Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Investasi


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu, Qiram sibuk dengan ruko yang baru ia beli, mempermak dan memodifikasi bangunan itu, ia dan Rania mengatur ruangan untuk klinik hewan mereka, lalu Qiram juga meminta usulan pada Jecky dan Raina tentang klinik kesehatan yang akan ia buatkan untuk dokter Aini sebagai kejutan.


Untuk saat ini, Dokter Aini Farha masih bekerja di klinik sepeti biasa, tetapi beberapa bulan lagi akan datang masalah itu, makanya Qiram mulai menyiapkan dari sekarang. Jadi, saat Dokter Aini diberhentikan bekerja dari klinik itu, ia bisa membawa Dokter Aini kemari.


Perut Hafisa juga semakin besar dan membulat, perkembangan janin di dalam perutnya bagus dan sehat, bahkan perkiraan USG, ia memiliki anak kembar. Gippong juga lebih sering berubah jadi manusia akhir-akhir ini, padahal biasanya gadis itu berubah menjadi manusia saat malam hari. Lalu, bayi Pangeran masih saja seperti itu, dia seperti boneka hidup, tidak bergerak, diam, tidak menangis, terlihat aneh. Seharusnya, bayi itu sudah bertambah kemampuannya, mungkin telungkup, atau merangkak.


Qiram menyewa arsitek untuk mempermak kedua bangunan itu dengan bayaran 1 Milyar untuk keseluruhan bangunan, lalu ia juga menyerahkan uang sebesar 50 juta pada Rania untuk menambah membeli alat-alat perlengkapan hewan dan obat.


“Apa ini sudah cukup?” tanya Qiram pada Rania.


“Saya kira ini sudah sangat cukup, Tuan Qiram. Semoga usaha kita berjalan lancar.”


“Aamiin. Oh ya, aku serahkan semuanya padamu ya, aku tak bisa berkunjung kemari, aku akan menemani temanku Hafisa, sekarang ia sedang hamil besar, aku tak bisa pergi jauh dan lama, jika ada perlu, tolong kabari aku ya.”


“Baik, Tuan,” sahut Rania.


‘Hafisa yang waktu itu dikatakan Tuan Qiram pada Tuan Jecky, ya? Ia sangat perhatian pada temannya itu,’ gumam Rania dalam hati.


Setelahnya, Qiram mengunjungi kios Lil O, pemuda itu tampak sibuk, dagangannya mulai ramai diserbu pengunjung. Tidak diragukan lagi, sahabat baiknya ini memang jago memasak, dikehidupan pertama Qiram dulu, Lil O juga hebat memasak, bahkan sering bekerja dibagian dapur untuk menjadi koki di kafe-kafe.


“Qiram! Tuan Jecky, silahkan duduk.”


“Rame nih!” goda Qiram, “butuh bantuanku tidak?” tanya Qiram.


“Tidak, aku sudah memperkerjakan dua orang pelayan nih, untuk membantuku atas usul Hafisa kemarin,” sahut Lil O sambil menumis sayuran yang dipesan pelanggan.


“Oh, baguslah, jadi kau bisa beristirahat yang cukup sahabatku. Wangi sekali, aku selalu tergoda dengan masakanmu, tetapi aku lagi diet,” tutur Qiram sambil meneguk salivanya, ia benar-benar ngiler.


“Aku akan membuatkan untukmu dengan sedikit garam tanpa penyedap, tunggu sebentar, duduklah!" pinta Lil O.


Setelah menumis sayuran, pelayan baru Lil O membantu menghidangkan untuk pelanggan, lalu Lil O langsung menumis makanan spesial untuk Qiram, lalu untuk Jecky.


Tak menunggu lama, tangan lincah Lil O sudah menyelesaikan masakannya, ia pun menyuguhkan pada Qiram dan Jecky. “Ayo, cicipi!” pintanya.


Qiram dan Jecky pun mulai mencicipi hidangan yang dibuat Lil O. “Bagaimana dengan ruko yang kau beli?” tanya Lil O, ia duduk dihadapan Qiram.


“Aku sudah membelinya dan sedang mempermak bangunan itu bersama Rania,” jawab Qiram. “rasanya tak seenak biasanya,” Qiram mengeluh pada masakan Lil O, “padahal wanginya sama!”


“Iya, 'kan aku tidak memberikan penyedap dan sedikit garam, kamu 'kan lagi diet. Sabarlah, setelah berat badanmu ideal, kau bisa mencicipi makanan enak, tapi tidak melebihi kapasitas seperti biasa, hehehe!" jelas Lil O terkekeh.


“Hahahha!” Qiram pun juga terkekeh. “Aku senang punya sahabat sepertimu.”


