
Qiram menyusuri semua bangunan, alat-alat yang bahkan sudah dibenamkan dalam tanah, pipa besar, besi-besi besar, kabel, dan lainnya.
Qiram dari kehidupan lalu hingga kehidupan masa kini, masih saja memiliki IQ rendah, seseorang yang tidak pintar. Dia benar-benar tidak tahu apapun, yang dia andalkan hanya uang sebagai senjata utamanya. Untung saja dikehidupan kedua ini, dia memiliki guci emas yang membuatnya memiliki banyak uang.
‘Beruntung sekali aku bertemu dikehidupan pertama dengan dia, dan dikehidupan kedua ini, aku bisa membalas budiku!’ Qiram terus bergumam sambil melihat wajah Ranto yang manis, dia sama sekali tak mengerti dengan penjelasan Ranto. Otaknya tidak sampai untuk memahami penjelasan yang dijabarkan oleh Ranto, tetapi dia pura-pura mengangguk, seolah dia paham.
Tak lama, Jecky pun sampai. Dia berjalan mendekat pada Qiram dan Ranto. “Guru sudah sampai?” sapa Qiram. Jecky mengangguk.
“Aku serahkan semuanya padamu Ranto, jika ada apa-apa hubungi aku. Oh ya, kau harus jaga kesehatan, jangan terlalu bekerja keras, kesehatan dan keselamatan karyawan pentingku yang utama, kau paham 'kan?” Qiram tersenyum.
Ranto tersenyum tulus. “Terimakasih, Pak Qiram. Saya akan bekerja keras dan menjaga kesehatan saya!”
“Ok. Aku juga akan memesan sticker name untuk papan reklame nama perusahaan kita. Di sana beberapa hari lagi akan di pasang!” tunjuk Qiram pada bangunan yang sudah selesai dan siap digunakan beberapa hari lagi, sedangkan yang lainnya ada yang hampir selesai, masih tahap pembangunan, dan perbaikan.
“Iya, Pak!” jawab Ranto hormat.
Jecky dan Qiram pun berlalu pergi dari sana, langsung menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Hafisa sudah siuman dan sadar, dia berbincang-bincang dengan Hafisa sambil menyuapi makan wanita itu dengan nasi lembek dicampur sayur bayam dan lauk sup ikan buatan pihak rumah sakit.
“Selamat ya Hafisa, kamu melahirkan bayi laki-laki,” ucap Qiram tersenyum tulus sambil menyuapinya makan. “Oh, ya, aku sudah menyiapkan nama untuknya. Aku beri nama Raja, biar dekat gitu sama bayi Pangeran,” lanjut Qiram tersenyum senang.
__ADS_1
“Nama yang bagus,” puji Hafisa.
Setelah makan, mereka berbincang-bincang ringan diselingi dengan tertawa. Lil O setelah kedatangan Qiram, dia langsung pergi bersama Jecky.
Jecky kembali pulang ke rumah karena ada Gippong yang sakit dan bayi Pangeran. Sedangkan Lil O langsung pergi ke kedainya yang sudah cukup lama ia tinggalkan.
“Aku sudah pesan sup ikan gabus pada Lil O, supaya karyawannya mengantarkan kemari. Sup ikan gabus baik untuk luka bekas operasi, dan aku juga sudah memesan obat agar lukanya cepat kering, jadi jangan risau ya!” Qiram merapikan bantal, lalu menaikkan sedikit badan ranjang pasien agar bisa setengah duduk dengan memutar ganggangan dibagian ujungnya untuk naik.
“Berbaringlah duduknya, bersandar di sini. Nanti kamu bisa pusing kalau duduk seperti ini terlalu lama!” pinta Qiram sambil membantu Hafisa yang duduk dengan punggung tegak.
“Qiram.”
“Tidak, aku sangat bahagia dan sangat berutang budi padamu, kau adalah pria terbaik di seluruh hidupku yang pernah kutemukan, makasih Qiram.”
Qiram tersenyum mendengarkan, merapikan rambut Hafisa yang terhimpit. “Anggap saja aku hanya membalas budi juga padamu, jadi sekarang aku dan kamu sudah himpas hutang budinya, karena kamu sudah melahirkan bayi untukku.”
