
Qiram telah sampai di rumah besarnya, senyuman hangat dari Hafisa menyambutnya bersama Gipong yang menatapnya manja, kucing hitam dengan bulu putih di keempat kakinya itu langsung bermanja, mengeluskan tubuh dan ekor panjangnya di kaki Qiram.
Qiram jadi teringat bagaimana indahnya tubuh Gippong saat menjadi manusia, dan ... tiba-tiba pikirannya kembali pada Marissa. Otak polosnya yang masih perjaka telah dirusak oleh wanita cantik itu. CEO Marissa yang ia kenal sebagai kekasih Roki Albusro dikehidupannya yang lalu.
‘Ah, siaaal! Lagi-lagi, pikiranku sejak tadi kotor melulu!’ keluhnya.
Perut Hafisa sudah sangat besar, mungkin kini usia kehamilan itu sudah memasuki 7 bulan, karena sudah bulat penuh. Dirinya sangat telaten menggendong bayi Pangeran, walaupun bayi itu diam bak boneka, tak merespon, hanya sekedar mata saja berkedip, tetapi Hafisa memperlakukannya dengan baik.
“Cocok!” ujar Qiram, ia mendudukkan tubuhnya di sofa, di samping Hafisa yang duduk menggendong bayi Pangeran.
“Iya, harus, sebentar lagi aku akan menjadi ibu. Aku harus belajar, agar bisa 'kan?” Menatap Qiram dengan tersenyum, meminta persetujuan dari pendapatnya.
“Hehe, ya, benar! Semoga bayi dan ibunya selalu sehat, melahirkan dengan selamat!” Qiram mendekat, lalu mengelus perut buncit Hafisa, membuat gadis itu berdebar, pipinya menjadi panas.
“Em, bagaimana dengan kegiatanmu akhir-akhir ini? Kata Tuan Jecky, kemarin kamu sibuk banget, sampai gak pulang. Padahal aku memasak makanan kesukaanmu, aku belajar dari resep Lil O.” Hafisa mengalihkan topik bicara, agar debaran di dadanya tak terlihat jelas.
“Mmm- Maaf ya, iya, aku sibuk kemarin.” Qiram tersenyum kaku. ‘Sibuk apa-an? Sibuk di ranjang, iya!’ gumamnya dalam hati. “Oh iya, Lil O jarang pulang ya sekarang?” Qiram pun bertanya.
“Iya, kadang pulang, kadang enggak! Tergantung kalau kedainya rame. Dia udah nambah karyawan lagi, laris manis!” jawab Hafisa.
__ADS_1
“Syukurlah! Aku jadi lebih tenang sekarang, tetapi kamu pasti kesepian ya, aku dan Lil O selalu sibuk dan jarang di rumah. Apa aku carikan pekerja untuk rumah kita ini? Biar kamu gak kesepian ada teman ngobrolnya?” Qiram menatap Hafisa serius.
“Tidak usah Qiram. Aku ada Gippong dan Pangeran yang menemani. Walaupun mereka tidak bisa diajak bicara, tapi Gippong mengerti, apalagi malam-malam dia berubah jadi manusia, bahkan malam kemarin masih sore dia sudah berubah jadi manusia,” jelas Hafisa.
“Ooh, begitu. Jika kau berkata begitu, apa boleh buat.” Qiram mengedikkan bahunya. “Kalau begitu, aku mau mandi dan istirahat dulu!” Qiram hendak pergi ke kamarnya.
“Guru! Aku mandi dan istirahat dulu!” pamit Qiram.
“Baik Tuan Muda!” sahut Jecky Azmi, Guru Qiram.
Qiram berjalan ke kamarnya, langsung menarik handuk dan mandi. Setelah mandi, ia memakai celana boxer. Ia bercermin sambil tersenyum senang.
“Wah, tak aku sangka, bobotku 150 kg bisa berkurang juga, bagaimana kalau berat tubuhku menjadi 60-70 kg saja dengan otot yang ideal? Pasti keren sekali!” Qiram masih memandangi tubuhnya yang baru kurang beberapa kilo itu.
“Aku belum meminta permohonan baru padanya! Dia juga tidak mengingatkanku, tidak bergetar seperti dulu. Apa kau juga mengerti, karena uang yang kemarin belum habis, aku sibuk berinvestasi sana sini!” Berbicara sendiri sambil mengelus guci emas.
“Kau hanya diam saja! Setiap aku bertanya kau tak pernah menjawab, banyak hal yang aku bingungkan, sebenarnya kenapa ibuku bisa mempunyai benda seajaib ini, aku bisa hidup kembali dan merubah hidupku. Akan tetapi, kenapa kau hanya diam saja, dasar benda mati!” Qiram menepuk pelan guci emas itu.
Tring! Emas batangan tiba-tiba jatuh, yang artinya sebuah permohonan telah diaktifkan.
__ADS_1
“Eh?”
“Selamat Tuan, permintaan Anda telah dikabulkan. Anda bisa bertanya satu kali dalam sehari. Pergunakan pertanyaan itu dengan sebaik mungkin, maka hadiah terbaik akan Anda miliki.”
“Loh?” Qiram kebingungan, dia tidak melakukan permohonan, hanya bicara saja. “Baiklah, karena aku diberi kesempatan bertanya. Maka aku akan bertanya!”
“Hei, guci emas, kenapa kau mengabulkan permohonan ku?”
“Pertanyaan dikunci, tunggu beberapa saat untuk mendengar jawaban!”
10 menit kemudian, guci emas itu bercahaya, terdengar suara anak laki-laki kecil menjawabnya.
“Sampai kepingan emas habis, permohonan Anda akan dikabulkan! Selamat atas pertanyaan pertama Anda. Datanglah ke Mansion Tuan Beneno di kota Intan secepatnya, ambil hadiah Anda segera!” Setelah menjawab itu, cahaya kuning keemasan menghilang.
“Hah? Maksudnya apa? Coba jelaskan? Aku tidak melakukan permohonan tadi, kenapa tiba-tiba dikabulkan permohonan! Hei!” Qiram mengguncang guci emas itu.
“Wwooii, guci!” Qiram memasukkan sedikit kepala dan wajahnya ke mulut guci sambil berteriak memanggil-manggil guci. Sayangnya, hanya terdengar suaranya saja yang menggema. Guci itu hanya hening, layaknya benda mati.
“Sialaan! Cuma satu pertanyaan selama satu hari? Hah?” Tau gitu aku tanya hal penting lainnya, ck!” Qiram kesal dan merutuki dirinya. Lagi-lagi dia ceroboh.
__ADS_1
Ia teringat permintaan pertamanya adalah berjalan, hingga ia terkena hukuman. Akan tetapi, barusan ia tidak mendapatkan hukuman, hanya diberi hadiah setiap bertanya.
“Wah, di pikir-pikir, enak juga hidupku ini! Cuma bertanya, dapat hadiah!” Qiram tersenyum sendiri, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang spring bed king miliknya.