
“Selamat, Anda mendapatkan bonus atas kemajuan pesat Anda sebesar 100 Milyar Rupiah. Silahkan meminta permohonan lain. Permohonan sebulan Anda telah berakhir.” Suara notifikasi menyadarkan Qiram yang sedang menimbang berat badannya.
Kini, Qiram memiliki berat badan 95 kg.
“100 Milyar!” Qiram tak kuasa menahan perasaan bahagianya yang membuncah, senyuman mekar di bibirnya. “Akulah pemuda kaya raya! Ahahahha!” Ia masih tertawa senang, apalagi kini berat badannya telah terus berkurang, walaupun tak secepat minggu pertama, tetapi kini, ia telah memiliki bentuk otot tangan, walaupun di bagian lengan bawah tampak kulit bergelambir dan perut bawahnya.
Lil O sibuk dengan usaha barunya, Hafisa lebih sering merawat Pangeran karena sering ditinggal oleh Jecky dan Qiram. Gippong lah sebagai teman Hafisa.
“Guru, setelah ini kita pergi ke suatu tempat, ya!” aja Qiram.
“Ya, Tuan Muda. Akan tetapi, dinginkan dulu tubuh Anda, tidak bagus jika tergesa-gesa dan langsung mandi setelah olahraga,” jelas Jecky.
“Iya, saya mengerti Guru.”
Setelah mendinginkan badan, Qiram langsung mandi dan berganti pakaian, begitupula Jecky.
“Hafisa, aku dan Guru akan pergi, ada keperluan penting. Jaga Pangeran dan Gippong, ya.” pinta Qiram.
“Iya, apa kau pergi lama?” tanya Hafisa.
“Aku tak tau pasti, kenapa?” Qiram menatap Hafisa. “Apa perutmu sakit? Atau kau merasa tak nyaman?”
“Tidak, aku baik-baik saja, Qiram. Jika kau lama pulang, tolong belikan aku kepiting pedas, ya. Jika sebentar, belikan saja sate Madura.”
“Oh, baiklah, kalau begitu. Tolong kabari aku, jika kamu merasakan sesuatu!” pesan Qiram.
“Tentu, berhati-hati lah. Tuan Jecky juga!” ucap Hafisa tersenyum pada Qiram dan Jecky. Dua pria itu menjawabnya dengan mengangguk.
Pertama-tama, Qiram langsung menemui Raina Ozra di klinik hewannya.
“Selamat datang, Tuan Qiram!”
“Ya, kabarmu baik, Raina?” tanya Qiram basa basi.
“Ya, begitulah,” sahut Raina.
“Bagaimana? Apa kau sudah menemukan tempat yang bagus? Ayo, kita mendatangi dan menawar tempat itu!” ajak Qiram.
“Aku punya dua tempat yang aku ceritakan padamu saat itu, namun harga nya cukup tinggi,” jelas Raina.
“Kalau begitu, mari kita lihat tempatnya, apakah sesuai dengan harga!”
“Baiklah!” Raina pun bersiap dan meninggalkan pesan pada karyawan dan satpamnya, kalau ia akan pergi keluar karena ada urusan penting bersama Qiram.
Qiram, Jecky dan Raina telah sampai di tempat yang mereka tuju. Tim marketing telah menyambut mereka, berbasa basi, menunjukkan bangunan ruko yang berbaris, ada yang sudah dihuni, dipermak ulang oleh pembelinya, dan beberapa ruko yang kosong.
“Kalau boleh tahu, ini harganya berapa, ya?” tanya Qiram menunjuk lokasi yang cukup strategis untuk membuka usaha.
“Kalau ini, harganya 2,19 Milyar,” jawab seorang pemuda yang menjadi marketingnya.
“2,19 Milyar.” Raina mengulang harganya sambil menelan salivanya. “bagaimana kalau yang itu?” Raina menunjuk ruko yang berada disebelah ujung barisan ke dua.
“Oh, itu, harganya 1,98 Milyar. Ibu dan Bapak mau harga berapa?” tanyanya, kemudian ia mengeluarkan beberapa brosur bangunan ruko. “Nah, Ibu dan Bapak bisa melihat, kalau yang denah bagian ini 2 Milyar, paling belakang ini harganya 650 juta, ini 900 juta, dan yang sebelah sini 1,5 Milyar,” tutur pemuda itu.
“Harganya mahal!” Raina berbisik pada Qiram. Namun, Qiram masih saja menatap ruko yang berharga 2, 19 Milyar itu.
__ADS_1
“Tapi, kalau bagus, bagus yang ini 'kan? Lebih strategis, posisinya paling depan dan hook lagi.”
“Iya, Pak. Ini jauh lebih bagus, cocok untuk membuka usaha,” sahut pemuda itu.
