Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Di Hotel


__ADS_3

Qiram terbangun dengan tubuh yang tak memakai baju di sebuah hotel yang dibilang sederhana, mungkin biaya sewa semalamnya hanya 300 ribu rupiah. Satu set kamar tidur dengan kamar mandi di dalam, tak ada pemandangan indah di luarnya dari kaca yang sedikit tersibak untuk mengintip yang tertutup oleh gorden berwarna cream, satu lemari pakaian dengan meja rias, satu pot bunga hiasan di sudut kiri kamar.


Mata Qiram terbuka perlahan, ia masih setengah sadar, dengan rasa pening yang masih berdenyut di kepalanya. Ia masih memandang ke sekeliling kamar, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Sepertinya ada seseorang yang mandi.


“Apakah Guru?” gumam Qiram. Perlahan ia mencoba hendak bangkit dari posisi tidurnya. Akan tetapi, rupanya kaki Qiram terikat dengan borgol yang diborgolkan ke tiang sudut kaki ranjang yang terbuat dari kayu. Tiang itu sedikit menonjol di setiap sudut ya bulat seperti bola kasti. Dan ... satu hal yang lagi baru ia sadari, tangannya juga terborgol.


“Ah! Apa ini? Apa aku ditangkap oleh Soleman?” Qiram mulai panik. “Sial! Bukannya aku tadi makan dengan Nona Marissa?” Qiram menarik-narik tangan dan kakinya yang terborgol.


Tak lama, keluarlah seorang gadis cantik dengan baju handuk nya, kepalanya tergulung dengan handuk, belahan dadanya begitu menggoda menyembul keluar setengah.


Qiram menoleh padanya yang disambut dengan senyuman hangat. “Kamu sudah sadar Tuan Qiram?” tanya Marissa, tetapi dia masih santai menggosok handuk yang baru ia lepaskan dari gulungan rambutnya, kemudian menggosokkan handuk itu pada rambutnya agar kering. Berbeda dengan Qiram yang tampak syok, tubuhnya telah dilihat oleh seorang wanita dengan sempurna, termasuk benda pusakanya yang kini masih layu juga terlihat.


‘Aaarrrgggghhhh!’ Qiram malu sekali. Wajahnya berubah merah.

__ADS_1


Marisa berjalan dengan berlenggak-lenggok ke arah barang-barang nya, mencari hair dryer mini yang ada dalam perkakas nya yang cukup besar dan penuh terisi barang-barang. Ia mencolokkan pengering rambut itu ke lubang colokan listrik dan mengeringkan rambutnya dengan sempurna.


Qiram masih melihat dan memperhatikan apa yang dilakukan wanita itu dengan berkata. “Nona, kenapa aku terborgol begini? Apakah tadi aku melakukan sesuatu yang buruk setelah kita makan dan minum-minum?”


Qiram mengingat saat ia makan tadi, memang ia tiba-tiba pusing, namun ia hanya meminum seteguk arak, itu tidak akan membuatnya mabuk, biasanya ia menghabiskan dua botol semalam sendirian tidak mabuk. Akan tetapi, kini ia benar-benar tidak ingat apapun, tau-tau sudah terborgol di ranjang dengan ke adaan bugil tanpa busana begini, tubuhnya pun tak ditutupi selembar selimut pun, dan baru ia sadari dirinya sudah terborgol, sangat memalukan!


“Iya!” jawab Marissa singkat.


“Maafkan saya, Nona. Bisakah kau melepaskan borgolan ini? Kita bisa membicarakan ini dengan ... em, maksudku, aku tak enak dalam keadaan bugil seperti ini! Bisa 'kan?” Qiram menatap memohon pada Marissa.


“Janji?” Qiram mengernyitkan keningnya.


“Iya, janji! Janji Anda akan bercinta semalam penuh ini dengan saya!”

__ADS_1


“Apa?” Qiram membulatkan matanya, Marissa tampak jengah, mengabaikan expresi Qiram yang tak percaya.


“Maafkan ketidaksopanan saya pada Anda Nona, sepertinya saya sangat mabuk mengucapkan kalimat tak senonoh itu pada Nona. Anda sangat cantik dan sexsy, pikiran mesum dan buruk saya menjadi liar saat mabuk,” jelas Qiram merasa tak enak hati. Ia berpikir, pasti mulutnya mengucapkan beberapa ucapan yang tak pantas tadi saat mabuk.


“Aku tidak merasa tersinggung, aku memang menginginkannya, ingin tidur dan bercinta denganmu!” jawab Marissa serius.


Ia menoleh pada jam, menyisir rambutnya, menyemprotkan farfum dengan aroma sensual yang sangat memikat ke tubuhnya.


“10 menit lagi!” ucapnya. Setelah berkata seperti itu, dia duduk memejamkan mata, Qiram terus melihat dan mengoceh meminta dilepaskan borgolannya, menjelaskan situasi yang tak sengaja ini. Ia tak berniat berkata tak senonoh seperti itu terus menerus, hingga Marissa kembali menoleh pada jam di layar hp nya.


“Sudah waktunya!” ujarnya. Lalu menarik pengikat baju handuknya, menjatuhkan baju itu ke bawah, menunjukkan tubuhnya yang sangat menggoda dan menggairahkan terpampang mulus tanpa penutup.


Qiram terkejut luar biasa, antara cemas dan berdebar melihat pemandangan indah itu. Perlahan Marisa naik ke ranjang, merangkak di atas tubuh Qiram yang polos tanpa pakaian dengan tangan dan kaki terborgol.

__ADS_1


“No-No-Nona, An-Anda mau apa?” Qiram tergagap. Dia menelan salivanya beberapakali, adegan ini membuat darahnya berdesir.


__ADS_2