
Beberapa jam Qiram melajukan mobilnya dengan cukup kencang sendirian di pagi hari. Hingga kini ia telah sampai di sebuah bangunan berpagar tinggi. Ia menatap hp nya, tadi nya ia membutuhkan map untuk menemukan lokasi mansion. Qiram hanya tau jalan ke kota Intan. Setelah sampai di kota Intan ia butuh bantuan map.
“Benar di sini lokasinya?” bergumam dengan sesekali melirik pagar tinggi. “Tinggi sekali pagarnya, sehingga tak bisa menoleh melihat isi dalamnya,” kata Qiram.
Dia pun akhirnya memilih turun dari mobil, memencet bel yang ada di dekat gerbang besi tinggi itu, tidakk lama terbukalah sedikit kotak di pagar tinggi besi itu, memperlihatkan kepala satpam di sebaliknya.
“Permisi, apakah ini mansion Tuan Beneno?” tanya sopan.
“Ya, benar,” sahut satpam itu dari dalam.
“Saya Qiram, saya di suruh datang ke mansion ini untuk menemui Tuan Beneno,” jelas Qiram.
“Oh, baiklah, tunggu sebentar, saya akan mengabari ke dalam dulu.” Qiram mengangguk setuju.
Tak lama, pagar besar dan tinggi itu terbuka lebar, sang satpam datang dan berkata pada Qiram. “Silahkan Tuan Muda masuk ke dalam,”
__ADS_1
“Baiklah.” Qiram hendak berjalan dengan menghela nafas, karena jalan ke mansion itu terlihat cukup jauh, seperti istana kepresidenan saja lapangannya.
“Tuan, pakai mobil saja, di depan nanti akan ada satpam kembali membawanya ke parkir,” terang satpam.
“Ooooh,” gumam Qiram. Ia kembali masuk ke dalam mobilnya, walau tadinya sudah ia tinggali beberapa langkah.
Dia melajukan mobil masuk mansion tersebut, sampai di depan air pancur, ada dua orang yang berdiri tegak di sana, Qiram turun dan menyapa. “Silahkan masuk Tuan Muda, kami akan memarkirkan mobil Anda, mohon kuncinya.”
“Oh, ini!” Qiram memberikan kunci mobilnya pada satpam itu.
Qiram di susul oleh pria berjas, pria yang sama saat memberikan dia mobil dan uang beberapa bulan lalu. “Selamat datang Tuan Muda, silahkan masuk ke dalam.” Ia mengiri langkah Qiram.
Makanan sudah dihidangkan, bahkan sudah habis, Qiram mulai menanyakan Tuan Beneno.
“Kenapa Tuan Beneno belum datang ya? Kapan dia bisa datang?” Qiram menatap wajah pria itu.
__ADS_1
“Tuan Beneno ada urusan mendadak, tetapi Anda jangan khawatir, hadiah yang dijanjikan pasti akan diberikan. Beliau menitipkannya kepada saya,” Pria itu berkata dengan tersenyum.
“Kalau begitu, mari saya tunjukkan hadiahnya. Ayo!” Pria itu berjalan lebih dulu, lalu masuk ke dalam lift.
Qiram terpukau dengan kemewahan mansion ini, ada lift di dalamnya juga, bukan hanya di mall-mall saja. Pria itu memencet nomor paling atas. Qiram melihat pemandangan yang indah di atas mansion itu, lebih tepatnya kini ia berada di puncak dengan tanda lingkaran besar bertanda bintik dan ada huruf H nya.
Pria itu terus berjalan membawa Qiram sampai ke benda yang berada ditengah-tengah bulatan besar itu.
“Ini adalah hadiah untuk Anda, Tuan Qiram!” tunjuk pria itu mempersembahkan untuk Qiram.
“Helikopteeeer??”Qiram sangat terkejut sampai tak bisa berkata lagi sampai beberapa menit.
“Iya Tuan, ini adalah hadiah pertama Anda, sebuah helikopter. Lalu, ini adalah hadiah ke dua!” Pria itu menyerahkan beberapa kunci yang digabungkan menjadi satu.
“Ini--ini apa lagi?” tanya Qiram bingung dalam debaran.
__ADS_1
“Ini kunci mansionnya. Surat-surat mansion dan helikopter telah di urus atas nama Anda, hanya perlu membubuhi tanda tangan Anda saja lagi,” jelas Pria itu.
“Benarkah?” Qiram tak bisa menutupi rasa keterkejutan nya.