
“Hm, restoran baru. Kalau saya boleh tahu, dimana ya restorannya, Kak?” tanya Helmi sopan.
Pekerja itu pun akhirnya memberikan alamat restoran baru Lil O.
Tak menunggu lama, Helmi langsung tancap gas ke sana, sesampainya disana dia langsung bertemu dengan Lil O.
“Bang Lil, lu kok pindah kagak bilang-bilang. Padahal gue dah kasih nomor ke elu Bang. Lu kagak pernah chat,” protes Helmi langsung meninju lengan Lil O pelan.
Lil O bertambah ganteng dan perkasa sekarang, kulitnya yang eksotis, wajahnya yang tegas ala anak Medan, ditambah sekarang ototnya semakin aduhai. Tentu saja, itu power of money! Dengan banyak uang, bisa merubah tampilan fisik seseorang. Berbagai macam skin care dan produk merawat fisik.
Lil O hobi memasak, tangannya yang cekatan dan lihai memasak juga begitu menarik, hingga menarik perhatian Helmi.
Ya, gadis tomboi yang satu ini jatuh cinta pada Lil O, yang berawal dari lidah turun ke perut, lalu ke seluruh aliran darah yang berpusat di jantung dan hati.
“Hehehe, maaf Neng. Abang lupa. Neng Emi mau makan apa nih? Biar Abang buatkan dulu,” tawar Lil O.
“Seperti biasa Bang. Neng suka kalau Abang masakin Mie gomak ciri khas Medan, berasa lagi pulkam ke rumah calon mertua. Eh, Upz!” Helmi menutup mulutnya yang keceplosan karena senang bertemu dengan Lil O.
“Wah, Neng pacaran sama orang Medan ya? Marga apa Neng? Kali aja se-marga sama Abang,” tanya Lil O tersenyum, tangannya bergerak aktiv mengambil bahan-bahan untuk membuat mie gomak ciri khas Medan.
“Neng mah jomlo Bang.”
__ADS_1
“Loh, katanya tadi berasa pulkam ketemu sama camer.”
“Itu perumpamaan sih Bang. Bukan beneran!” elak Helmi.
“Oh, begitu!”
“Oh ya, Bang. Udah lama pindah ke restoran ini Bang?” tanya Helmi lagi.
“Baru juga sih, palingan sebulan lebihan lah,” jawab Lil O, tangannya masih gesit memotong dan mencincang bahan-bahan masakan.
Helmi masih saja terkesima melihat tampilan Lil O. Badan perkasa, kulit eksotis, wajah tegas dan macho, jago masak lagi, impian Helmi banget, karena dia nggak bisa memasak.
‘Jadi pengen nikahin dia deh!’ gumam Helmi melihat tangan lincah Lil O.
“Yang lama ada karyawan di sana. Di sini rencana untuk restoran utamanya.”
“Oh.” Helmi mengangguk.
Srek! Srek! Bunyi kuali dengan sendok terdengar berirama saat tangan kekar Lil O mengaduk mie gomak dengan bumbu. Beberapa menit berselang, mie gomak pesanan Helmi pun jadi. Lil O pun menyajikannya di meja yang di pilih oleh Helmi.
“Makasih Bang, ini dimasak pakai bumbu kasih sayang nggak tadi?” tanya Helmi menggoda.
__ADS_1
“Kasih sayang dan cinta, spesial untuk kamu,” jawab Lil O tersenyum.
“Ah, Abang! Bikin baper aja!” Wajah Helmi jadi bersemu merah. Niat menggoda Lil O, malah dia yang tergoda.
***
Qiram tengah memeluk guci emas, sedang meminta permohonan.
“Guci emas, tolong kabulkan permohonan ku. Aku ingin kamu menjawab tiga pertanyaanku. Inilah permohonan ku. Apakah Hafisa akan mati juga seperti Gippong dan Marissa, jika aku tidak mencintai dia juga?”
“Yang kedua, sampai kapan semua harta dan kemewahan yang aku punya ini bertahan? Apakah ini semu? Bisa hilang sewaktu-waktu, seperti saat seluruh permintaanku hilang?”
“Yang ketiga, bisakah aku melewati kehidupanku yang panjang, ataukah hanya sebatas waktu saat aku mati, tepatnya satu tahun lagi, aku akan mati di kehidupan yang lalu, karena ini sudah berjalan satu tahunan.”
Guci emas bergetar, mengeluarkan cahaya yang terang. Namun, dua batangan emas yang menempel di leher guci, satunya terikat oleh cahaya biru, sedangkan satunya lagi bergetar hebat dan terlepas.
“Selamat, permohonan Anda akan segera di kabulkan.”
Guci emas kembali mengeluarkan cahaya.
Cahaya yang tadi berwarna emas berubah perlahan menjadi putih, guci pun bergetar kecil.
__ADS_1
Setelah getaran guci itu menghilang, guci emas berubah warna menjadi hitam pekat, sepekat arang. Namun, batangan emas yang menempel di leher guci yang terikat cahaya biru itu, masih berwarna emas mengkilat dan menempel kokoh di sana.
“Loh, kenapa guci emasnya berubah?” Qiram tercengang.