Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Asyifa Melati


__ADS_3

Cucu Professor Azrul bernama lengkap Asyifa Melati. Sering dipanggil Melati oleh Kakeknya.


Pagi ini, Prof. Azrul bersiap pergi berkunjung ke perguruan tinggi swasta, untuk memberikan materi tentang molekul dan atom-atom pada mahasiswa-mahasiswi baru.


“Sarapan dulu, Kek. Aku sudah buatkan bubur ayam dan teh hangat rendah gula.”


Kakek itu pun makan bubur ayam dan teh hangat sebagai menu sarapan paginya.


“Kamu yang baik di rumah ya, selesai berjualan langsung pulang jangan keluyuran. Kakek akan pulang sore hari!” titah Prof. Azrul.


“Iya, Kek.”


Setelah sarapan, Prof. Azrul pun bersiap-siap karena sudah ada sopir dari perguruan tinggi swasta itu menjemputnya.


“Kakek pergi dulu,” ucapnya mengulurkan tangan.


“Iya, Kek.” Melati mencium punggung tangan kakeknya.


Setelah kepergian Prof. Azrul, Melati langsung mengunci rumah, pergi ke warung sambil membawa dagangannya. Dia menjual sarapan pagi serta gorengan yang sudah dibungkus-bungkus dari rumah. Dia hanya menyewa lapak sebesar 1x2 meter saja untuk satu buah meja panjang.


Waktu sudah menunjukkan siang, terik matahari sudah panas. Sisa makanan Melati masih ada sedikit lagi, namun tentu saja gorengan dan nasi goreng yang dibungkus di dalam styrofoam itu sudah dingin.

__ADS_1


“Masih sisa 6 bungkus lagi, gorengannya tiga bungkus lagi. Apa aku kasih ke anak-anak pengamen di jalan aja kali ya? Tapi, aku takut jika jumpa sama anak jalanan yang nakal.”


Melati menunggu sampai dua jam, masih tidak ada yang membeli dagangannya. Hingga dia memutuskan untuk berkemas, membawa sisa makanannya ke arah terowongan. Dimana banyak anak-anak jalanan berkumpul.


“Hai, adik, sini!” Melati memanggil dua anak kecil yang sedang memegang ukulele.


“Kalian sudah makan?” tanya Melati. Mereka berdua menggeleng.


“Kakak ada sedikit makanan nih, tetapi sudah dingin. Jika kalian mau, ini untuk kalian,” Melati memberikan sisa nasi goreng dan gorengan dari dagangannya kepada mereka berdua.


“Makasih Kak,” jawab ke dua anak itu menerima kresek berisi makanan dengan tersenyum senang.


“Eh, tunggu, apa yang kalian bawa?” tanyanya lagi.


“Kak, cepat pergi! Lari!” ucap dua anak bocah laki-laki itu memperingati Melati. Akan tetapi, Melati tidak paham, dia hanya diam melihat.


“Kak, cepat lari Kak!” usir mereka berdua.


“Kakak ini cuma kasih kami makanan,” bela mereka berdua, berharap Melati segera berlari dari sana.


Melati selama ini polos dan selalu dilindungi oleh Kakeknya. Walaupun Kakeknya tua, tetapi kakek itu cukup berkarisma dan selalu perhitungan, tidak pernah pergi ke tempat sembarangan. Apalagi menemui anak jalanan di terowongan. Adapun biasanya Melati memberikan makanan, hanya pada yang mereka lewati saja, bukan mencari seperti yang dilakukan Melati kali ini.

__ADS_1


“Eh, mangsa cantik. Mau main sama Abang, Neng?” Tiga pemuda itu mulai mendekat.


“Kak lari!” teriak dua bocah itu. Mereka mendorong tiga pria itu. “Cepat Kak!"


“Hah, terus kalian?" tanya Melati.


“Jangan pikirkan kami, Bodoh! Pergi sana!” Salah satu bocah itu memaki kebodohan Melati.


Melati gagap, dia langsung berbalik dan berlari. Dua bocah itu mencoba menghalangi dan membantu Melati. “Sialan kalian berdua!” Tiga pria dewasa itu menepiskan bahkan menendang dua bocah itu.


Melati berlari sampai terbebas dari terowongan, dia sampai di persimpangan jalan raya. Sayangnya, dia masih di kejar, tidak ada satupun yang berniat menolongnya. Orang-orang yang melihat hanya diam saja karena takut dengan tiga pemuda dewasa itu. Mereka adalah preman besar terowongan.


Akhirnya, Melati tertangkap. Rambut panjangnya di tarik paksa. “Akh! Sakit! Tolong!" teriak Melati.


“Tidak ada yang akan menolongmu di sini, Neng.”


“Tidak! Tolong!” Melati meronta-ronta.


Ckit! Sebuah mobil menabrak mereka bertiga yang sedang memangku paksa tubuh Melati. Mereka bertiga tersungkur dan Melati terlepas.


“Hai Gadis! Cepat masuk ke dalam mobilku jika ingin selamat!" seru seorang pria padanya.

__ADS_1


__ADS_2