
Keesokan harinya, Qiram kembali bertanya pada Guci emas.
“Guci, siapakah putra dari klan Damzi itu? Aku ingin memukulnya, karena dia, Gippong mati!”
Hening, guci emas tak menjawab apapun.
“Hei, katakan sesuatu, apa pertanyaan ini juga tidak bisa?” Qiram berpikir keras, dia tak ingin pertanyaannya terbuang sia-sia. “Baiklah, aku akan bertanya dengan pertanyaan baru. “Kepalaku sering sakit akhir-akhir ini, apalagi jika sebuah potongan ingatan masuk saat aku tidur dengan wanita muncul, jelas-jelas aku tidak pernah tidur dengan siapapun sebelumnya, kecuali--- emm, dengan CEO Marissa, dia--- dia menakaliku!” Pipi Qiram memerah, langsung terbayang adegan panas itu.
Guci emas merespon, dia bergetar dan mengeluarkan cahaya kuning keemasan.
“Terimakasih atas pertanyaan Anda, kami akan mengunci pertanyaan itu, tunggu beberapa saat untuk jawaban dari pertanyaan Anda, Tuan.” Qiram menunggu beberapa saat, hingga suara notifikasi itu kembali terdengar.
“Marissa adalah wanita yang Anda tiduri di dua kehidupan Anda, masa lalu dan kehidupan kali ini. Selamat, Anda mendapatkan kekuatan asli, silahkan serap nutrisinya.” Suara dan cahaya dari guci emas menghilang, lalu muncul sebuah pil seperti vitamin rambut berwana kuning keemasan.
“Heh? Apa ini?” Qiram menyentuh pil kecil berwarna keemasan itu. “Aaarrrgh, zzzzzzzz!!”
__ADS_1
Qiram merasa tersentrum saat menyentuh pil itu. Benda kecil itu masuk ke pembuluh darah dan nadi Qiram, dia merasa kesakitan, berteriak dan menjerit kuat, hingga ....
Duar! Ledakan cahaya emas memenuhi seisi kamarnya. Jecky berdiri di luar kamar, semenjak pil itu muncul, Jecky telah berlari menyusul, memperhatikan dan mendengar dari luar. Sedangkan Hafisa tergopong berjalan ke arah kamar Qiram karena mendengar teriakan dan jeritan Qiram.
Matanya terbelalak dengan sempurna saat sampai di sana, cahaya kuning keemasan memenuhi ruangan kamar Qiram, dia tak bisa melihat jelas, karena pintu kamar itu di tutup dan Jecky berdiri di sana.
“Tuan Jecky, ada apa dengan Qiram?” tanyanya cemas, masih menggendong putranya Raja.
“Astaga, Nona Hafisa. Apa yang Anda lakukan? Anda belum kuat, Anda malah menggendong putra Anda sampai ke sini!”
“Cepatlah duduk, sini bayi Raja. Tuan Muda baik-baik saja, ayo kita kembali!” ajak Jecky setelah melihat cahaya kuning itu lenyap dari sela pintu kamar Qiram.
Setelah cahaya itu meledak dalam dirinya, Qiram langsung pingsan, badannya melayang sementara, kemudian berpindah sendiri ke atas ranjang.
“Nona, Anda tidak boleh banyak bergerak! Anda harus menjaga kesehatan Anda!” Jecky meletakkan bayi Raja di samping bayi Pangeran. “Apapun yang terjadi, Anda tetap harus tenang, jika Anda cemas dan banyak bergerak, bekas operasi Anda akan terbuka, bisa saja Anda pendarahan. Jangan membuat Tuan Muda susah!” Terdengar nada suara Jecky ketus. Baru kali ini Hafisa melihat Jecky kesal.
__ADS_1
“Maafkan saya, Tuan. Lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi, Saya tidak berniat menyusahkan Qiram. Sekali lagi, tolong maafkan saya,” ucap Hafisa.
“Maaf, bukan begitu. Saya hanya khawatir akan Nona dan Tuan Muda saja.”
“Iya, saya paham kok, Tuan Jecky.” Hafisa tersenyum.
***
Di tempat lain, Professor Asrul masih mengelilingi setiap tempat, mencari benda-benda antik, terkhusus guci. Ya, Guci emas.
Professional Asrul memiliki ingatan dikehidupannya masa lalu, sebelum waktu berputar, walau tidak penuh, tapi dia bisa mengingat, saat itu tanpa sengaja dia memaksa mempertahankan pecahan guci emas, membuat tangannya terluka, darahnya merambas ke pecahan guci yang sedang menyerap dan memutar waktu.
“Aku harus menemukan guci emas itu!” hardiknya pada cucu perempuannya yang rewel meminta kembali pulang.
“Tetapi Kek, kita sudah mencari begitu lama, bahkan sudah dua bulan, setiap hari kita ketempat pelelangan ini.”
__ADS_1
“Apa yang kau tahu! Guci itu bisa membuat kita kaya dan hidup bahagia, sudah, ayo, ikuti Kakek!” Cucu perempuannya hanya bisa pasrah sambil menggandeng kakeknya.