Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Ke Selatan


__ADS_3

Tak lama Qiram sampai di rumah megahnya, Hafisa senang dia kembali. Jecky yang tengah menggendong Bayi Pangeran tampak tersenyum.


“Kau sudah pulang, Ram?” Lil O baru saja keluar dari rumah.


“Kau di rumah? Aku kira di toko,” ucap Qiram yang tak menyangka jika sahabatnya itu ada di rumah.


“Aku 'kan sudah bilang, ada karyawan, jadi aku bisa santai sampai kau pulang. Kau tampak banyak membeli barang ya, sini aku bantu!” Lil O hendak meraih barang yang ada ditangan Qiram.


“Hoooo, jangan yang aku pegang ini, tapi ambil yang di dalam mobil!” tolak Qiram, kedua tangannya sudah penuh dengan kantong kresek besar.


“Woy, gila! Kau ngeborong!” pekik Lil O setelah mengintip isi mobil Qiram.


“Ayo bersenang-senang!” Qiram menjawabnya sambil tertawa.


“Siap!” Lil O memikul semua kantong belanjaan yang tersisa di dalam mobil. Lalu, mereka semua masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu.


Qiram membagikan hadiahnya pada Hafisa, Jecky dan Lil O. Kemudian, dia masuk ke dalam kamar dan memberikan hadiah pada Gippong yang masih betah tiduran. Dia mengelus wajah Gippong. Manusia kucing itu tampak semakin kurus, pandangannya semakin sayu.


”Tuan Muda, kau sudah datang?” Gippong mencoba bangun.


“Iya, kamu kelihatan tambah parah,” kata Qiram, ia sangat prihatin melihat kondisi Gippong.


“Aku baik-baik saja, Tuan Muda!” Gippong memeluk Qiram.


“Kita periksa kondisi kamu lagi ya, nanti?” Qiram mengelus rambut dan punggung Gippong yang memeluknya.


“Tidak, aku baik-baik saja.” Gippong menolak.


“Baik-baik apanya? Kau pucat dan kurus seperti ini!”


“Kalau begitu, belikan aku ikan bakar di daerah selatan ya,” pinta Gippong.

__ADS_1


“Loh, kok jauh banget.”


“Aku ingin makan ikan itu, boleh 'kan? Sekalian Tuan Muda bisa melihat bangunan di tempat kumuh yang Anda ceritakan waktu itu padaku,” ucap Gippong tersenyum, bibirnya terlihat pucat dan pecah-pecah.


“Baiklah, jika kau ingin seperti itu, setelah ini, aku akan pergi ke daerah selatan, membeli ikan bakar pesananmu.” Qiram mengelus lembut rambut Gippong.


“Sekalian lihat juga bangunan itu, aku tak buru-buru lapar kok.”


“Iya, iya!”


***


Qiram mulai melajukan mobilnya ke arah selatan, setelah berbagi hadiah dan makan kenyang, atas permintaan Gippong.


Tempat ikan bakar yang di pesan Gippong hanya berjarak 15 menit berkendara ke arah rumah kumuh. “Pak, saya pesan 15 ekor ikan bakar ya, serta 2 ekor ayam dan udang bakar,” pinta Qiram pada sipenjual.


“Saya hendak pergi dulu sebentar, nanti saya kembali lagi, berapa harganya ya, Pak?” tanya Qiram.


“Oh, baiklah kalau begitu.”


Qiram membeli amplop di warung kecil satu pack, memasukkan uang seratus ribuan di 50 buah amplop. Kemudian, baru melaju ke daerah kumuh.


Sesampainya di sana, Qiram di sambut oleh Rizki bersama gerombolannya. “Hari ini Abang tidak membawa apa-apa, maaf ya!” Dia mengusap kepala Rizki dan lainnya.


“Tidak apa-apa Bang, kami senang Abang datang, sudah lama Abang tidak kemari. Lihat, kami sudah punya rumah bagus, tempat ini terlihat sangat layak dihuni sekarang, terimakasih banyak Bang,” tutur Rizki bersama teman-temannya.


“Rizki, bawa Bang Qiram masuk, jangan bicara panas-panas begitu!” teriak seorang Ibu-ibu yang menyadari penolong mereka yang datang.


“Ayo, Bang!” Rizki menarik tangan Qiram.


Nenek sebagai ketua kumpulan itu langsung menyambut dan bersalaman dengan Qiram, tak lupa Qiram mencium tangan keriput nenek itu.

__ADS_1


“Maaf, aku tak membawa apa-apa hari ini.”


“Aduh Nak, kedatanganmu sangat berharga, dengan apa kami bisa membalas hutang budi ini,” jawab sang nenek.


“Balasnya dengan kesehatan nenek dan semua orang yang ada di sini, itu membuatku senang. Bagaimana kabar bayi-bayinya, Nek?”


“Mereka bertambah gemuk,” jawab Nenek. Lalu, tiga orang yang menggendong bayi, memperlihatkan bayi comel itu pada Qiram.


“Kalian lucu sekali!” Qiram merasa gemes.


“Makasih ya, Nak Qiram. Kami sudah berteduh dari terik matahari dan hujan, rumahnya sangat adem, nyaman, dan bagus,” ucap salah satu Ibu yang di sana, kemudian ucapan makasih lainnya juga datang beruntun.


“Hehehe, iya, sama-sama Ibu, Bapak,” jawab Qiram terkekeh kecil.


Dia berjalan sebentar melihat rumah yang dibangun rapat, ada lebih 40 buah rumah mini dengan tipe 21. “Lalu, sampah-sampah yang kemarin di bawa kemana, Nek?” tanyanya pada Nenek yang berjalan di sampingnya dengan tongkat.


“Kami membuatkan lubang besar, karena itu sumber uang dan pencaharian juga, kami tidak bisa langsung membuang atau membakarnya, karena suatu saat, akan ada barang yang diperlukan dan dipergunakan dari sana. Oleh karena itu kami menyimpannya dalam lubang besar.”


Qiram di bawa nenek berjalan ke arah lubang besar itu.


“Jika hujan menggenang air dan akan menjadi sarang nyamuk juga Nek,” protes Qiram. “Bagaimana jika kita membangun bangunan dalam tanah, khusus untuk barang rongsokan penting, nanti jika aku ada rezeki lagi, aku akan membuatkannya,” ujar Qiram tersenyum.


“Nak, kau sangat baik, uangmu sudah banyak habis membantu kami.”


“Uang ini tidak seberapa karena aku menggunakannya pada hal yang penting dan berguna. Tidak ada juga manfaatnya jika aku hanya menimbun harta, akan lebih baik membangun sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Kalau masalah uangku habis, Nenek jangan khawatir, aku punya beberapa usaha yang bisa menghasilkan banyak uang untukku, Nenek tenang saja, ya!” Qiram memeluk nenek lembut.


Ingatan silam. Qiram bisa melihat, waktu itu nenek tidak berdaya, satu-satunya yang bisa ia lakukan meminta dirinya dan Lil O pergi, dia meminta anak-anak memastikan keselamatan mereka berdua sampai tiba keluar. ‘Kau adalah orang baik dan beberapa orang baik di sini membantuku dikehidupan masa lalu, aku hanya membalas budiku di masa lalu,’ gumam Qiram dalam hati.


“Nenek jangan berkata balas budi lagi, ya! Nenek sehat dan bahagia itu adalah bentuk balas budi!”


“Terimakasih Nak!” Nenek meneteskan air matanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2