Deg! Perkataan itu terdengar sangat manis, namun mengandung arti berbeda. Dan kini... Hafisa tersenyum pahit, benar, dari awal dia telah menjual anaknya pada Qiram. Dia ingin membunuh bayi itu awalnya, tetapi Qiram melarang dan mempertahankan.
“Qiram, kenapa kau--- menginginkan bayiku?” Rasanya kerongkongan Hafisa tercekat menanyakan itu, dadanya terasa sesak. Tiba-tiba dia tak ingin kehilangan anaknya.
__ADS_1
Qiram tersenyum manis. “Bukankah waktu itu sudah kita bahas Hafisa, aku akan membantumu menjadi artis, aku sebenarnya ingin memberikan kejutan padamu, tetapi karena kita sudah membahas ini, maka akan aku katakan. Hafisa, dengar, aku sudah membuat bangunan untuk agensi mu. Aku akan membantu dan mendukung cita-cita mu, kau ingin jadi artis terkenal 'kan?” Qiram menatap dalam manik mata Hafisa.
“Mungkin satu bulan lagi bangunan itu akan selesai, aku akan mencari orang-orang yang akan bekerja di bawah naunganku untuk kepentinganmu. Selama itu, semoga kau cepat kuat dan sehat, sehingga bisa memulai karir. Aku juga sedang membangun ruangan khusus untuk Raja dan Pangeran di sana. Jadi, kau bisa menyusui dan merawat anak-anak di sana.”
Mendengar itu, air mata Hafisa mengalir sendiri. Kenapa dia tidak bertemu pria baik ini saja, kenapa harus dengan kekasihnya yang jahat dan tak bertanggungjawab itu. Jika saja dia melakukan hubungan terlarang itu bersama Qiram, pasti dia sangat bahagia dan merasa beruntung. Begitulah pikir Hafisa sekarang.
“Sudah, jangan menangis!” Qiram langsung memeluknya. “Kau baru saja melahirkan, tidak baik jika kau menangis, itu bisa merusak kesehatanmu! Nanti Raja tak bisa menyusu padamu karena kau tidak sehat, berhentilah menangis!”
Hafisa tak menjawab, tetapi dia langsung memeluk Qiram erat, membenamkan wajahnya di dada Qiram. ‘Aku jatuh cinta padamu Qiram, aku takut kau membuangku!’ batin Hafisa dalam hati. Jujur saja, semenjak ia merasakan perhatian Qiram, ia mulai tertarik dan kagum.
Lalu rasa kagum dan tertarik itu berubah jadi suka, rindu, dan cinta. Hingga rasa takut dibuang Qiram selalu menghantuinya setiap saat. Waktu dia terjatuh seminggu yang lalu, itu semua karena dia sangat rindu dan khawatir dengan Qiram, sehingga dia berlari dan terjatuh, tetapi tak ada yang tahu dia terjatuh saat itu. Dia meringis dan menahan sakitnya, dia tak ingin membebani pria yang dia cintai.
Akan tetapi, kini pria itu berkata membangun bangunan untuk agensinya, agar dia bisa berkarir dan menjadi artis seperti cita-cita nya dahulu? Membuatkan ruangan khusus untuk putranya? Dia berpikir setelah melahirkan, Qiram akan mengambil putranya dan membuang dirinya. Bagaimana tidak semakin jatuh cinta dia pada pria yang dipeluknya ini. Sikap dan perkataannya, serta tindakannya, membuat Hafisa semakin jatuh cinta setiap detiknya.
Sedangkan Qiram, tak merasakan apapun, dia hanya ingin membalas budi.
...----------------...
Hallo, terimakasih ya reader, selalu menunggu dan membaca cerita ini. Saya merasa senang dan bahagia atas semngat yang kalian berikan. Terimakasih karena sering mengingatkan saya tentang beberapakali kesalahan saya dalam menulis seperti typo.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ya, like dan komentar serta hadiahnya... 🙏🌹🌻🌹💓💖