingin.


Tiba-tiba gerombolan pria mendatangi mereka berdua.


“Bos, dia yang memukul saudara Bobi sampai pingsan!” Seorang pria bertubuh ceking menunjuk Jecky.


Qiram menatap pria ceking itu. Pria itu jelas-jelas duduk membawa karung seperti pengemis di samping restoran tadi. Bahkan dia memberikan sumbangan seikhlasnya.


“Ekhem!” Jecky berdehem dan berdiri. “Oh, jadi, kau hanya berpura-pura, ya, kalian semua kompak untuk melakukan penipuan. Aku tahu rencana kalian, kau berpura-pura menjadi pengemis, jika ada yang kasar padamu, gerombolan pria tadi akan menyerang orang itu dan memalaknya 'kan?” ucap Jecky, membuat mata Qiram membulat sempurna.


“Guruku memang sangat pintar!” puji Qiram.


“Belagu sekali kau bicara! Hajar dia!” perintah seseorang yang memakai baju tanpa lengan, memperlihatkan otot besarnya yang berurat.


“Serang!” teriak yang lainnya. Mereka semua menyerbu dan mengepung Jecky. Perkelahian pun terjadi satu lawan 10 orang.

__ADS_1


“Kau, hadapi sigendut bodoh itu!” perintah pria berotot itu pada pria ceking.


‘Fokus Qiram, ingat, uang, uang, uang!’ Begitulah Qiram menyemangati dirinya. Jika dia berani melawan musuh, dia akan mendapatkan tambahan uang 10 juta.


Qiram dengan semangat membara menyambut tangan pria ceking itu. Krek! Terdengar suara tulang tangan patah. Spontan Qiram melepaskan tangannya, ia khawatir.


“Aauuwch!” Pria ceking itu terpekik dan meringis.


“Dasar, tidak berguna!” umpat pria berotot. Brugh! Ia menendang pria ceking itu hingga terlempar 5 meter dari tempatnya semula.


Ia mengepal dan meremas jari jemarinya hingga berbunyi. Krek! Krek! Krek! Lalu, membentuk kepalan tinju dan bersiap hendak menghajar Qiram.


Qiram yang tadi berani, kini mulai menciut, namun ia masih memikirkan uang. ‘Ayo, lebih berani, uang 10 juta ada di depan matamu!’ gumamnya. Ia menyodorkan tinjunya yang terlihat aneh dengan tangan gemetaran.


“Cuih! Apa aku akan bertarung dengan babi gendut pengecut ini?!” hina pria itu meludah mengejek badan Qiram yang gembrot.


Brug! “Auch!” Hanya 3 kali serangan, Qiram pun sudah mendapatkan pukulan di rahangnya. Hidung dan bibirnya mengeluarkan darah.


“Tuan Muda!” teriak Jecky. Ia melompat ke arah Qiram. Sekarang posisi Qiram dan Jecky dikepung oleh 11 orang termasuk pria berotot itu.


“Tuan Muda, kemampuanmu masih lemah. Lawanlah mereka saja, pria berotot itu serahkan padaku!” Jekcy mendorong tubuh Qiram ke arah anak buah pria berotot yang dianggap Jecky lebih lemah tenaganya.


“Jangan banyak bacooot! Ayo, buktikan saja!” Mereka berdua pun saling beradu tinju di tambah dengan beberapa bawahan yang juga menyerangnya bersamaan.


Qiram dikepung 5 bawahan, beberapakali Qiram mendapatkan pukulan. Akan tetapi, ia juga dapat membalasnya, beberapa gigi mereka terbang menyembur saat Qiram memukul mulut mereka. Ada perasaan senang saat ia bisa memukul dan membalas orang-orang jahat ini.


“Wiwiwiwiwiwiwiw!” Terdengar suara sirine! Sepertinya ada seseorang melaporkan adanya perkelahian, sehingga datang polisi daerah untuk menjaga keamanan.


