Guci Emas Merubah Takdirku

Guci Emas Merubah Takdirku
Bertemu Bobi


__ADS_3

“Ya, benar, ini menjadi milik Anda mulai sekarang Tuan Muda,” jawabnya.


Qiram merasa sangat beruntung. Mansion besar, megah, mahal, menjadi miliknya, bahkan ada helikopter di atas bangunan itu terparkir.


“Aku punya rumah, rumahku juga jauh dari sini, usahaku juga ada di sana,” gumam Qiram.


“Tuan Muda tenang saja, kami semua adalah pelayan Anda. Kami akan menjaga mansion ini dengan sangat baik. Jadi, Anda tak usah khawatir. Oh ya, jika Anda ingin berkeliling kota Intan, saya bisa menemani Anda untuk melihat-lihat.”


“Wah, rezeki nomplok nih! Baiklah. Aku memang ingin mengunjungi beberapa tempat!” jawab Qiram.


Akhirnya, Qiram dan pria yang memakai setelah jas hitam itu mengelilingi kota intan dengan mobil sedan berwarna black. Sedangkan mobil Lamborghini Veneno milik Qiram masih ada di bagasi mansion.


“Tuan Muda, Apakah Anda ingin melihat pemandangan, berbelanja atau mencari kuliner?” tanyanya menatap dari kaca di depan.


“Semuanya!” Qiram tersenyum.


“Baiklah!”


***


Tak terasa, Qiram menghabiskan waktu tiga hari berkeliling kota Intan dan malamnya ia tidur di atas ranjang empuk berlapis emas di mansion yang dia beri nama Lucky house. Dia membeli banyak barang untuk oleh-oleh yang akan dia bawa pulang ke rumah.


“Aku pamit dulu!”

__ADS_1


“Hati-hati, Tuan Muda!” Semua pelayan merunduk hormat, mobil Lamborghini Veneno miliknya sudah dikeluarkan oleh pengawal.


Qiram masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya kembali pulang ke rumah. Saat menyetir, dia bersiul-siul karena hati yang bahagia, sayangnya di tengah jalan kebahagiaan itu jadi memudar.


Tiba-tiba di jalan sepi, ban mobilnya bocor.


“Hohohoho, rupanya kau!” Terdengar suara yang familiar di telinga Qiram. “Kau semakin angkuh dan sombong sekarang ya, apalagi setelah menjadi simpanan tante-tante! Bergaya dengan membawa mobil tantemu ya!” hina pria tonggos dengan rambut ikal itu.


“Hahahha! Tentu Bos, kalau tidak dari mana pria buruk dan gendut seperti dia bisa punya mobil mewah, di tambah dia 'kan aslinya miskin dari pinggir desa Canayu!” Satu pria di belakangnya menambahkan ejekan.


“Oh, jadi ini perbuatan kalian? Sengaja menyebar paku di jalan? Agar bisa memalak orang?” Qiram menatap tajam.


“Wah, dia sudah pintar sekarang, Bos! Hahahaha! Satu lagi berkata dengan tertawa.


“Bukannya kau sudah ku antar ke kantor polisi?”


“Hahaha! Kantor polisi? Polisi itu orang-orang Bang Soleman semua! Mereka akan melepaskan kami kembali, Bodoh, ahahahaha!” Roni menjawab.


“Kau mau pulang dengan badan utuh atau cidera? Kalau utuh, tinggalkan dompet dan kunci mobilmu! Kalau tidak mau, kau tahu akibatnya 'kan?” Bobi berkata dengan berlagak.


“Oh, coba saja, raih dariku!” Qiram menantang.


Ya, Qiram jauh lebih kuat dan berani sekarang, dia hanya sedikit trauma pada Soleman saja, namun tidak pada cecunguk-cecunguknya.

__ADS_1


“Bajiingaan! Jangan berlagak! Beri dia pelajaran, dia sendirian sekarang, tidak ada kawannya yang bermata sipit itu!” perintah Bobi, dia merasa senang karena Qiram sendirian, tak ada Jecky.


“Hiyaaa!” Qiram langsung menyambut dia tangan Feri dan Roni, memelintir ke belakang, sehingga kedua tubuh pria itu juga berputar. Qiram langsung mempererat pelintiran kedua tangan itu.


“Aaakh!” teriak Feri dan Roni.


Bugh! Qiram menendang pantat Roni sampai ia tersungkur. Lalu, memelintir leher Feri. Krek! Terdengar suara tulang patah, membuat Feri menutup mata. Entah dia pingsan atau mati.


“Serang dia, Sialaaan!” maki Bobi pada Roni. Ia mulai cemas saat melihat Feri tergeletak. “Cepat serang dan tahan dia, aku akan memanggil kelompok kita!” Bobi berlari.


Qiram mengejar Bobi dengan cepat dan...


Bugh! Qiram menendang punggungnya dengan setengah melompat tadi, sehingga dada Bobi terhempas ke jalan.


“Uhuk- Ahk-” Dia kesakitan hingga terbatuk.


“Sialaaan kau, Badak bengkak!” Masih sempat-sempatnya mengejek Qiram.


Bobi berusaha bangkit, tetapi Qiram menendang punggungnya, sehingga ia kembali tengkurap di jalan. Qiram memelintir kedua tangannya ke belakang sambil berdiri. Membuat Bobi mengerang kesakitan. “Aaakhh!”


Tidak hanya sampai di situ, Qiram memijak wajah Bobi yang sedang memiring ke arah kiri, mencoba meraih sesuatu. “Kau hanya banyak bicara dan memerintah orang, padahal kaulah pengecut sejati yang tak mempunyai kemampuan sedikitpun!” Qiram berkata dengan tatapan tajam.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2