“Aku juga, Qiram.” balas Lil O tersenyum. “Ah, tunggu sebentar, ada yang memesan makanan!" Lil O izin pamit undur diri karena pelayan memberitahunya jika ada yang memesan makanan.


Pelayan yang bekerja dengannya dua orang, satu bagian melayani, menghidang dan mengemas, satu lagi bagian cuci piring, sedangkan Lil O bagian memasak.

__ADS_1




Setelah mengunjungi dan menyantap makanan yang dihidangkan Lil O, Qiram memutuskan melihat-lihat tanah yang baru di garap. Sebagian sudah pasang pondasi, sebagian belum.



Seseorang mendekatinya. “Selamat siang Bapak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya menyapa Qiram.



“Siang,” jawab Qiram. Jecky hanya mengangguk dan tersenyum, pria itu lebih terlihat seperti bodyguard Qiram.



“Ini mau membangun perumahan ya?" tanya Qiram. Ia mengamati beberapa mesin kontraktor yang sedang meratakan lahan.



“Oh, iya, Pak. Ini perumahan duta mas, ada yang tipe 21/36/42 dan lainnya, ini brosurnya. Bapak bisa melihat-lihat dulu!” Pria itu memberikan brosur, menunjukkan denah dengan tanah yang masih digarap dengan mesin kontraktor.



Di kehidupan Qiram yang lalu, saat dua bulan sebelum ia meninggal, perumahan duta mas ini diburu dan harganya menjadi mahal berlipat-lipat setelah dibangunnya pariwisata yang tak jauh dari sini. Pusat perbelanjaan semakin banyak, pelancong manca negara dan luar manca negara pun banyak berkunjung.




Pria itu pun tampak tersenyum cerah, daerah ini cukup jauh dari keramaian, namun lokasinya bagus, memiliki pemandangan yang bagus, tetapi bangunan ini sudah dipromosikan kemana-mana masih saja belum laku. Oleh karena itu, ia begitu senang Qiram datang bertanya-tanya.



‘*Tempat yang jauh dari keramaian ini akan menjadi pusat keramaian nanti, aku harus bisa mengambil peluang bagus ini atas kesempatan hadiah yang diberikan oleh sistem*!’ gumam Qiram dalam hati.



Pria itu mulai menjelaskan mulai dari harga, cara bayar dan lainnya. Qiram menganggukkan kepalanya tanda ia paham. Lalu, ia menoleh pada Jecky.



“Guru, bagaimana menurutmu?” tanyanya menatap pria yang sejak tadi hanya diam mengikuti dirinya seperti pengawal.


__ADS_1


“Bagus, aku setuju dengan ide, Tuan Muda,” jawab Jecky.



“Baiklah. Jadi, kalau barisan paling depan aku ambil, 20 rumah, bisa mendapatkan *korting* harga 'kan?” tanya Qiram.



Pria itu tampak berpikir lama, kemudian ia menghubungi atasannya yang menjadi pemilik lahan dan bangunan itu. Akhirnya harga rumah yang tadinya harga 130 juta menjadi 125 juta.



“Kami hanya bisa memberikan potongan harga 5 juta setiap rumahnya, Pak. Jadi, total semua yang dibayarkan 2,5 Milyar untuk 20 buah rumah barisan depan ini,” terang pria itu.



“Apa tidak bisa kurang lagi tu?” tanya Qiram mencoba menawar lagi.



“Tidak bisa Pak, itu sudah harga terendah karena Bapak akan membelinya cash,” tuturnya.



“Ah, baiklah, mari kita urus surat menyuratnya.”



Di dalam surat perjanjian itu, bangunan akan rampung sempurna keseluruhan maksimal waktu setahun, tetapi karena Qiram membeli cash, ia menjanjikan waktu tiga bulan untuk menyelesaikan semua, karena barisan depan sudah mulai memasang pondasi bangunan, sedangkan yang lainnya masih perataan lahan.



Setelah surat menyurat telah selesai sempurna, Qiram tersenyum puas, uang yang ia peroleh tidak terbuang cuma-cuma, ia akan melakukan investasi agar yang itu semakin bertambah. Ruko, perumahan yang ia beli adalah investasi jangka panjang yang bisa ia gunakan disaat nanti ia terjepit.



‘Kali ini, aku harus memikirkan investasi yang bisa mendapatkan hasil besar dengan cepat!’ gumam ya dalam hati.



“Tuan Muda, kemana tujuan kita sekarang?” tanya Jekcy yang telah bersiap di kemudi.



“Kita akan mengunjungi anak-anak jalanan! Ayo, kita ke sana!” ajak Qiram tersenyum. “tapi sebelum itu, tentu kita harus mbeli amplok, makanan, dan sembako untuk mereka.” terang Qiram.

__ADS_1



“Baiklah, Tuan Muda!” Jecky mengangguk.


__ADS_2