
Di ruang tahanan sementara, Aini dikurung bersama yang lainnya. Entah berapa lama, hingga jeruji besi itu dibuka.
Aini melihat Helmi tersenyum dan bercengkrama dengan pria yang waktu itu ingin menikahinya, dia berjalan lebih mendekat. Qiram tersenyum lembut pada Aini, saat dia sudah sampai dihadapannya.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” tanya Qiram lembut. Membuat pipi Aini memerah mendengar kata sayang dari bibir Qiram.
“Emi, aku pergi dulu ya, terimakasih.”
“Makasih dan maaf ya, Mba. Kami salah paham. Hari itu kami sedang melakukan penangkapan orang-orang yang melakukan penjualan ilegal orang tubuh manusia yang diculik.” Helmi sedikit menjelaskan permasalahan nya pada Aini.
“Iya, tidak apa-apa. Makasih Bu Polisi,” ucap Aini tersenyum.
Qiram menggenggam tangan Aini, bergandengan berjalan masuk ke dalam mobil. “Maaf ya terlambat datang dan tahu. Aku malah baru tahu setelah polisi mengabari jika kamu ada di sini. Maaf.”
“Tidak apa-apa Qiram, aku paham dengan kesibukanmu.”
__ADS_1
***
Setelah Qiram menceritakan pada Lil O dan Hafisa bahwa dia akan menikahi Dokter Aini. Lil O sangat senang dan mulai menghubungi WO (Wedding Organizer) untuk membantu Qiram mempermudah pekerjaannya dan mempersiapkan pesta pernikahan.
Di sudut hati lain, Hafisa sedang berakting baik-baik saja. Dia pernah berhayal dan bermimpi akan menikah dengan Qiram, karena pemuda itu memberikan dia agensi khusus bahkan membuatkan tempat khusus. Akan tetapi, rupanya bangunan agensi yang dikhususkan untuk dirinya juga bersebelahan dengan klinik kesehatan dan klinik hewan yang dibuat Qiram. Kedua klinik itu di urus oleh wanita, salah satunya wanita yang akan menikah dengan Qiram.
“Qiram,” panggil Hafisa di sela Qiram melihat harga pasar di laptopnya.
“Ya, ada apa Hafisa?” jawab Qiram tanpa menoleh pada Hafisa.
“Jika kau menikah, bagaimana dengan Raja?”
Hafisa menggigit bibir bawahnya. “Maafkan aku Qiram, bukan aku tidak tahu diri dan ingkar janji. Kamu akan menikah dengan Dokter Aini, mungkin dia akan berat hati jika membesarkan anak orang lain.”
“Bukan dia yang membesarkan Raja, tapi aku Hafisa. Aku menikahi dia dan akan memberikan semua keperluannya. Sedangkan anak, aku akan tetap menjaga dan merawat mereka seperti janjiku. Untuk itu, nanti aku akan segera membicarakan nya pada Aini. Jika dia tidak setuju, aku akan mencarikan baby sitter untuk Raja dan Pangeran, jangan khawatir. Guru juga akan selalu menjaga anak-anak,” terang Qiram kemudian.
__ADS_1
“Oh, baiklah kalau begitu.” Hafisa berniat pergi dari sana, namun langkahnya terhenti saat Qiram memanggilnya kembali.
“Hafisa. Apa kau berubah pikiran? Apa kau menyesal memberikan anakmu padaku?”
“Mm-- bukan begitu, hanya saja ... aku khawatir, jika....” Aini kemudian diam saja dan tak melanjutkan ucapannya.
“Jika Aini tidak setuju merawat Pangeran dan Raja, begitu 'kan?” tanya Qiram. Hafisa mengangguk pasrah sambil menggigit bibirnya. Lebih tepatnya, hatinya tidak ikhlas jika berpisah dengan Qiram dan anaknya.
“Oh, ya. Aku sudah meminta agensimu untuk mempromosikan dua film layar lebarmu sekaligus. Aku sudah memproduseri kedua film itu. Beberapa tawaran iklan juga mulai bermunculan 'kan? Untuk kedepannya berhati-hatilah memilih kerjasama untuk menjadi ambassador. Apalagi dengan fashion pakaian. Sebenarnya, pakaian bagus, karena semakin banyak fansmu, semakin banyak pembeli untuk gaya stylemu. Hanya saja, lebih waspada saja dalam memilihnya,” saran Qiram.
Dikehidupan yang lalu, Qiram pernah mendengar, ditengah naik daunnya Hafisa, ada masalah tentang ambassador busana pakaian Hafisa dengan Fashionpreneur yang memproduseri pakaian untuknya.
“Hm, sebenarnya, akhir-akhir ini, aku sedang mencari fashion designer dan fashion stylist khusus untukmu. Agar tidak terjadi beberapa masalah dikemudian hari.”
“Terimakasih Qiram, aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu seperti apa. Aku dengan senang hati akan bekerja sama dengan mereka yang kamu rekomendasikan dari pada yang lain.”
__ADS_1
Qiram tersenyum. “Teruslah wujudkan cita-cita dan harapanmu, kejar mimpimu, lanjutkan pendidikan dan karirmu. Maka itu sudah membalas semuanya, dengan bagusnya karirmu, bukankah aku juga mendapatkan untung?”
Hafisa juga tersenyum mendengar ucapan terakhir Qiram. ‘Semoga hatiku kuat saat berada di sampingmu, bekerja di bawah naunganmu, tapi melihat kau dengan wanita lain,’ bisik Hafisa di dalam hatinya.