Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Ke Penjara


__ADS_3

Melati bangkit dengan paksa, masih tertatih-tatih dia masuk. Baru saja dia masuk, sang pria sudah melajukan mobilnya sebelum para preman bangkit. Bahkan dia menggilas kaki salah satu preman itu karena mencoba bangkit dan menghadangnya.


“Kita akan segera ke klinik!” ungkapnya. Melati hanya mengangguk. Dia menyesal karena tidak mematuhi pesan kakeknya. Padahal sang kakek sudah menyuruh dia langsung pulang setelah jualan.


Tak lama, mobil itu berhenti di depan klinik milik Qiram. “Ayo, obati lukamu dulu! Periksa apakah ada lebam atau luka dalam yang cukup parah karena terjatuh aku tabrak tadi.”


Melati hanya mengangguk patuh. Dia akhirnya di periksa oleh dokter umum, tak ada yang parah, hanya sedikit lecet di bagian sikut dan kakinya saja.


“Lukanya sudah saya obati, ini resep obat agar lebih cepat lagi kering lukanya, tebus di apotik ya. Semoga lekas sembuh,” kata dokter yang menangani Melati.


“Iya Dok. Terimakasih.”


“Kamu duduk aja di sini. Biar aku yang ke apotik ambil obatnya!” ucap Pemuda itu, menyuruh Melati duduk di kursi tunggu.


“Tapi--”


“Nggak apa-apa.” Pria itu pun menebus biaya berobat dan obatnya.


“Ini obatnya!” Pria itu memberikan obat pada Melati setelah kembali dari apotik.

__ADS_1


“Terimakasih banyak ya, jika tadi kamu tidak bantu, pasti sudah terjadi hal buruk padaku. Hiks, hiks!” Melati menitikkan air matanya.


“Hei, tidak apa-apa. Jangan menangis, kita masih di rumah sakit. Nanti dikira orang aku jahatin kamu lagi,” ungkap pria itu.


“Makasih banyak ya.” Melati segera menghapus airmatanya, namun masih saja keluar. “Aku Melati, siapakah nama orang yang menolong ku, bolehkah aku mengetahuinya?” Melati menoleh.


“Aku Rangga. Tadi nya aku enggak sengaja lihat kamu memberikan makanan pada anak-anak, makanya aku pelan-pelan, ingin melihat saja, tetapi tiba-tiba muncul tiga preman. Badanku yang kecil seperti ini, tidak memiliki kemampuan bertarung yang hebat, pasti kalah sama mereka bertiga. Makanya, aku menabraknya di waktu yang pas.” Pria itu menyebutkan namanya sambil menjelaskan situasi yang terjadi, kenapa dia bisa menabrak.


Ya, dia adalah Rangga adiknya Roki.


“Senang berjumpa denganmu Rangga. Terimakasih banyak ya,” ungkap Melati lagi.


“Iya, sama-sama. Dimana rumahmu? Biar aku antar!” Rangga menawarkan diri.


“Hei, dari pada kamu di ganggu preman lagi? Lebih baik aku antar 'kan?” tegas Rangga.


“Baiklah, jika kamu tidak keberatan, Rangga. Terimakasih ya.” Melati akhirnya setuju.


“Oke. jangan keseringan ucapin terimakasih sama aku. Yuk!”

__ADS_1


Rangga pun mengantarkan Melati ke rumahnya. Melati menawarkan untuk mampir terlebih dahulu, tetapi Rangga menolak karena Melati hanya sendirian, dia merasa tidak enak.


“Kalau begitu, aku balik dulu.”


“Tunggu! Bolehkah aku meminta nomor teleponmu, Rangga?” Melati memanggil Rangga.


Rangga terdiam sejenak, tampak berpikir. “Aku tidak hafal nomorku, bagaimana jika kamu simpan nomormu di hpku? Nih!” Rangga mengeluarkan hp nya dan memberikan pada Melati.


Melati langsung mengetik nomor ponselnya dan langsung melakukan panggilan.


Rangga mengerutkan kening, karena tidak terdengar hp Melati berdering. “Apa-- hp kamu ketinggalan di terowongan? Hilang?” tanya Rangga.


“Ah, tidak. Aku sering melupakan hpku. Sering ku tinggal di dalam kamar. Biasanya aku membawa hp jika keluar bersama kakekku. Jika berjualan, aku sangat jarang membawa hp,” jelas Melati.


Rangga tersenyum kecil, dia sangat jarang menemui seorang wanita yang tidak kecanduan dengan hp, karena zaman sekarang, kebanyakan tangan tidak lepas dari hp.


“Oh, begitu.”


“Iya. Aku udah save nomorku. Melati. Nih!" Melati kembali memberikan hp kepada Rangga.

__ADS_1


“Oke, kalau begitu, aku balik dulu ya!"


Rangga pun pergi dari rumah Melati, melajukan kembali perjalanannya ke penjara untuk menemui kakak pertamanya, Roki.


__ADS_2