Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Bertemu Jingga Mutiara


__ADS_3

Soleman terpikirkan dua wanita saat ini, yang pertama Mpok Linda, yang kedua Jingga Mutiara yang sering dipanggil Lenggo.


‘Apa aku minta bantuan Mpok Linda aja?’ pikir Soleman.


Akhirnya dia memutuskan pergi ke sudut kota, pemukiman rapat penduduk yang sangat berantakan dan sedikit kumuh. Air-air got berwarna hitam, kain-kain yang terjemur siang dan malam memenuhi atap, jendela dan gang-gang, anak-anak dekil yang berlarian dengan liar, ada yang mencuri, mencopet, berdagang asongan dan lainnya.


Hingga, tibalah dia di depan rumah Mpok Linda, rumah yang paling besar dan paling bagus di sana. Suaminya bekerja jadi tukang aman di pasar, sambil berjualan ayam potong dari pagi hingga siang. Sedangkan Mpok Linda membuka kos-kosan, toko sembako, dan kredit simpan pinjam.


“Sore, Mpok,” sapa Soleman ramah.


“Iye, ngapa lu sini?” tanya Mpok Linda ketus.


“Anu Mpok, ane mau minta tolong!”


“Ape?”


“Ane butuh beberapa gadis dan anak-anak, ada yang-- gak ribet Mpok?” Soleman setengah berbisik dan mencondongkan tubuhnya pada Mpok Linda.


“Buseeet, lu makan ape aje, bauk bener tuh mulut!” Menutup hidung sambil tangan dikibas-kibas. “Buat apaan pare gadis ame anak-anak?”


“Bisnis, Mpok!”


“Lu mau jual mereka? Jadi irt apa psk? trus anak-anak buat ape? Paksa jualan asongan apa nyopet?”


“Heheh, Mpok tau aje!” Soleman cengengesan.


“Gue kagak tahu! Pergi lu sane, cari sendiri!” Mpok Linda berwajah kesal dan mengusir mereka.


“Siaaal, sepertinya aku memang harus mencari dia!” Soleman pun berkeliling di tempat itu, tak ada anak atau pun wanita yang bisa di bawa karena mereka semua tampak waspada, dan... anak-anak dekil yang berlari liar itu tak bisa sembarangan ditangkap, karena mereka memiliki Boss besar juga, Soleman tak ingin tersandung masalah.

__ADS_1


Hingga dia menemukan Lenggo yang baru pulang bekerja, dia sekarang menjadi kasir di sebuah supermarket.


“Swit, swit!” Soleman bersiul-siul menggoda Lenggo yang berjalan melenggok, dia sama sekali tidak takut dengan Soleman, karena mereka berpacaran. Lebih tepatnya, dipaksa berpacaran.


“Sayang, hari ini kau cantik sekali!” puji Soleman, langsung memagut bibir Lenggo dengan rakus, melilit dan memelintir, memasuki setiap rongga mulut gadis itu sampai sesak nafas dan penuh dengan jigong.


Bawahan Soleman hanya bisa mengalihkan pandangan ke tempat lain, karena jujur beberapa kali mereka harus menelan saliva, mereka juga menginginkannya.


“Sayang, ayo kita ke kostmu!” ajak Soleman.


Lenggo mengangguk. “Kalian ikuti aku!” seru Soleman.


“Hah? Yang benar saja Boss!”


“Ya, cepat!” balas Soleman.


Tak lama, mereka sampai di kost Lenggo. Soleman mulai melanjutkan aksinya menjelajahi tubuh sang kekasih, setelah menyatu dan puas sampai menyemburkan buah hasratnya, dia bersandar dan berkata pada Lenggo.


“Sayang, Abang butuh wanita dan anak-anak, tetapi belum bisa mendapatkannya, jika Abang tidak dapat, Abang akan dibunuh....” Soleman memakai wajah memelas.


“Lalu, gimana Bang?”


“Apa kamu mau bantu Abang, Sayang?”


“Iya, jika aku bisa bantu Bang,” balas Lenggo.


“Kamu bisa Sayang. Cukup kamu saja yang Abang bawa ke Boss.”


“Maksud Abang gimana? Abang mau jual aku jadi Psk?” Lenggo langsung bangun dari tidurnya, duduk menatap Soleman lekat.

__ADS_1


“Iya, karena itu, kamu latihan dulu sama anak buah Abang, supaya nanti kamu bisa nyenangin Boss Abang!”


“Ti-”


“Kalian semua, masuk!” perintah Soleman memotong ucapan Lenggo.


“Iya, Boss!” Mereka masuk. Lenggo menarik selimut mencoba memakai baju.


“Bermainlah dengan pacarku!”


“Hah?”


Walupun mereka terkejut, tetapi mereka tidak melewatkan kesempatan bersenang-senang itu. Lenggo berteriak minta tolong, menjerit, memekik, tak ada yang datang menolong. Tak ada!


“Lepaskan aku! Abang--- bukankah Abang bilang sangat sayang padaku, apa ini....” Lenggo menangis.


Dia pingsan dan terkapar, tapi masih di gagahi oleh beberapa bawahan Soleman yang belum mendapatkan jatahnya. Sedangkan Soleman sibuk melakukan rekaman video Lenggo yang di jamah.


“Kurasa ini bisa membuat Boss sedikit senang,” gumamnya.


“Setelah ini, bersihkan dan ganti bajunya, bawa dia ke markas utama Boss Besar!” perintah Soleman.


“Baik Boss!”


Setelah berkata begitu, Soleman memakai pakaiannya, menghidupkan rokok dan berjalan santai, melihat-lihat jika saja bisa menculik anak siapapun!


Dengan keadaan yang sangat miris, tubuh Lenggo yang sedang pingsan masih di gagahi dengan kasar. Setelah itu, dipakaiankan baju dan di bawa ke markas utama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2