Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Berkunjung Ke Penjara


__ADS_3

Rangga telah sampai di depan penjara. Bangunan yang sangat tertutup dan di jaga ketat. Dia bisa masuk setelah menjalani berbagai proses sampai ke dalam. Di tangannya ada beberapa makanan, cemilan, minuman, uang di gulung sekitar delapan ratus ribu rupiah, serta tiga bungkus rokok.


Dia memberikan untuk penjaga satu bungkus sebelum Roki di bawa ke hadapannya.


Tak lama, Abangnya keluar dan duduk saling berhadapan dengan pantauan polisi penjaga tentunya. Rangga menatap wajah Roki yang nampak beberapa bekas luka dan lebam di tangan serta bagian dadanya. Sebagaian sudah kering, mungkin itu bekas luka dari rutan sebelum dia di pindahkan ke penjara.


Akan tetapi, sebagai masih terlihat baru. Rangga menelan salivanya. Ya, dia pernah mendengar dari beberapa orang yang keluar dari penjara atau yang berpengalaman dari penjara. Tergantung kasus yang menimpa, jika itu seperti pelecehan, pemerkosaan, dan lainnya, bully-an nya lebih keras dari hanya sekedar mencuri tanpa membunuh. Apalagi Roki, dia menjual dan menganiaya anak-anak dan perempuan, sehingga dia di hajar habis-habisan oleh narapidana lainnya.


Tentu saja, perbuatan mereka itu tidak diketahui oleh polisi penjaga. Ada pun tahu, sebagian polisi hanya diam saja melihat bekas luka atau lebam, jika tidak melakukan di depannya. Mereka memiliki kelompok tertentu, siapa kuat dia rajanya. Sedangkan Roki? Dia lemah, selama ini hanya mengandalkan uang dan anak buah. Jadi, tak ada yang bisa dia lakukan sekarang. Anak buahnya di tempatkan di tempat yang berbeda dan Salomon, anak buah yang selama ini dia andalkan entah pergi kemana.


“Bagaimana kabar Abang?" tanya Rangga berbasa-basi.

__ADS_1


“Seperti yang kau lihat!" jawab Roki.


“Aku bawa makanan, rokok dan uang,” ucap Rangga lagi sambil memberikan yang dia bawa kepada Roki.


“Makasih. Lebih baik kamu jangan sering-sering datang kemari.”


“Kenapa? Apa Abang disiksa karena aku mendatangimu oleh para penghuni penjara?” tanya Rangga dengan suara yang sangat pelan.


“Tidak Bang. Aku tidak repot. Kau adalah keluargaku, kau Abangku satu-satunya. Aku sangat menyayangimu. Tolong jangan larang aku....” lirih Rangga.


“Bang, tetaplah sehat, berubahlah. Semoga di dalam penjara ini, kau benar-benar berhenti menggunakan obat terlarang itu. Kembali ke jalan kebenaran. Aku menunggumu Bang. Kau adalah pilarku selama ini...” lanjut Rangga tertunduk.

__ADS_1


Dia tahu, Roki menggunakan obat-obatan terlarang, mengkonsumsinya. Dia juga yakin, perbuatan jahat Roki ini, di sinyalir karena ini.


Mengkonsumsi barang haram itu butuh uang banyak, demi nge- fly. Alkohol tinggi dan perempuan, membuat dia melakukan perbuatan jahat lainnya karena terbiasa.


“Kau jaga diri. Kau harus kuat dan pintar-pintar dalam kehidupan. Jangan berteman sembarangan dengan orang. Abang harus pergi dulu, sebentar lagi waktu berkunjungnya habis.” Roki meraih semua yang dibawa Rangga dan berniat pergi.


“Bang, aku sangat menyayangimu. Aku menunggumu kembali. Tolong berhentilah. Aku tahu, di dalam kau masih mendapatkan barang haram itu 'kan? Dari matamu, kau terlihat masih memakainya! Apa luka ini di dapat karena kau sangat menginginkan barang itu dan meminta pada mereka yang memasukkan barang haram itu diam-diam ke dalam penjara?” Rangga memegang kuat tangan Roki.


“Aku mohon Bang.” Rangga menatap lekat Roki.


“Aku harus masuk kembali ke dalam, Rangga.” Roki berdiri dan benar-benar pergi dari hadapan Rangga.

__ADS_1


Rangga tertunduk lesu sampai dia berjalan ke luar dari penjara. “Tuhan, hamba memohon pada Engkau. Tolong bawa kembali kakak laki-laki hamba, kepada jalan kebenaran. Dia adalah pria yang hamba sayangi, dia juga pria yang amat menyayangi hamba.” Di ujung kalimat, Rangga menetaskan air matanya. Lalu, masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan.


__ADS_2