
Jingga hidup lebih baik di desa Petarung, dia belajar memasak, dia juga mengurus tiga bayi bersama nenek. Dia jauh lebih senang dan tenang saat ini.
“Cah Ayu, kamu capek Nak? Kalo capek, istirahatlah,” ucap Nenek lembut.
“Nggak kok, Nek. Aku malah senang, buat kue sambil jaga mereka. Mereka lucu dan menggemaskan,” jawab Jingga alias Lenggo.
“Oh begitu. Oh ya, Cah Ayu, sudah kenal lama dengan Nak Qiram?” tanya Nenek.
“Cukup lama Nek. Beberapa tahun lah. Dia baik, cuma ... dulu dia nggak seberani itu, dia lebih lemah dan pengecut. Kalau sekarang dia berani dan ... dia juga lebih kurus dan banyak uang,” ujar Lenggo.
Nenek menatap Lenggo. “Cah Ayu suka sama Nak Qiram?” tanya Nenek lagi.
“Ya, dari dulu Nek. Tapi, itu juga mustahil, aku tidak bersih lagi. Siapa juga yang mau denganku, Nek. Aku bersyukur dia menolongku.” Lenggo tersenyum hambar dengan mata melamun.
“Tidak ada yang tau dengan jodoh dan takdir Nak. Nak Qiram memang sangatlah baik, jika bukan karena kebaikan dia, kami tidak tahu bagaimana dengan nasib kami yang buruk. Anak-anak kurus, banyak menghilang dan gak terurus. Jika musim hujan kami banyak yang sakit. Syukurnya, Nak Qiram memberi kami bantuan tempat tinggal dan pangan. Dia sangat baik.” Nenek juga menimpali sambil melamun menatap lurus ke depan.
__ADS_1
***
Di suatu tempat tersembunyi.
Tuan Beneno membuatkan racikan dari berbagai akar dan daun, serta putik bunga, dengan tujuh macam rasa air dan warna.
“Minumlah Nak, ini bisa membantumu menghilangkan rasa kram perut.” Dia memberikan racikan itu pada Marissa.
“Kek, kekuatanku semakin lemah, sepertinya Qiram tidak pernah memikirkan ku sedikitpun. Tak ada gelombang suara memanggil namaku. Apa dia hanya menganggap aku wanita penghibur? Sama dengan kehidupan pertama kami?” Wajah Marissa tampak lesu, dia merasa sedih.
“Tidak, ini hanya perasaan mu saja, karena kau sedang hamil. Qiram bukan tidak memikirkan dirimu, mungkin saja dia tengah bingung, bagaimana jika besok kau menghampiri dia.”
“Coba dulu Marissa. Kau adalah pasangan untuknya, dikehidupan lalu kalian memiliki anak. Kehidupan ini, anak kalian akan hidup dan memiliki kekuatan, karena kehidupan ini, dia memiliki berkah kekuatan ibunya dari guci. Jadi-” Ucapan Tuan Beneno terhenti karena mendengar suara angin bertiup memberi kabar aneh.
Dia mulai menghirup aroma angin, bahkan Marissa juga merasakannya.
__ADS_1
“Kek, apa mungkin ada anak lain selain anakku? Bukankah saat aku hamil dikehidupan lalu, kita juga mencium aroma ini?” tanya Marissa.
“Tidak mungkin Marissa. Qiram dikehidupan yang lalu bahkan tidak pernah bersentuhan dengan wanita, begitupun kehidupan sekarang, dia hanya sibuk memperkaya dirinya, walau banyak wanita disekelilingnya. Ada Jecky yang ada disampingnya. Jecky bisa memastikan tidak pernah ada wanita yang dia sentuh kecuali kamu, Marissa.”
Marissa hanya diam menatap Tuan Beneno.
“Kau tahu sendiri 'kan? Jika suku kami memiliki garis keturunan jodoh? Kami memiliki pasangan seumur hidup? Jecky adalah pasangan Ibu Qiram, putriku. Sayangnya, dia malah memilih mencintai dan menjalin sumpah dengan manusia biasa, ayahnya Qiram. Yang akhirnya dia mati. Sebelum dia mati, dia malah meminta sumpah pada Jecky untuk menjaga Qiram dan keturunannya, jadi Jecky akan selalu menjaga Qiram dan anak-anaknya. Dia pasti tidak akan membiarkan sembarangan wanita di dekat Qiram, percaya itu Marissa.”
Tiba-tiba, Marissa menangis. “Aku kasihan dengan putri, dia diberi nama Gippong. Aku kira, Qiram akan mencintai dia, padahal dia datang jauh lebih dulu. Aku tidak menyangka Qiram tidak mencintai dia, hanya sebatas menyukai dia secara biasa. Akan tetapi, Kek, kenapa Jecky bisa hidup, sedangkan putri mati?”
“Karena Qiram tidak meminta sumpah kepada dia untuk hidup bersamanya, sedangkan Jecky, putriku meminta sumpah untuk dia hidup selama-lamanya untuk menjaga garis keturunan putriku.”
“Tapi, kenapa dikehidupan pertama, Tuan Jekcy tidak di samping Qiram?”
“Karena kami tidak tahu jika putriku memiliki anak, Marissa. Dia menghilang, kekuatannya mulai perlahan habis. Hingga kami merasakan energi kemusnahan, makanya kami mendatangi tempat itu. Sayangnya, yang kami temukan sebuah guci yang sudah berwarna hitam arang nan pecah. Setelahnya, kami menghirup dari mana sumber kemusnahan itu, kami melihat Qiram bersimbah darah, dan ....” Tuan Beneno diam, merunduk.
__ADS_1
“Dan apa Kek?”
“Aku menumbalkan kehidupan dan kekuatanku untuknya melalui guci dari sisa kemusnahan kekuatan putriku yang bisa tersalur, jika tidak ... dia tidak akan pernah bisa mengulang kehidupan untuk Qiram, anakmu, dan semuanya, akan berakhir menjadi kunang-kunang.”