Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Malam Panjang


__ADS_3

Warning! Bab keras! Untuk 21+


“Aku? Tentu saja ingin bercinta denganmu!” jawab Marissa masih dengan wajah datar, wajah yang tak cocok ia tunjukkan jika ia ingin menghabiskan malam dengan Qiram dengan tangan dan kaki yang diborgol, seharusnya wajahnya menggoda dengan gerakan tubuh sexsy, bukan datar dan dingin begini.


“No-Nona, maafkan saya!” Qiram gugup sekali.


“Saya akan memaafkan Anda, setelah Anda membuat saya hamil!” Marissa langsung mencium bibir Qiram.


Qiram tegang, kaku, terkejut luar biasa, dia dicium wanita super cantik dan sexsy. Apalagi benda pusakanya yang layu tadi malah terbangun, dia sangat normal sekali!


Masih dengan wajah dingin dan datar, Marissa melepaskan ciuman bibir dan menatap Qiram yang bibirnya masih setengah terbuka, mata pria itu sudah tampak berkabut gairah. Lagi, Marissa mencium bibir Qiram lebih dalam dengan sapuan lidah yang mumpuni.


Sebagai lelaki normal, tak perlu masuk ke dalam kelas untuk belajar ciuman, Qiram langsung pandai dan membalas ciuman itu tak kalah bersemangatnya dari Marissa melalui insting kelelakiannya. Marissa melepaskan ciuman bibir itu, pindah ke pipi, lalu ke samping di daun telinga dan turun ke bawah telinga Qiram.


Selanjutnya, ciuman itu turun ke leher Qiram, kemudian naik kembali ke bibir Qiram, benar-benar membuat akal sehat Qiram tenggelam, dia mabuk dengan ciuman itu, hingga benda pusakanya telah berdiri tegak, siap untuk merambas hutan rimba milik Marissa.


Marissa semakin menjadi, setelah mencium bibir Qiram, ciuman itu turun ke dada dan pucuk dada Qiram. Pemuda itu menggigit bibirnya menahan rasa geli yang bergejolak. Wanita itu terus mencium turun dan sampai pada titik yang membuat Qiram mengeluarkan suara melenguh tak tahan.


“No-Nona! Haaah!” Qiram melayang-layang saat Marisa bermain di bawah sana, ibu jari jempol kakinya sampai menekuk kuat ke bawah, ia ingin menarik Marissa. Akan tetapi tangan dan kakinya terikat borgol, ia tak berdaya, ia hanya bisa melenguh dan mendesis.

__ADS_1


“Malam ini, demi anak kita!” Marissa masih dengan wajah dinginnya berkata. Lalu, mulai duduk tepat di atas benda pusaka milik Qiram, memainkannya, hingga masuk ke dalam surga dunia.


Permainan itu di mulai oleh Marissa tetapi diakhiri oleh Qiram yang dilepaskan oleh Marissa borgolannya. Mereka berdua menghabiskan malam panjang dengan sensasi yang luar biasa.


Di sepanjang malam, saat Qiram membalik posisi, dimana dirinya yang ada di atas dan tubuh Marissa di bawah, tiba-tiba kepalanya pening, namun tubuhnya masih bereaksi dengan sempurna mencari ke-puas-an.


Bayangan peristiwa terlintas dalam pikirannya, ia memegang kepalanya sebelah, namun satu tangan masih menopang badan agar tidak menindih tubuh Marissa penuh, dengan gerakan yang masih berirama.


Peristiwa dimana dia juga meniduri seorang gadis dalam keadaaan mabuk, namun dalam peristiwa itu dia yang mem-per-kosa gadis itu hingga pingsan, ia tak bisa melihat dengan jelas potongan memori itu.


“Aaaaaah!” Kepalanya berdenyut dengan hebat, kepalanya merasa sangat sakit beriring dengan menyebarnya para bibit bayi di rahim Marissa.


Qiram beringsut mundur, masih menopang kepalanya, lalu roboh tak sadarkan diri.


Pagi hari, Qiram terbangun dengan badan yang terasa sakit dan remuk. Dia melihat sekeliling, masih di tempat yang sama, tetapi bedanya tangan dan kakinya tidak terborgol. Ia langsung berdiri dan mengintip ke kamar mandi, tak ada siapapun.


“Ah, aku hanya bermimpi, ck!” gumam Qiram tersenyum kecil menertawakan dirinya yang baru saja dianggapnya bermimpi basah.


Ia kembali berbalik, di atas meja nakas di samping ranjang, ada baju yang terlipat rapi dengan tulisan. “Terimakasih Sayang, lain kali kita berjumpa lagi, Marissa!”

__ADS_1


Qiram mengedipkan matanya beberapakali, memastikan bacaan di potongan kertas itu benar. “A-apa aku beneran tidur dengan wanita cantik pacar Roki Albusro itu, hah?!” Ia tidak percaya sama sekali.


Qiram meraih handuk yang tergantung di hanger, masuk ke dalam kamar mandi, dan ternyata semuanya adalah benar, bukan mimpi. Dia bisa melihat, bagaimana tubuhnya penuh dengan tanda merah di depan cermin.


“Gila! Aku benar-benar melepaskan keperjakaanku dengan wanita cantik dan sexsy, sial! Kenapa harus dengan keadaan setengah mabuk dan pening sih!” Qiram bergumam-gumam merutuki dirinya. “Ah, bagaimana ini?” Antara kesal, malu dan berdebar. Kini, dia malah tersenyum sendiri membayangkan malam pergumulan tadi.


Setelah mandi, ia memakai baju yang sudah disiapkan Marissa. Lalu, hendak keluar kamar. Tepat, di depan pintu, ia terkejut, Jecky, sang guru sudah berdiri tegak di sana.


“Gu-guru!” Qiram gelagapan.


Jekcy tersenyum. “Anda sudah bangun Tuan Muda, apakah Anda ingin kembali ke rumah atau ingin ke suatu tempat?” tanya Jekcy.


“Em, kenapa Guru ada di sini?”


“Tadi, pagi-pagi sekali Nona Marissa menghubungi saya untuk menjemput Anda di sini,” jawab Jekcy masih dengan tersenyum.


“Oh,” Wajah Qiram semakin memerah, malu sekali, saat membayangkan Gurunya mengetahui apa yang ia lakukan tadi malam dengan Marissa.


“Nona Marissa bilang, Tuan Muda mabuk, jadi dia mengantarkan Anda ke sini, sekalian dia ada urusan juga dengan pihak hotel sini. Dia menghubungi saya dengan nomor Anda, karena dia tidak tahu alamat rumah Anda. Itu karena saya sebelumnya menelfon Anda. Katanya, hp Anda terkunci, jadi dia tidak bisa membuka kode hp itu untuk menghubungi seseorang,” terang Jecky tanpa Qiram minta penjelasan.

__ADS_1


“Oooh, begitu!” Qiram tampak tersenyum lega setelah mendengar penjelasan gurunya, Jecky.


...----------------...


__ADS_2