Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Aini Kesakitan


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu. Perut Dokter Aini sudah sangat besar, kakinya bahkan bengkak keduanya.


“Lady, hati-hati, bergeraknya jangan cepat-cepat dan tergesa begitu!” tegur sang nenek si pemilik rumah dia menyewa.


“Iya, Nek.” Dokter Aini tersenyum, dia tengah memetik buah strawberry dengan senyuman terkembang.


Buah strawberry yang dia petik adalah kebun milik sang nenek, buahnya besar-besar.


“Wah, sudah hampir sekeranjang,” seru Nenek.


“Biar Kakek saja yang bawa, nanti perut Lady sakit!” sambung sang Kakek yang muncul dari belakang mereka.


“Aku kuat kok Kek, Kakek juga bawa sayuran, biar aku bantu,” jawab Aini.


“Tidak Lady, kamu dan Nenek cukup memetik dan menyusun sayur saja ke dalam kotak, biar Kakek yang membawa ke depan.”


Akhirnya, sang kakek sendirian yang membawa sayuran dan buah yang dipetik ke depan. Sedangkan Aini dan Nenek hanya membawa sekeranjang kecil buah dan sayur.


Mereka duduk di atas tikar anyaman yang terbuat dari pandan, yang sudah dibentangkan nenek di halaman depan berumput hijau, ada beberapa bunga di sekitar sana, suara-suara ayam, bebek, domba, dan sapi saling bersahutan.

__ADS_1


“Lady, duduk saja, biar nenek yang buat minumannya!” sang Nenek pun meracik minuman khusus untuk Aini yang tengah hamil besar, sedangkan untuk dia dan Kakek, dia menyeduh rempah-rempah untuk kesehatan mereka berdua.


“Ayo, Lady! Cicipi,” ajak Nenek.


Aini mulai menikmati buah strawberry yang terasa asam-asam manis, lalu kue gandum yang empuk. Sedangkan kakek masih asik membawa sayur dan buah dengan gerobak, lalu menyusunnya.


Setelah selesai menyusun, sang kakek bergabung dengan nenek dan Aini. Tak lama, datanglah mobil pembeli sayuran dan buah.


“Hai Nek, Kek! Sudah lama kalian tidak menghubungi aku,” tegur si pembeli.


“Iya, beberapa waktu lalu, kakek sakit, jadi telat menanam sayur dan buah-buahan,” jelas sang kakek.


“Oh, dia Lady Aini, suaminya meninggal dunia, dia penghuni baru rumah nenek yang di sebelahnya,” jawab Nenek tersenyum.


“Syukurlah, akhirnya nenek dan kakek ada teman.” Setelah sedikit berbincang, menimbang sayur dan buah, pria itu memberikan uang pada Kakek.


“Makasih, Kek, Nek. Jika nanti kalian panen lagi, telepon saja saya!” seru pria itu.


“Oke. Tenang saja!"

__ADS_1


Setelah nya, mereka bertiga kembali menikmati hari mereka dengan bersantai. Aini memakan banyak buah strawberry. Dia sangat menyukainya. Dia merasa aman dan nyaman di sini, jauh dari hiruk pikuk, pemandangan asri, segar dengan tumbuhan hijau.


Nenek dan kakek punya ternak dan memiliki lahan yang luas, begitu menyenangkan. Di kehidupannya yang lalu, dia bertemu dengan kedua orang ini saat mereka sedang sakit, sedangkan sekarang mereka terlihat masih sehat dan bahagia.


“Tambah Lady!” tawar nenek. Dia sangat menyayangi Aini.


Tiba-tiba Aini merasa ingin buang air besar, dia berdiri, saat hendak berdiri dia sedikit pusing, kakinya sudah mengeluarkan cairan bercampur darah.


“Lady!" seru Nenek dan Kakek.


“Kakek, sepertinya Lady hendak melahirkan!” ucap Nenek.


“Iya, bagaimana ini?”


“Telfon Max lagi!" usul nenek pada kakek.


Kakek pun menelepon pria pembeli sayur dan buah tadi yang bernama Max.


“Max, tolong bantu kami. Lady Aini sedang kesakitan sekarang! Sepertinya, dia akan melahirkan, tolong kembali lagi!” mohon Sang Kakek pada Max.

__ADS_1


‘Baiklah Kek, saya akan memutar arah mobil kembali, tolong tunggu sebentar!’ sahut Max.


__ADS_2