Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Membawa Melati


__ADS_3

Melati termenung sendirian di kontrakannya yang berukuran sedang, ada dua kamar, satu ruang tamu kecil, dapur yang setali dengan kamar mandi yang juga kecil. Biasanya ada kakek yang selalu berjalan pelan dengan tongkatnya, atau tidak dengan ke cerewetannya untuk menceramahi Melati setiap saat.


Walaupun begitu, Kakeknya sangat mencintai dan memprioritaskannya.


“Kakek, aku benar-benar tinggal sendirian, bagaimana aku dan kemanakah aku?” gumamnya bersedih.


Rangga kembali datang berkunjung. Dia membawakan makanan. “Hai, Melati,” sapa Rangga tersenyum.


“Ayo, makan. Aku tahu, kamu belum makan kan, lihat wajahmu sangat pucat, kamu juga berantakan. Kakekmu pasti akan sedih jika melihat kamu seperti ini. Mari makan dan jaga kesehatan kamu. Kamu ingat, Kakek Azrul, melakukan apapun, bahkan menjadi dosen di kampus dengan keadaannya yang sudah tua begitu, demi kamu.” Rangga menyentuh punggung tangan Melati.


“Kalo begitu, mari kita makan, aku akan menemani kamu makan,” ucap Rangga. Dia kemudian, membuka bungkus makanan, lebih tepatnya, dia membeli nasi goreng kesukaan Melati.


Waktu berbincang-bincang waktu itu, Melati menceritakan makanan favoritnya pada Rangga.

__ADS_1


“Aku sebagai temanmu, tak ingin jamu sakit karena tidak makan. Sekarang, ayo makan. Ingat, Kakekmu pasti akan sedih jika kamu sakit!” tegas Rangga.


Akhirnya, Melati pun menyuapi makanannya pelan. Dia masih bersedih. Tapi, setidaknya dia memakan setengah nasi goreng, bisa untuk memberinya tenaga yang cukup.


“Melati, bagaimana kalau kau ikut denganku? Maksudnya ... kita berteman, aku khawatir jika kami sendirian, setidaknya sampai rasa sedihmu sedikit kurang. Jika kamu sendiri, kamu pasti semakin sedih. Aku punya usaha pribadi yang sudah aku jalani selama ini sejak aku SMA. Untuk saat ini, usahaku lumayan lancar.”


Melati menoleh menatap Rangga.


“Jangan khawatir, aku memang mempunyai kakak laki-laki yang ada dalam penjara. Akan tetapi, uang orang tuaku tak ada campur tangan kakakku, begitu juga dengan uangku. Awalnya, aku menabung semenjak sekolah dasar, setiap diberi jajan oleh Mamaku, perlahan uang itu terkumpul semakin banyak. Saat aku remaja, aku mempunyai hobi, aku menekuni hobiku, sehingga aku berani mengeluarkan uang yang aku tabung untuk hobiku yang bisa menghasilkan uang yang cukup.”


Melati diam saja, dia berpikir sejenak.


“Aku tidak memaksamu, tetapi aku memang sangat berharap,” ungkap Rangga.

__ADS_1


Hingga sore menjelang, Melati pun akhirnya menerima ajakan Rangga. Memang benar, jika dia tinggal di sini seorang diri, dia akan selalu sedih dan mengingat kakeknya, belum lagi tempat dia tinggal cukup sepi dan berjarak, karena harganya jauh lebih murah. Apalagi, jika dia berjualan, dia akan melewati gerombolan preman.


Biasanya preman itu takut pada kakeknya, sekarang sang kakek sudah tiada, Melati juga cukup cemas.


“Aku bantu berkemas, ya!” kata Rangga.


“Iya.”


Mereka berdua pun berkemas, membawa barang-barang penting. Ya, karena sebenarnya, tempat tinggal melati tak banyak berisi perabotannya.


Setelah berkemas, Rangga dan Melati pun pergi dari sana. Dia langsung membawa melati ke ruko tiga lantai.


“Diva, kenalkan ini Melati. Dia adalah karyawan baru, tolong perhatikan dan hibur dia jiga. Dia adalah teman saya, kakeknya baru saja meninggal,” terang Rangga pada Diva, yang sudah menjadi karyawan nya selama tiga tahun ini.

__ADS_1


“Baik, Pak Rangga. Kenalkan, saya Diva Citra Arsia, panggil saja Diva,” ucap gadis itu yang mengulurkan tangannya pada Melati.


“Melati.”


__ADS_2