Mereka semua yang sebagian sudah terluka berlari terbirit-birit. Qiram dan Jecky yang sudah babak belur tak berniat kabur sedikit pun. Polisi datang dan menangkap mereka, namun seseorang datang mendekat.


“Pak Polisi, aku yang melapor tadi. Mereka berdua adalah korban. Gerombolan yang berlari tadi adalah preman-preman yang suka memalak di alun-alun ini.” jelas seorang gadis remaja itu.


“Oh, begitu.”


“Terimakasih banyak, Pak.”

__ADS_1


“Sama-sama, ini adalah tugas kami untuk menjaga keamanan.” Polisi itu pun akhirnya berlalu pergi.


“Terimakasih Dik, telah membantu kami.” ucap Qiram dan Jecky.


“Sama-sama, Kak. Hati-hati, ya, kedepannya. Semoga gak bertemu mereka lagi.”


“Selamat Tuan, Anda memiliki satu keberanian dengan kekuatan awal, Anda berhak memiliki 10 juta rupiah. Anda telah mengalahkan 4 orang musuh dari 11 orang musuh, membuat dia terluka dan pingsan. Anda berhak memiliki 60 juta rupiah.”


‘Saldo Anda Rp. 216.526.000,00.’


Melihat jumlah saldonya bertambah, darah yang mengalir di hidung dan bibirnya tak begitu terasa sakit lagi.


~~


Waktu pun sudah mulai menggelap, Qiram dan Jecky pulang. “Tuan Muda, sebaiknya latihan di rumah saja, ya, dengan alat-alat yang sudah dibeli. Memar di wajah Anda semakin bertambah banyak.”


“Hm.” jawab Qiram meragu.


“Kita akan keluar sekali seminggu saja, setidaknya sampai Tuan Muda kuat.” jelas Jecky.


Sesampainya di rumah, Lil O sudah berceramah layaknya emak-emak yang khawatir pada putranya. “Kau habis dipukul lagi? Astaga, Qiram! Kita punya rumah mewah bertingkat dengan tanah kosong yang cukup luas di sampingnya. Ada alat-alat untuk olahraga, untuk apa harus keluar? Itu membuatmu babak belur lagi dan lagi. Bukannya kita selama ini menghindar dari perkelahian, waktu itu kau berkata tak ingin bertemu dengan preman, apalagi Soleman. Tapi ini apa? Kau selalu babak belur?!”


Lil O mengoles krim yang diberikan Dokter Aini di di wajah dan tubuh Qiram yang memar. Hafisa juga sudah menyuguhkan bubur ayam untuk dimakan Qiram, agar bibirnya yang terluka tidak banyak bergerak saat makan.


“Jika kalian memperlakukan aku seperti ini, aku benar-benar terlihat seperti orang sakit!”


“Kau 'kan memang sakit, Qiram!” sahut Hafisa. “Kau harus jaga diri, jangan sampai terluka seperti ini lagi!” Hafisa mengompres tangan Qiram yang sedikit membiru.


“Ya, iya.” jawabnya.


“Jangan iya, iya aja! Mulai besok, kau latihan di rumah saja dan diet sehat. Tanyakan saja pada Dokter Aini tentang menu sehat untuk diet.” ujar Lil O.


Mendengar itu, seketika Qiram tersenyum cerah, ia mendapatkan ide untuk selalu bisa berkomunikasi dengan Dokter Aini.


Beberapa saat kemudian, Qiram telah tiduran di ranjangnya, di kamar. Ia melakukan panggilan video pada Dokter Aini.

__ADS_1


“Dok, aku dipukul lagi oleh teman pria yang kita temui di restoran tadi. Lih-” ucapan Qiram dipotong Aini dengan teriakan.


“Astaga, Qiram! Apakah sangat sakit?! Apakah aku harus ke sana mengobati lukamu?!”


__ADS_2