
“Akh!” Terdengar pekikan kesakitan saat seorang gadis di pecut dengan tali kerbau. Badannya penuh dengan luka dan memar.
“Kenapa wanita itu di hukum, padahal badannya tampak menggairahkan,” tanya Roki pada pria botak.
“Dia menyakiti tamu VIP kita, dia tidak bekerja dengan benar,” jawabnya dengan sopan.
“Oh, pembeli ginjal dan jantung sudah ada untuk dua anak itu?” tanya Roki kembali, dia berjalan ke arah ruangan yang lebih nyaman di lihat.
Ada dua anak berumur 11 tahun dan 14 tahun. Seorang anak laki-laki dan perempuan. Mereka diberi makan enak, badan di bersihkan, tempat tinggal juga. Mereka sengaja dipantau selama sebulan ini karena akan dijual.
“Sudah Boss. Ada konglomerat butuh jantung untuk putra semata wayangnya. Dia berani membeli 500 juta. Ginjal dan mata juga dibeli oleh pengusaha kelapa sawit dan batu bara untuk anak mereka yang membutuhkan,” terang pria botak lagi.
__ADS_1
“Oh, bagus. Jadi tidak sia-sia kita merawat dan memberinya makan selama sebulan ini. Kalau begitu, cari orang-orang yang membutuhkan kembali, dan seleksi anak yang dikurung itu untuk penjualan selanjutnya.”
Roki benar-benar kejam dan tak punya perasaan.
Tak lama tampak seseorang berbisik pada si botak. Kemudian botak bertanya pada Roki. “Maaf, Boss. Sepertinya ada yang mengikuti Anda kemari, tetapi hanya sampai di gerbang pertama. Apakah benar wajah ini wajah adik Anda?"
Roki menatap rekaman cctv. Ya, di semak belukar itu sudah ada cctv di pasang demi keamanan, jika sewaktu-waktu ada polisi atau orang datang menciduk mereka.
“Iya, dia adikku. Jangan lukai dia. Arahkan saja dia pada tempat yang aman. Jangan sampai dia tahu apa yang aku lakukan!” perintah Roki. Walaupun dia dengan Rangga tidak seibu, dia cukup sayang pada adiknya itu.
***
__ADS_1
Aini Farha terpekik kaget saat melihat tanda tes peck bergaris dua. Dia hanya iseng melakukan tes, karena merasa kepalanya pening, mual, selalu lapar, letih, dan suka berpikiran buruk, dia bahkan sangat mesum akhir-akhir ini. Entah apa yang membuat dia terobsesi pada Qiram.
‘Apa karena dia sekarang semakin tampan, dan dia juga tajir,’ Aini bergumam kala itu untuk menyadarkan dirinya yang mesum.
Jujur saja, dua hari yang lalu, dia resmi keluar dari klinik pertamanya ia bekerja, karena terus-menerus di teror sang mantan. Apalagi sang mantan mengancamnya, beruntung Qiram menawarkan diri, bahwa dia membuka klinik khusus untuk Aini. Dia pun tidak bisa menolak dan senang akan ajakan itu.
Hari ini adalah hari pertamanya klinik baru itu beroperasi. Masih sedikit lengang, jadi iseng Aini melakukan tes peck pada dirinya sendiri. Dia terkejut luar biasa, sampai melakukan tes itu lima kali.
“I-ini nggak mungkin! Aku bahkan belum pernah melakukan hubungan badan, sejauh ini aku baru hanya melakukan kontak cium, dadaku saja bahkan belum ada yang menjamah, apalagi bagian bawahku, dan kenapa tiba-tiba hamil. Ini nggak benar!”
Aini menjadi semakin pusing, dia keluar dari toilet, menuju meja kerjanya lagi. Di dalam ruangannya, ada ranjang pasien. Dia tiduran di sana sambil menatap langit-langit ruangan. Sebenarnya posisi Aini di sini menjadi dokter umum untuk sementara, karena jurusan yang diambilnya sendiri adalah ‘Andologi'
__ADS_1
Jurusan yang meliputi gangguan kesuburan (infertilitas), penurunan gairah s e x s u a l, andropause, difungsi erek si , eja kulasi dini, eja kulasi tertunda, impo tensi, gangguang pros tat, dan gangguang hormon s e x s u a l pria.
“Apa aku keruangan obygyn aja kali, ya? Untuk USG, pasti ini salah? Tapi, nanti jika benar aku hamil, 'kan gawat, aku baru kerja sehari dan klinik ini baru beroperasi dan baru diresmikan oleh Qiram, tiba-tiba ada dokternya hamil tanpa suami. Dan lebih parah nya aku 'kan belum belah duren, nggak tau rasanya gimana! Bagaimana bisa hamil sih!” Aini menggaruk-garuk kepalanya frustrasi sendiri.