“Tapi harganya bagus juga Qiram, apalagi rukonya cuma dua tingkat!" Raina mencoba mempengaruhi pikiran Qiram yang tampak sangat tertarik.
“Iya, tak masalah Raina, yang penting bagus untuk usaha!” Qiram menatap Raina kemudian menoleh pada Jecky. “bagaimana menurut Guru, apakah ini tempat yang bagus?”
Jecky sejenak terdiam. “Menurut saya ini tempat yang bagus untuk usaha, tetapi bukankah Tuan Muda berkata untuk membeli beberapa baris bangunan ruko untuk membantu Nona Hafisa?”
‘*Hafisa*?’ gumam Raina.
“Iya, itu tempatnya bisa kita lihat yang barisan ini nanti.” Qiram menunjuk barisan ruko yang harga 650 juta. “Sekarang tempat ini bagus gak menurut guru untuk buka usaha?” Qiram menatap Jecky.
“Bagus,” jawab Jecky.
“Menurutmu bagus, tidak?” Qiram kembali bertanya pada Raina.
“Kalau begitu, aku akan beli 5 baris ruko ini.”
“Apa?!” Raina dan Pemuda itu terkejut bukan main.
“Maksudnya bagaimana Pak, Anda menginginkan semua ruko kosong ini?” tanya Pemuda itu memastikan.
“Iya, harga yang satu ini 2,19 Milyar, sedangkan yang ini 2 Milyar 'kan?”
“Iya, Pak.”
“Apa aku bisa memiliki pemotongan harga jika membayarnya cash?”
“Kalau begitu, saya akan bertanya pada ketua marketing dulu, tunggu sebentar!” ujar pemuda itu, lalu ia berlari terburu-buru menemui ketua marketingnya.
Raina langsung bertanya pada Qiram, setelah pemuda itu pergi. “Tuan Qiram, apa Anda serius akan membeli 5 ruko ini?”
__ADS_1
“Iya, 2 ruko ini untuk klinik hewanmu.” Qiram menunjuk 2 ruko yang kosong diantara 3 baris yang ia beli, ada jarak dengan 2 ruko lainnya ke 3 baris ruko bagian hook.
“Lalu, 3 baris ruko itu untuk klinik kesehatan,” jelas Qiram. “em, menurutku cocok di sini, dua klinik berdekatan. Menurut Guru bagaimana?” Ia menoleh pada Jecky.
“Sangat bagus, Tuan Muda.”
Ketua tim marketing langsung menyalami Qiram dan bersikap ramah, tadinya ia jutek dan masih angkuh, mengira Qiram hanya orang kaya baru yang sok kaya, melihat dari tampilan pakaian Qiram yang biasa saja.
“Bapak akan membayar dengan harga cash, ya? Kami akan memberikan pemotongan harga 25 juta untuk yang hook, sedangkan untuk 4 bangunan ini hanya bisa memberikan pemotongan harga 10 juta setiap masing-masing,” jelasnya.
Mendapati Qiram diam saja, ia mulai berpikiran buruk kembali, lalu menawarkan sistem kredit. “Jika Bapak merasa kesulitan, kami bisa membantu dengan sistem kredit, tetapi ada beberapa syara-” Ucapannya langsung dipotong oleh Qiram.
“Tidak, aku akan membayar chas.”
“Oh, baiklah, apa Bapak sudah setuju dengan harga yang kami tawarkan barusan?” Ia bertanya kembali.
Qiram bukan menjawabnya, malah melihat brosur ruko yang harga 650 juta.
“Tunggu sebentar, ya!" ucap Qiram. Pria itu mengangguk.
“Guru, bagaimana menurutmu jika tempat ini untuk Hafisa? Ini tidak jauh dari dua klinik ini, klinik di depan, tempat ini di belakang.” Qiram menyodorkan brosur itu untuk dilihat Jecky.
“Iya, ini bagus Tuan Qiram.” Raina menyahuti tanpa ditanya.
“Bagus, ya, menurut kamu?”
“Iya,” jawab Raina.
“Kalau boleh jujur, saya lebih suka yang barisan 1,5 Milyar ini Tuan Muda. Bangunan ini menghadap ke arah timur, perkarangannya lebih luas. Ini lebih cocok,” usul Jecky menunjuk denah lokasi dan penjelasan.
“Kalau menurut Guru ini lebih bagus, aku akan mengambil ini.” Qiram tersenyum.
‘*Cih, banyak gaya, mulai dari harga 2,19 Milyar, 650 juta, kini 1,5 Milyar. Sebenarnya ada uang gak? Jadi, mau beli? Pakai acara nawar 5 baris ruko. Dasar orba miskin, berlagak pula*!’ dengus ketua tim marketing itu dalam hati.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...