
Rangga kembali bertemu dengan Melati tanpa sengaja disebuah supermarket.
“Hai, kita berjumpa lagi ya!”
“Iya, kamu lagi apa?” tanya Melati menyapa balik Rangga.
“Beli susu sama cemilan. Kalau kamu?” tanya balik Rangga.
“Beli saus sambel.”
“Oh, setelah ini mau kemana? Mau makan es cream di depan bersamaku dulu?” ajak Rangga.
“Mm.” Melati tampak berpikir sejenak, dengan memutar bola mata dia menjawab, “Baiklah.”
Melati dan Rangga memilih duduk di pembatas jalan trotoar, di tepi jalan itu ada penjual es cream dengan motor becak berjualan di sana.
“Kamu mau rasa apa?” tanya Rangga.
“Kalau kamu?” Melati malah bertanya balik.
“Kalau aku sukanya Vanila coklat," jawab Rangga tersenyum.
“Oh, aku vanilla strawberry ya.”
“Ok.” Rangga memberikan jempol. “Bang, es cup Vanilla coklat satu sama Vanilla starwberyy satu, ya!” pinta Rangga.
__ADS_1
Si penjual es krim pun menganggukan kepala sambil mengambilkan es krim pesanan orang lain yang sudah memesan terlebih dahulu.
Tak lama, pesanan es krim untuk Rangga dan Melati sudah dia terima dari Abang penjual es krim. Mereka menikmati es krim dengan santai.
“Enak ya. Manis, santannya terasa gurih di vanillanya 'kan?” puji Rangga menatap Melati. Gadis itu hanya mengangguk dan masih men*jilati es krimnya dengan nikmat.
“Gimana sama dagangan dan kakekmu?” tanya Rangga memukai perbincangan santai mereka.
“Semuanya lancar, kadang laris manis, kadang untuk modal aja. Dan kakekku selalu sehat dan kuat,” jawab Melati tersenyum.
Ya, mereka semakin akrab sejak kejadian waktu itu.
***
Salomon dan kelompoknya meringkuk kesakitan, dia di siksa habis-habisan oleh bawahan Helmi dan Helmi sendiri. Jika seandainya, Roki tidak dilindungi oleh keluarga dan pengacaranya, mungkin saja sudah di bawa dan dihajar oleh Helmi di penjara ini.
Helmi paling benci pada pria sampai yang tidak berguna seperti ini, badan sehat, otot kuat, tetapi malah menyiksa perempuan dan anak-anak. Oleh karena itu, dia tidak akan melepaskannya. Dia akan menyiksa Salomon semenderita mungkin, agar Salomon dan kelompoknya merasakan oerihnya penyiksaan yang di rasakan anak-anak itu.
Sakitnya bagi wanita saat di per-kosa dan dijual sebagai pemuas has*rat.
Helmi memegang puntung rokok bekas rokok bawahannya.
“Tangan ini ya, yang menusuk kema*luan wanita dengan bi-nal nya?” Helmi menempelkan puntung rokok yang masih berapi di antara daging kuku Salomon.
“Sstt, aaaaaah!” erang Salomon mendesis sakit. “Kau akan menyesal telah melakukan ini padaku wanita!” teriak Salomon. Dia masih tak takut, padahal nyawanya terancam di sini. Tidak banyak orang yang tahu tentang penjara buangtai ini.
__ADS_1
“Ahaha! Aku nantikan, ya ... jika kau bisa keluar dari sini sih!” Plak! Satu tamparan di pipi Salomon mendarat dari Helmi.
“Jaga mereka, aku harus keluar lagi!” perintah Helmi pada bawahan nya terlihat sangat.
“Sip kapten. Jangan lupa, bawa makanan yang banyak dan rokok, sekalian sama kartu remi baru!”
“Ah, main domino saja, atau nggak catur tuh!” tunjuk Helmi dengan tertawa.
“Sudah bosan kapten main itu mulu. Sekalian ular tangga aja deh bawa sama Dadu!”
“Nah, itu ide bagus juga!” Helmi tergelak.
Helmi keluar dari sana menggunakan mobil Jeep bersama dua orang bawahannya. Saat mereka tiba di jalan raya, Helmi langsung turun dan merapikan pakaiannya, berganti pakaian lebih feminim, lalu membawa sepeda motor matic berwarna pink.
“Kapten mau kemana?”
“Kalian cari makanan yang banyak, gue mau nemuin teman dulu!" serunya.
Selang beberapa puluhan menit. Helmi sampai di kios milik Qiram.
“Mana Lil O? Bilang sama dia, aku pesan seperti biasa!" pintanya pada pelayan.
“Maaf Mbak, Pak Lil O sudah pindah ke restoran baru.”
“Hah?”
__ADS_1